{"id":166966,"date":"2026-02-19T11:26:23","date_gmt":"2026-02-19T03:26:23","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=166966"},"modified":"2026-02-19T11:26:23","modified_gmt":"2026-02-19T03:26:23","slug":"teluk-oman-bergejolak-rusia-china-merapat-ke-iran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/teluk-oman-bergejolak-rusia-china-merapat-ke-iran\/","title":{"rendered":"Teluk Oman Bergejolak! Rusia\u2013China Merapat ke Iran"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>TEHERAN<\/strong> \u2013 Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran memasuki fase yang kian berbahaya. Di saat Washington meningkatkan tekanan atas program nuklir Teheran, Rusia dan China justru mengirim kapal perang untuk bergabung dalam latihan militer gabungan di perairan Iran mulai Kamis (19\/02\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Manuver bertajuk Maritime Security Belt itu digelar di Teluk Oman dan Samudra Hindia bagian utara. Latihan ini bukan yang pertama, namun momentum kali ini berbeda: dilakukan ketika negosiasi nuklir Iran\u2013AS kembali buntu dan ancaman aksi militer semakin terbuka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ajudan Presiden Rusia Vladimir Putin, Nikolay Patrushev, memastikan Moskow ambil bagian dalam latihan tersebut. Ia menyebut pengerahan armada tiga negara sebagai pesan strategis terhadap dominasi Barat di laut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKerja sama ini menunjukkan bahwa keseimbangan kekuatan global tidak lagi tunggal. Kami ingin membangun arsitektur keamanan maritim yang lebih setara,\u201d ujar Patrushev dalam pernyataan yang dikutip media Rusia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia juga menyinggung meningkatnya ketegangan global yang, menurutnya, mencerminkan kembalinya praktik tekanan militer di lautan. \u201cLaut tak boleh lagi menjadi alat intimidasi satu blok terhadap blok lainnya,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari pihak Iran, juru bicara latihan Laksamana Muda Hassan Maghsoudloo menegaskan bahwa agenda ini berfokus pada stabilitas kawasan. \u201cTujuan utama kami adalah memperkuat keamanan jalur pelayaran dan mempererat koordinasi angkatan laut yang terlibat,\u201d katanya kepada kantor berita ISNA.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara itu, suasana di Washington tak kalah panas. Sejumlah pejabat pemerintahan Presiden Donald Trump memberi sinyal bahwa opsi militer terhadap Iran berada di atas meja. Seorang sumber internal Gedung Putih menyebut kemungkinan aksi bersenjata terbuka lebar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cPresiden menginginkan hasil nyata. Jika diplomasi gagal, konsekuensi lain sedang dipertimbangkan,\u201d kata sumber tersebut kepada media AS.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Trump sendiri sebelumnya menegaskan bahwa Iran akan menghadapi dampak serius jika tidak menyetujui kesepakatan baru terkait nuklir. Dalam pernyataannya kepada wartawan, ia menekankan bahwa Washington tidak akan tinggal diam melihat perkembangan program nuklir Teheran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Militer AS kini memperkuat kehadirannya di Timur Tengah, termasuk pengerahan dua kapal induk, sejumlah kapal perang, ratusan jet tempur, serta sistem pertahanan udara. Langkah ini dinilai sebagai sinyal kesiapan menghadapi eskalasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengeluarkan peringatan keras. Ia menyatakan Iran tidak akan ragu merespons setiap ancaman militer. \u201cSetiap agresi akan dibalas dengan tegas,\u201d tegasnya dalam pidato yang disiarkan televisi nasional. []\n<p>Redaksi4<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>TEHERAN \u2013 Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran memasuki fase yang kian berbahaya. Di saat Washington meningkatkan tekanan atas program nuklir Teheran, Rusia dan China justru mengirim kapal perang untuk bergabung dalam latihan militer gabungan di perairan Iran mulai Kamis (19\/02\/2026). Manuver bertajuk Maritime Security Belt itu digelar di Teluk Oman dan Samudra Hindia bagian &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":166967,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[19,2254],"tags":[],"class_list":["post-166966","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-hotnews","category-berita-internasional"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/166966","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=166966"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/166966\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":166968,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/166966\/revisions\/166968"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/166967"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=166966"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=166966"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=166966"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}