{"id":168865,"date":"2026-02-28T15:31:01","date_gmt":"2026-02-28T07:31:01","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=168865"},"modified":"2026-02-28T15:31:01","modified_gmt":"2026-02-28T07:31:01","slug":"pasien-harus-didorong-lewati-lumpur-warga-kutai-barat-bersatu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/pasien-harus-didorong-lewati-lumpur-warga-kutai-barat-bersatu\/","title":{"rendered":"Pasien Harus Didorong Lewati Lumpur, Warga Kutai Barat Bersatu"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"338\" data-end=\"660\"><strong>KUTAI BARAT<\/strong> \u2013 Kondisi jalan di pedalaman Kabupaten Kutai Barat kembali menjadi sorotan publik. Di Kampung Pereng Talik, Kecamatan Bongan, warga harus bahu-membahu mengantar seorang pasien melintasi jalan berlumpur hingga mencapai ruas jalan yang telah disemenisasi, terutama saat hujan mengguyur.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"662\" data-end=\"891\">Peristiwa ini terekam dalam unggahan viral media sosial yang memperlihatkan kesulitan warga menembus medan berat demi kebutuhan layanan kesehatan. Jalan tanah yang licin kerap menghambat mobilitas, bahkan dalam kondisi darurat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"893\" data-end=\"1163\">\u201cMasyarakat Pereng Talik gotong royong mengantar warga yang sakit sampai ke jalan yang sudah disemenisasi. Di atas Pereng Talik ada empat kampung lain: Lemper, Deraya, Tanjung Soke, dan Gerunggung,\u201d tulis Hendi Roy dalam unggahannya di Facebook, Jumat (27\/02\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1165\" data-end=\"1330\">Unggahan tersebut menegaskan bahwa Pereng Talik bukanlah kampung terujung. Empat kampung lain yang lebih jauh memiliki medan lebih ekstrem dan lebih sulit diakses.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1332\" data-end=\"1516\">\u201cKalau Pereng Talik saja kondisinya seperti ini, bayangkan empat kampung di atasnya yang medan jalannya lebih ekstrim. Warganya pasti menghadapi kesulitan lebih berat,\u201d lanjut Hendi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1518\" data-end=\"1857\">Seorang warga, Medi, menambahkan bahwa kondisi jalan memengaruhi waktu tempuh aktivitas sehari-hari. \u201cDari Pereng Talik ke Simpang Petung sebenarnya tidak terlalu jauh. Kalau jalan kering dan bagus, hanya butuh sekitar 30 menit. Tapi musim hujan, jalannya berlumpur dan waktu tempuh bisa jauh lebih lama,\u201d ujarnya, Jumat (27\/02\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1859\" data-end=\"2168\">Warga berharap pemerintah provinsi dan pihak terkait segera menuntaskan perbaikan infrastruktur jalan. \u201cSemoga perjuangan Gubernur Kaltim dan jajarannya berhasil memperbaiki jalan pedalaman ini. Ini bukan soal kenyamanan saja, tapi akses layanan dasar dan konektivitas menuju Ibu Kota Nusantara,\u201d kata Medi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2170\" data-end=\"2388\">Kondisi ini menjadi pengingat bahwa pembangunan jalan di pedalaman tidak sekadar meningkatkan mobilitas atau ekonomi warga, tetapi juga menyangkut keselamatan, kesehatan, dan keterhubungan kawasan penyangga ibu kota. []\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2170\" data-end=\"2388\">Redaksi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KUTAI BARAT \u2013 Kondisi jalan di pedalaman Kabupaten Kutai Barat kembali menjadi sorotan publik. Di Kampung Pereng Talik, Kecamatan Bongan, warga harus bahu-membahu mengantar seorang pasien melintasi jalan berlumpur hingga mencapai ruas jalan yang telah disemenisasi, terutama saat hujan mengguyur. Peristiwa ini terekam dalam unggahan viral media sosial yang memperlihatkan kesulitan warga menembus medan berat &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":168866,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[19,26,483],"tags":[],"class_list":["post-168865","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-hotnews","category-kalimantan-timur-kaltim","category-kabupaten-kutai-barat"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/168865","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=168865"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/168865\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":168867,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/168865\/revisions\/168867"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/168866"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=168865"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=168865"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=168865"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}