{"id":169635,"date":"2026-03-04T13:40:08","date_gmt":"2026-03-04T05:40:08","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=169635"},"modified":"2026-03-04T13:40:08","modified_gmt":"2026-03-04T05:40:08","slug":"sadis-kepala-gajah-dipotong-demi-bisnis-haram","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/sadis-kepala-gajah-dipotong-demi-bisnis-haram\/","title":{"rendered":"Sadis! Kepala Gajah Dipotong Demi Bisnis Haram"},"content":{"rendered":"<article class=\"text-token-text-primary w-full focus:outline-none [--shadow-height:45px] has-data-writing-block:pointer-events-none has-data-writing-block:-mt-(--shadow-height) has-data-writing-block:pt-(--shadow-height) [&amp;:has([data-writing-block])&gt;*]:pointer-events-auto scroll-mt-(--header-height)\" dir=\"auto\" tabindex=\"-1\" data-turn-id=\"aed88758-e386-45b8-98e1-023caed5e27e\" data-testid=\"conversation-turn-25\" data-scroll-anchor=\"false\" data-turn=\"user\"><\/article>\n<article class=\"text-token-text-primary w-full focus:outline-none [--shadow-height:45px] has-data-writing-block:pointer-events-none has-data-writing-block:-mt-(--shadow-height) has-data-writing-block:pt-(--shadow-height) [&amp;:has([data-writing-block])&gt;*]:pointer-events-auto scroll-mt-[calc(var(--header-height)+min(200px,max(70px,20svh)))]\" dir=\"auto\" tabindex=\"-1\" data-turn-id=\"request-WEB:66d7f4d5-8df1-41bb-99d9-d38fe0269de5-12\" data-testid=\"conversation-turn-26\" data-scroll-anchor=\"true\" data-turn=\"assistant\">\n<div class=\"text-base my-auto mx-auto pb-10 [--thread-content-margin:--spacing(4)] @w-sm\/main:[--thread-content-margin:--spacing(6)] @w-lg\/main:[--thread-content-margin:--spacing(16)] px-(--thread-content-margin)\">\n<div class=\"[--thread-content-max-width:40rem] @w-lg\/main:[--thread-content-max-width:48rem] mx-auto max-w-(--thread-content-max-width) flex-1 group\/turn-messages focus-visible:outline-hidden relative flex w-full min-w-0 flex-col agent-turn\" tabindex=\"-1\">\n<div class=\"flex max-w-full flex-col grow\">\n<div class=\"min-h-8 text-message relative flex w-full flex-col items-end gap-2 text-start break-words whitespace-normal [.text-message+&amp;]:mt-1\" dir=\"auto\" data-message-author-role=\"assistant\" data-message-id=\"4d979992-60ad-48ac-8086-755b789cdf53\" data-message-model-slug=\"gpt-5-2\">\n<div class=\"flex w-full flex-col gap-1 empty:hidden first:pt-[1px]\">\n<div class=\"markdown prose dark:prose-invert w-full wrap-break-word dark markdown-new-styling\">\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"0\" data-end=\"292\"><strong>RIAU<\/strong> &#8211; Aksi keji terhadap satwa dilindungi kembali terkuak di Riau. <span class=\"hover:entity-accent entity-underline inline cursor-pointer align-baseline\"><span class=\"whitespace-normal\">Polda Riau<\/span><\/span> membongkar jaringan pemburu yang menembak seekor gajah di Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, lalu memperjualbelikan gadingnya hingga ratusan juta rupiah sebelum diolah menjadi pipa rokok.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"294\" data-end=\"523\">Pengungkapan kasus ini disampaikan Direktur Reserse Kriminal Khusus <span class=\"hover:entity-accent entity-underline inline cursor-pointer align-baseline\"><span class=\"whitespace-normal\">Polda Riau<\/span><\/span> Kombes Ade Kuncoro, Rabu (04\/03\/2026). Ia menegaskan, peredaran gading tersebut melibatkan mata rantai panjang lintas daerah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"525\" data-end=\"740\">Menurut Ade, sindikat ini bermula dari aksi pembunuhan gajah di area konsesi PT RAPP Distrik Ukui pada 25 Januari 2026. Dalang utama berinisial FA (62) memerintahkan eksekutor AN (DPO) untuk menembak satwa tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"742\" data-end=\"952\">Ade memaparkan, AN melepaskan dua tembakan ke arah kepala gajah. Setelah hewan itu roboh, AN bersama tersangka RA memutilasi bagian kepala menggunakan kapak dan pisau demi mengambil gading seberat 7,6 kilogram.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"954\" data-end=\"1115\">\u201cGajah ditembak di bagian kepala, lalu kepalanya dipotong untuk mengambil gading. Prosesnya berlangsung berjam-jam sampai malam,\u201d ungkap Ade dalam keterangannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1117\" data-end=\"1272\">Gading yang telah dipisahkan kemudian diserahkan kepada FA di Kecamatan Pangkalan Lesung. Dari transaksi awal itu, para pelaku menerima bayaran Rp 30 juta.