{"id":167398,"date":"2026-02-21T12:26:36","date_gmt":"2026-02-21T04:26:36","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=167398"},"modified":"2026-02-21T12:26:36","modified_gmt":"2026-02-21T04:26:36","slug":"bocah-12-tahun-tewas-dengan-luka-bakar-ini-faktanya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/bocah-12-tahun-tewas-dengan-luka-bakar-ini-faktanya\/","title":{"rendered":"Bocah 12 Tahun Tewas dengan Luka Bakar, Ini Faktanya!"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>JAWA BARAT &#8211; <\/strong>Kasus kematian NS (12), remaja asal Desa Bojongsari, Kecamatan Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, terus bergulir. Bocah yang sehari-hari menimba ilmu di pondok pesantren itu meninggal dunia setelah ditemukan mengalami luka bakar dan lebam di sejumlah bagian tubuhnya. Hingga kini, kepolisian masih menunggu hasil akhir autopsi untuk memastikan penyebab pasti kematiannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Peristiwa bermula saat sang ayah, Anwar Satibi (38), kembali dari pekerjaannya di Kota Sukabumi. Ia mengaku meninggalkan anaknya dalam kondisi sehat. Namun dua hari kemudian, ia menerima telepon dari istrinya yang mengabarkan kondisi NS memburuk.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-167400\" src=\"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/anwar-satibi-ayah-bocah-histeris-usai-anaknya-selesai-diautopsi-1771590029881.jpeg\" alt=\"\" width=\"700\" height=\"395\" srcset=\"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/anwar-satibi-ayah-bocah-histeris-usai-anaknya-selesai-diautopsi-1771590029881.jpeg 500w, https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/anwar-satibi-ayah-bocah-histeris-usai-anaknya-selesai-diautopsi-1771590029881-300x169.jpeg 300w\" sizes=\"(max-width: 700px) 100vw, 700px\" \/>\u201cSaya dapat kabar anak saya demam tinggi dan mulai tidak sadar. Padahal waktu saya berangkat kerja, dia sehat,\u201d ujar Anwar saat ditemui di RS Bhayangkara Tingkat II Setukpa Lemdiklat Polri Sukabumi, Jumat (20\/02\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sesampainya di rumah, ia mengaku terkejut melihat kondisi fisik putranya. Kulit di bagian kaki, punggung, dan tangan tampak melepuh. Ketika ia menanyakan penyebabnya, istrinya menyebut luka tersebut akibat panas karena demam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSaya tanya kenapa bisa seperti itu, jawabannya karena panas. Tapi saya merasa ada yang tidak wajar,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kondisi tersebut membuat NS segera dibawa ke rumah sakit. Dalam proses perawatan, seorang kerabat yang dekat dengan korban sempat berbincang langsung dengan NS. Dari percakapan itu, muncul pengakuan yang mengarah pada dugaan kekerasan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cAnak itu sempat bilang kalau dia diberi minum air panas. Saya tidak ingin menuduh, tapi itu yang disampaikan anaknya sendiri,\u201d ujar Isep Dadang Sukmana (62), pembina pondok pesantren tempat NS belajar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk memastikan kebenaran, Anwar meminta agar dilakukan autopsi. Ia menegaskan langkah itu diambil demi kejelasan hukum.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSaya tidak mau asal tuduh. Kalau memang ada kesalahan, biar dibuktikan secara medis dan hukum. Kalau tidak, juga harus jelas,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kepala RS Bhayangkara Tingkat II Setukpa Lemdiklat Polri Sukabumi, Kombes Carles Siagian, menjelaskan bahwa pihaknya menemukan luka bakar di beberapa bagian tubuh korban, termasuk kaki kiri, punggung, lengan, serta area wajah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSecara kasatmata ada luka bakar di beberapa titik. Namun penyebab kematian belum dapat disimpulkan karena perlu pemeriksaan lanjutan,\u201d jelas Carles.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia menambahkan, pemeriksaan organ dalam menunjukkan adanya pembengkakan ringan pada jantung dan paru-paru. Sampel organ telah dikirim untuk uji laboratorium lebih lanjut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKami juga tidak menemukan tanda kekerasan tumpul. Semua masih menunggu hasil akhir pemeriksaan,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kasus ini masih dalam penyelidikan. Hasil autopsi dan uji laboratorium akan menjadi dasar bagi aparat untuk menentukan langkah hukum berikutnya. []\n<p>Redaksi4<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAWA BARAT &#8211; Kasus kematian NS (12), remaja asal Desa Bojongsari, Kecamatan Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, terus bergulir. Bocah yang sehari-hari menimba ilmu di pondok pesantren itu meninggal dunia setelah ditemukan mengalami luka bakar dan lebam di sejumlah bagian tubuhnya. Hingga kini, kepolisian masih menunggu hasil akhir autopsi untuk memastikan penyebab pasti kematiannya. Peristiwa bermula saat &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":167399,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[19,9359,35],"tags":[511],"class_list":["post-167398","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-hotnews","category-jawa-barat","category-berita-nasional","tag-kdrt"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/167398","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=167398"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/167398\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":167401,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/167398\/revisions\/167401"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/167399"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=167398"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=167398"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=167398"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}