{"id":1695,"date":"2014-06-05T01:27:25","date_gmt":"2014-06-04T17:27:25","guid":{"rendered":"http:\/\/beritaborneo.co.id\/?p=1695"},"modified":"2022-10-16T11:40:21","modified_gmt":"2022-10-16T03:40:21","slug":"biliar-jangan-dianggap-hiburan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/biliar-jangan-dianggap-hiburan\/","title":{"rendered":"&#8220;Biliar Jangan Dianggap Hiburan&#8221;"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">Ketua Pengurus Kota (Pengkot) Persatuan Olahraga Biliar Seluruh Indonesia (POBSI) Kota Samarinda, Dandri Dauri meminta semua pihak untuk bisa melihat keberadaan cabang olahraga (Cabor) biliar secara jernih. Khususnya terkait aktivitas biliar yang sampai sekarang masih dikait-kaitkan dengan hiburan, sehingga beberapa arena di antaranya harus ditutup selama Ramadan dan Idulfitri.<br \/>\n\u201cHarus diingat bahwa biliar itu bagian dari olahraga. Bukan kegiatan hiburan, perjudian dan lain sebagainya. Karena biliar itu Cabor resmi,\u201d kata Dandri kepada Sapos, kemarin.<br \/>\nMeski begitu, di sisi lain ia juga mengakui bahwa masih ada beberapa arena biliar di kota ini, yang operasionalnya dianggap berseberangan dengan norma agama, terlebih di bulan puasa. Namun ia memastikan, sebagian besar arena biliar di kota ini memang murni untuk olahraga.<br \/>\n\u201cKarena kita sekarang pakai bola besar semua. Kalau yang dulu ada banyak yang pakai bola kecil. Itu yang berpotensi digunakan untuk kegiatan perjudian,\u201d sebutnya.<br \/>\nSecara keseluruhan, dijelaskannya, ada sekitar sepuluh arena biliar di Kota Tepian yang saat ini berada di bawah binaan POBSI dengan jumlah atlet yang lumayan banyak. Arena-arena biliar tersebut nantinya direkomendasikan untuk tetap dibuka selama bulan puasa, agar para atlet tetap berlatih. Meski begitu, kata dia, di luar surat edaran yang akan diterbitkan Pemkot, Pengurus Cabang (Pengcab) POBSI Samarinda juga akan mengeluarkan edaran khusus untuk sejumlah arena biliar selama Ramadan. Intinya adalah permintaan agar aktivitas latihan tidak sampai mengganggu kegiatan ibadah puasa, termasuk dari para atlet.<br \/>\n\u201cKita minta supaya hanya buka mulai pukul 11.00 Wita hingga 16.00 Wita di siang hari dan mulai pukul 21.00 Wita hingga 01.00 dini hari,\u201d terangnya.<br \/>\nMeski begitu, menurut Dandri, sebenarnya sudah tak ada masalah lagi terkait operasional arena biliar selama Ramadan. Karena beberapa tahun belakangan, masalah ini selalu dibicarakan bersama Pemkot maupun DPRD Samarinda.<br \/>\n\u201cKita hanya minta supaya ke depan bisa diluruskan. Biar masyarakat punya pandangan bahwa biliar ini memang murni olahraga, bukan hiburan. Makanya, kita juga akan terus lakukan pembinaan. Biliar yang menjadi arena olahraga akan kita pasangi plang nama yang jelas,\u201d pungkas Dandri.<br \/>\nTerpisah Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Samarinda, Makmun Andi Nuhung juga menyebut hal yang sama. Dalam waktu dekat, pihaknya akan berkoordinasi dengan POBSI dan KONI Samarinda terkait rekomendasi terhadap biliar mana saja yang boleh beroperasi selama Ramadan.<br \/>\n\u201cSecepatnya dalam waktu satu atau dua hari ke depan kita koordinasi. Selanjutnya bisa langsung mengeluarkan rekomendasi. Jadi yang tidak masuk dalam rekomendasi, wajib untuk ditutup selama Ramadan,\u201d tegas Makmun.[] RedFj\/SP<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ketua Pengurus Kota (Pengkot) Persatuan Olahraga Biliar Seluruh Indonesia (POBSI) Kota Samarinda, Dandri Dauri meminta semua pihak untuk bisa melihat keberadaan cabang olahraga (Cabor) biliar secara jernih. Khususnya terkait aktivitas biliar yang sampai sekarang masih dikait-kaitkan dengan hiburan, sehingga beberapa arena di antaranya harus ditutup selama Ramadan dan Idulfitri. \u201cHarus diingat bahwa biliar itu bagian &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1696,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[6,26,37],"tags":[],"class_list":["post-1695","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-berita-lain","category-kalimantan-timur-kaltim","category-kota-samarinda"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1695","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1695"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1695\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":22760,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1695\/revisions\/22760"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1695"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1695"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1695"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}