{"id":169542,"date":"2026-03-04T14:12:47","date_gmt":"2026-03-04T06:12:47","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=169542"},"modified":"2026-03-04T14:12:47","modified_gmt":"2026-03-04T06:12:47","slug":"gerhana-bulan-total-2026-planetarium-tenggarong-diserbu-warga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/gerhana-bulan-total-2026-planetarium-tenggarong-diserbu-warga\/","title":{"rendered":"Gerhana Bulan Total 2026, Planetarium Tenggarong Diserbu Warga"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><strong>KUTAI KARTANEGARA<\/strong> \u2013 Ratusan warga memadati Planetarium Jagad Raya Tenggarong pada Selasa (03\/03\/2026) malam untuk menyaksikan fenomena gerhana bulan total yang bertepatan dengan malam ke-14 Ramadan 1447 Hijriah. Kegiatan pengamatan yang digelar secara gratis ini merupakan hasil kolaborasi Planetarium Jagad Raya dengan Dinas Pariwisata Kutai Kartanegara.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Fenomena tersebut menjadi istimewa karena merupakan satu-satunya gerhana pada 2026 yang dapat diamati langsung dari wilayah Indonesia. Sejak sore hari, masyarakat mulai berdatangan untuk mengikuti rangkaian pengamatan yang telah menjadi agenda rutin setiap terjadi peristiwa astronomi penting.<\/p>\n<figure id=\"attachment_169680\" aria-describedby=\"caption-attachment-169680\" style=\"width: 700px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-169680\" src=\"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/6140826205989572525.jpg\" alt=\"\" width=\"700\" height=\"394\" srcset=\"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/6140826205989572525.jpg 1280w, https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/6140826205989572525-300x169.jpg 300w, https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/6140826205989572525-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/6140826205989572525-768x432.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 700px) 100vw, 700px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-169680\" class=\"wp-caption-text\">Widi Handoko<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\">Operator sekaligus narator planetarium, Widi Handoko, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen memperkenalkan ilmu astronomi kepada masyarakat luas. \u201cIni sebenarnya kegiatan rutin setiap ada fenomena alam. Kebetulan malam ini terjadi gerhana bulan total, jadi kami mengadakan pengamatan untuk masyarakat umum,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, pengamatan sempat terkendala cuaca mendung yang menyelimuti langit Tenggarong. Meski demikian, panitia tetap bersiaga menunggu momen puncak gerhana yang diperkirakan terjadi sekitar pukul 19.33 Wita.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKendalanya cuaca tidak mendukung. Semoga saat puncaknya sekitar pukul 19.33 Wita langit lebih cerah sehingga bisa diamati dengan jelas,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Widi menjelaskan, fase totalitas gerhana bulan berlangsung sekitar 58 menit atau hampir satu jam. Sepanjang 2026, terdapat empat fenomena gerhana, yakni dua gerhana matahari dan dua gerhana bulan. Namun, hanya gerhana bulan total kali ini yang dapat disaksikan langsung dari Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam pengamatan tersebut, tim planetarium menggunakan teleskop Ioptron dengan lensa William Optics untuk membantu pengunjung melihat detail permukaan bulan. Setelah fase gerhana berakhir, teleskop juga diarahkan ke planet Jupiter yang posisinya relatif dekat di langit malam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSetelah pengamatan gerhana, kita bisa langsung mengarahkan teleskop ke planet Jupiter karena posisinya tidak jauh. Ini terbuka untuk umum,\u201d jelas Widi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Antusiasme warga mendapat apresiasi dari Dinas Pariwisata Kukar. Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Dispar Kukar, M. Ridha Fatranta, menilai fenomena astronomi tersebut memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata edukasi, terlebih karena berlangsung pada bulan Ramadan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKami awalnya hanya merencanakan kegiatan kecil. Ternyata antusiasme masyarakat cukup besar, apalagi momennya bertepatan dengan Ramadan sehingga memiliki nilai tersendiri,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ke depan, Dispar Kukar berencana mengemas fenomena astronomi sebagai agenda wisata terintegrasi yang dipadukan dengan unsur edukasi bagi pelajar. \u201cKe depan, jika ada peristiwa astronomi seperti gerhana atau hujan meteor, kami akan mempersiapkannya lebih matang dan menggabungkannya dengan rangkaian kegiatan lain. Bukan hanya mengamati, tetapi juga ada edukasi untuk anak-anak,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ridha menambahkan, Planetarium Jagad Raya yang beroperasi sejak 2013 menjadi salah satu destinasi wisata edukasi unggulan di Tenggarong. Melalui pengembangan wisata astronomi, diharapkan kota ini semakin dikenal sebagai tujuan wisata edukasi dan budaya di Kalimantan Timur.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cPlanetarium ini bisa menjadi salah satu rangkaian kunjungan wisata di Tenggarong. Jadi, orang datang bukan hanya untuk satu tujuan, tetapi bisa menikmati berbagai destinasi yang ada,\u201d tuturnya. []\n<p>Penulis: M. Reza Danuarta | Penyunting: Nursiah<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KUTAI KARTANEGARA \u2013 Ratusan warga memadati Planetarium Jagad Raya Tenggarong pada Selasa (03\/03\/2026) malam untuk menyaksikan fenomena gerhana bulan total yang bertepatan dengan malam ke-14 Ramadan 1447 Hijriah. Kegiatan pengamatan yang digelar secara gratis ini merupakan hasil kolaborasi Planetarium Jagad Raya dengan Dinas Pariwisata Kutai Kartanegara. Fenomena tersebut menjadi istimewa karena merupakan satu-satunya gerhana pada &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":56,"featured_media":169543,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[17,26,33],"tags":[14882,8049],"class_list":["post-169542","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-headlines","category-kalimantan-timur-kaltim","category-kabupaten-kutai-kartanegara","tag-gerhana-bulan","tag-planetarium-jagad-raya-tenggarong"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/169542","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/56"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=169542"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/169542\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":169689,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/169542\/revisions\/169689"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/169543"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=169542"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=169542"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=169542"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}