{"id":167294,"date":"2026-02-20T16:25:31","date_gmt":"2026-02-20T08:25:31","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=167294"},"modified":"2026-02-20T16:25:31","modified_gmt":"2026-02-20T08:25:31","slug":"tradisi-kesultanan-gunung-tabur-masih-hidup-jadi-daya-tarik-wisata","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/tradisi-kesultanan-gunung-tabur-masih-hidup-jadi-daya-tarik-wisata\/","title":{"rendered":"Tradisi Kesultanan Gunung Tabur Masih Hidup, Jadi Daya Tarik Wisata"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"358\" data-end=\"718\"><strong>BERAU<\/strong> \u2013 Pemerintah Kabupaten Berau kini menekankan pembangunan Kecamatan Gunung Tabur tidak hanya dari sisi fisik, tetapi juga pelestarian sejarah dan budaya kesultanan yang kaya warisan. Kawasan ini dikenal sebagai daerah bekas kerajaan yang berdiri awal abad ke-19 dengan sejarah panjang dan berbagai tradisi yang masih lestari hingga kini.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"720\" data-end=\"983\">\u201cGunung Tabur harus dikembangkan dengan menonjolkan sejarah dan budayanya. Peninggalan kesultanan, ekonomi kreatif, UMKM, hingga pelayanan dasar akan menjadi fokus pembangunan tahun ini,\u201d ujar Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, Jumat (20\/02\/2026) di Tanjung Redeb.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"985\" data-end=\"1491\">Sejarah mencatat, Kesultanan Gunung Tabur lahir dari pecahan Kesultanan Berau akibat perselisihan pewaris tahta. Wilayahnya pernah membentang hingga sebagian Kalimantan Utara dan berbatasan dengan Brunei Darussalam. Meskipun istana sempat hancur akibat serangan sekutu pada 1945, pemerintah daerah membangunnya kembali pada 1990 dan meresmikannya sebagai Museum Batiwakkal pada 1992. Museum ini kini menyimpan meriam, singgasana, dan benda-benda kuno, menjadi tujuan wisata edukatif sekaligus budaya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1493\" data-end=\"1724\">Selain museum, tradisi lokal juga menarik wisatawan. Kegiatan Baturunan Parau, gotong royong menurunkan perahu ke sungai, serta ritual Manyandru masih dipertahankan, menjadi daya tarik unik bagi wisata sejarah dan budaya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1726\" data-end=\"1913\">\u201cTradisi ini kami lestarikan dengan dukungan Pemkab Berau. Jadi bukan hanya sejarah tertulis, tapi juga praktik budaya yang bisa dinikmati masyarakat dan wisatawan,\u201d kata Sri Juniarsih.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1915\" data-end=\"2237\">Pemerintah daerah juga mendorong pengembangan Pasar Barambang, yang sejak awal 2026 menjadi pusat kuliner dan UMKM di tepi sungai dekat museum. Pasar ini beroperasi setiap Sabtu dan Minggu malam, menampilkan kuliner khas Berau dan jajanan tradisional dari berbagai daerah, sekaligus menjadi ruang promosi UMKM lokal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2239\" data-end=\"2501\">\u201cTahun ini kami lanjutkan pembangunan jalan, drainase, irigasi, normalisasi sungai, penguatan tebing, sistem air minum, serta fasilitas TPS 3R. Semua itu untuk mendukung Gunung Tabur sebagai kawasan bersejarah sekaligus destinasi wisata modern,\u201d tambah Bupati. []\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2239\" data-end=\"2501\">Redaksi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BERAU \u2013 Pemerintah Kabupaten Berau kini menekankan pembangunan Kecamatan Gunung Tabur tidak hanya dari sisi fisik, tetapi juga pelestarian sejarah dan budaya kesultanan yang kaya warisan. Kawasan ini dikenal sebagai daerah bekas kerajaan yang berdiri awal abad ke-19 dengan sejarah panjang dan berbagai tradisi yang masih lestari hingga kini. \u201cGunung Tabur harus dikembangkan dengan menonjolkan &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":167299,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[478,19,26],"tags":[],"class_list":["post-167294","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kabupaten-berau","category-hotnews","category-kalimantan-timur-kaltim"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/167294","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=167294"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/167294\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":167300,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/167294\/revisions\/167300"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/167299"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=167294"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=167294"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=167294"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}