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1274\" data-end=\"1471\">Namun perjalanan gading tak berhenti di sana. FA memotongnya menjadi empat bagian dan mengirimkannya ke HY di Padang, Sumatera Barat, melalui jasa travel. Nilai jualnya melonjak menjadi Rp 76 juta.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1473\" data-end=\"1739\">Jaringan ini bergerak senyap dan berpindah-pindah jalur distribusi. Dari Padang, paket gading dikirim ke Jakarta melalui kargo bandara, lalu diteruskan ke Surabaya menggunakan kargo kereta api. Setiap tangan yang menerima barang tersebut mengambil margin keuntungan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1741\" data-end=\"1987\">Di Surabaya, gading didokumentasikan sebelum dijual kembali ke Jakarta dengan nilai Rp 117.645.000 pada awal Februari 2026. Beberapa hari kemudian, tepatnya 6 Februari 2026, barang itu kembali berpindah ke Kudus dan dijual seharga Rp 125.235.000.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1989\" data-end=\"2117\">\u201cAlurnya dibuat berlapis untuk memutus jejak. Barang berpindah dari satu kota ke kota lain sebelum akhirnya diolah,\u201d terang Ade.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2119\" data-end=\"2304\">Puncaknya, gading tersebut sampai ke Solo dan diproduksi menjadi 10 batang pipa rokok oleh RB (DPO). Produk jadi itu kemudian dijual kembali pada 19 Februari 2026 seharga Rp 10.700.000.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2306\" data-end=\"2477\">Dari hasil penyelidikan, para perantara meraup keuntungan bervariasi. Pengecer pipa rokok gading bahkan bisa mengantongi laba antara Rp200.000 hingga Rp500.000 per batang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2479\" data-end=\"2673\">Ade menegaskan, aparat masih memburu pelaku lain yang masuk daftar pencarian orang. Ia memastikan penindakan akan terus dikembangkan untuk memutus jaringan perdagangan satwa dilindungi tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2675\" data-end=\"2840\">\u201cIni bukan sekadar perburuan liar, tetapi jaringan terorganisir yang memanfaatkan satwa dilindungi demi keuntungan ekonomi. Kami akan kejar sampai tuntas,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2842\" data-end=\"3070\">Kasus ini kembali menyoroti praktik perdagangan ilegal satwa yang masih marak terjadi. Aparat mengimbau masyarakat tidak terlibat dalam jual beli bagian tubuh satwa dilindungi karena ancaman hukumnya berat dan merusak ekosistem. []\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2842\" data-end=\"3070\">Redaksi<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/article>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>RIAU &#8211; Aksi keji terhadap satwa dilindungi kembali terkuak di Riau. Polda Riau membongkar jaringan pemburu yang menembak seekor gajah di Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, lalu memperjualbelikan gadingnya hingga ratusan juta rupiah sebelum diolah menjadi pipa rokok. Pengungkapan kasus ini disampaikan Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Riau Kombes Ade Kuncoro, Rabu (04\/03\/2026). Ia menegaskan, peredaran &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":169637,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[19,35,9426],"tags":[],"class_list":["post-169635","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-hotnews","category-berita-nasional","category-riau"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/169635","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=169635"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/169635\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":169638,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/169635\/revisions\/169638"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/169637"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=169635"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=169635"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=169635"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}