{"id":168168,"date":"2026-02-25T15:30:41","date_gmt":"2026-02-25T07:30:41","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=168168"},"modified":"2026-02-25T15:30:41","modified_gmt":"2026-02-25T07:30:41","slug":"sppg-sandai-disetop-gara-gara-menu-diet-gratis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/sppg-sandai-disetop-gara-gara-menu-diet-gratis\/","title":{"rendered":"SPPG Sandai Disetop Gara-gara \u201cMenu Diet Gratis\u201d"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"205\" data-end=\"486\"><strong>KETAPANG<\/strong> \u2013 Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ketapang Sandai dihentikan sementara. Langkah ini dilakukan karena mitra pelaksana dinilai mengabaikan petunjuk teknis (juknis) dan standar Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Tahun Anggaran 2026.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"488\" data-end=\"867\">Keputusan penghentian merujuk pada Keputusan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) serta laporan khusus dari Koordinator Regional Kalbar dan Kepala SPPG Ketapang Sandai. Surat resmi dari Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN, atas nama Direktur Pemantauan dan Pengawasan Wilayah III Rudi Setiawan, menyatakan operasional dihentikan sementara tanpa batas waktu yang ditentukan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"869\" data-end=\"1045\">\u201cSPPG Ketapang Sandai untuk sementara dihentikan operasionalnya sampai ada evaluasi dan keputusan lebih lanjut dari BGN,\u201d jelas Rudi dalam surat resmi yang diterima detikcom.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1047\" data-end=\"1202\">Agus Kurniawi, Kepala Program MBG Region Kalbar, menambahkan penghentian ini juga karena pihak mitra enggan mengikuti juknis dan standar yang ditetapkan. \u201cDengan penghentian ini, distribusi MBG di wilayah Kecamatan Sandai otomatis terhenti sampai ada arahan baru dari BGN,\u201d ucap Agus, Rabu (25\/02\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1356\" data-end=\"1585\">SPPG Sandai dikelola oleh Yayasan Gemilang Usaha Kapuas, menjangkau 3.330 penerima manfaat dari 13 sekolah, mulai PAUD hingga SMA. Program ini sempat menjadi sorotan masyarakat karena menu Ramadan yang dianggap \u201cterlalu minim\u201d.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1587\" data-end=\"1792\">\u201cMenu kering yang dibagikan hanya dua pisang, tiga kurma, dan dua roti. Padahal sebelumnya kami sudah mengingatkan semua SPPG agar berhati-hati menentukan menu, agar sesuai gizi dan anggaran,\u201d ujar Agus.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1794\" data-end=\"1939\">Ia menambahkan, arahan yang diberikan seolah tidak didengar, sehingga surat penghentian diharapkan memberi efek jera bagi SPPG yang bermasalah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1941\" data-end=\"2178\">Menu \u201cDiet Gratis\u201d ini sempat membuat orang tua murid kecewa. Dari foto yang beredar, paket makanan hanya berisi lima potong kentang goreng, telur kukus, tumis wortel-jagung-kacang, beberapa butir kacang tanah, serta sepotong semangka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2180\" data-end=\"2345\">\u201cJauh sebelumnya saya sudah beri peringatan soal menu kering, tapi sepertinya tidak diindahkan. Semoga langkah ini menjadi pelajaran bagi semua pihak,\u201d tegas Agus. []\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2180\" data-end=\"2345\">Redaksi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KETAPANG \u2013 Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ketapang Sandai dihentikan sementara. Langkah ini dilakukan karena mitra pelaksana dinilai mengabaikan petunjuk teknis (juknis) dan standar Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Tahun Anggaran 2026. Keputusan penghentian merujuk pada Keputusan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) serta laporan khusus dari Koordinator Regional Kalbar dan Kepala SPPG Ketapang Sandai. &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":168169,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[19,2273,30],"tags":[],"class_list":["post-168168","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-hotnews","category-kalimantan-barat-kalbar","category-kabupaten-ketapang-provinsi-kalimantan-barat-kalbar"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/168168","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=168168"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/168168\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":168170,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/168168\/revisions\/168170"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/168169"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=168168"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=168168"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=168168"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}