{"id":167370,"date":"2026-02-21T10:43:57","date_gmt":"2026-02-21T02:43:57","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=167370"},"modified":"2026-02-21T10:43:57","modified_gmt":"2026-02-21T02:43:57","slug":"ramadan-di-al-aqsa-di-bawah-pengamanan-ketat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/ramadan-di-al-aqsa-di-bawah-pengamanan-ketat\/","title":{"rendered":"Ramadan di Al-Aqsa Di Bawah Pengamanan Ketat"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>YERUSALEM- <\/strong>Suasana khidmat menyelimuti kompleks Masjid Al-Aqsa, Yerusalem, saat puluhan ribu umat Muslim melaksanakan salat Jumat pertama di bulan Ramadan. Namun di balik lantunan doa, pengamanan ketat dan pembatasan akses menjadi bayang-bayang yang tak terpisahkan dari momen sakral tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salat ini menjadi yang pertama sejak gencatan senjata antara Israel dan Hamas diberlakukan pada Oktober tahun lalu. Banyak warga Palestina dari Tepi Barat memanfaatkan kesempatan itu untuk kembali beribadah di Kota Tua Yerusalem setelah sekian lama menghadapi pembatasan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meski demikian, otoritas Israel membatasi jumlah jemaah dari Tepi Barat maksimal 10.000 orang. Hanya pria berusia di atas 55 tahun, perempuan di atas 50 tahun, serta anak-anak hingga 12 tahun yang diizinkan melintas. Kebijakan itu disebut sebagai langkah pengamanan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seorang pejabat kepolisian Israel menegaskan bahwa pengerahan lebih dari 3.000 personel bukanlah bentuk intimidasi. \u201cKehadiran kami semata-mata untuk menjaga ketertiban dan memastikan respons cepat jika terjadi keadaan darurat,\u201d ujarnya, Jumat (20\/02\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bagi sebagian warga Palestina, pembatasan tersebut tetap terasa menyesakkan. Ezaldeen Mustafah, warga Tepi Barat yang berhasil memasuki Yerusalem, menyuarakan kekecewaannya. \u201cKami ingin lebih banyak saudara kami bisa salat bersama di sini. Ramadan seharusnya menjadi momen persatuan,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Wakaf Islam Yerusalem mencatat sekitar 80.000 jemaah hadir di Al-Aqsa. Angka itu jauh lebih rendah dibandingkan Ramadan pada masa normal yang dapat mencapai 200.000 orang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di Jalur Gaza, suasana Ramadan bahkan lebih berat. Banyak masjid rusak akibat konflik berkepanjangan. Warga terpaksa melaksanakan ibadah di ruang terbuka atau bangunan sekolah yang tersisa. Ramiz Firwana, seorang warga Gaza, menggambarkan kondisi tersebut dengan getir. \u201cDulu kami memenuhi masjid-masjid saat Ramadan. Sekarang, sebagian besar telah hancur,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meski berada di tengah reruntuhan, warga tetap berusaha menjaga tradisi berbuka puasa bersama. Mohammad Kollab dari Khan Younis menegaskan bahwa semangat hidup tak boleh padam. \u201cKami mungkin kehilangan rumah dan tempat ibadah, tetapi kami tidak kehilangan harapan untuk hidup dengan damai,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kompleks Al-Aqsa yang juga dikenal umat Yahudi sebagai Temple Mount memiliki makna religius mendalam bagi dua agama besar. Sensitivitas inilah yang menjadikannya kerap berada di pusat ketegangan Israel-Palestina.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ramadan tahun ini pun menjadi refleksi getir: ibadah tetap berlangsung, tetapi luka konflik masih terasa nyata. []\n<p>Redaksi4<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>YERUSALEM- Suasana khidmat menyelimuti kompleks Masjid Al-Aqsa, Yerusalem, saat puluhan ribu umat Muslim melaksanakan salat Jumat pertama di bulan Ramadan. Namun di balik lantunan doa, pengamanan ketat dan pembatasan akses menjadi bayang-bayang yang tak terpisahkan dari momen sakral tersebut. Salat ini menjadi yang pertama sejak gencatan senjata antara Israel dan Hamas diberlakukan pada Oktober tahun &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":167371,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[19,2254],"tags":[],"class_list":["post-167370","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-hotnews","category-berita-internasional"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/167370","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=167370"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/167370\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":167372,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/167370\/revisions\/167372"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/167371"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=167370"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=167370"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=167370"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}