{"id":169656,"date":"2026-03-04T13:54:52","date_gmt":"2026-03-04T05:54:52","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=169656"},"modified":"2026-03-04T13:54:52","modified_gmt":"2026-03-04T05:54:52","slug":"diduga-keracunan-6-sapi-ditemukan-tak-bernyawa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/diduga-keracunan-6-sapi-ditemukan-tak-bernyawa\/","title":{"rendered":"Diduga Keracunan, 6 Sapi Ditemukan Tak Bernyawa"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"0\" data-end=\"309\"><strong>TANAH LAUT<\/strong> \u2013 Warga Danau Waringin, Desa Pemuda, Kecamatan Pelaihari, dibuat geger dengan penemuan enam ekor sapi Bali yang mati mendadak di area kebun sayur, Senin (02\/03\/2026) sekitar pukul 11.30 Wita. Bangkai ternak itu tergeletak berdekatan, memicu dugaan adanya unsur racun di lokasi tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"311\" data-end=\"456\">Pemilik sapi, Sapriani, pertama kali menemukan hewan ternaknya dalam kondisi tak bernyawa. Ia segera melaporkan kejadian itu ke Polsek Pelaihari.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"458\" data-end=\"626\">Kapolres Tanah Laut AKBP Ricky Boy Siallagan melalui Kapolsek Pelaihari Iptu Benny Wisnu Wardhany mengatakan, pihaknya langsung bergerak setelah menerima laporan warga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"628\" data-end=\"777\">\u201cBegitu laporan masuk, personel kami langsung turun ke lokasi dan mendapati enam sapi sudah mati di lahan perkebunan,\u201d ujar Benny, Selasa (03\/03\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"779\" data-end=\"941\">Dari keterangan awal pemilik, kuat dugaan kematian sapi berkaitan dengan zat berbahaya yang ada di sekitar kebun. Namun, polisi belum menyimpulkan penyebab pasti.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"943\" data-end=\"1133\">\u201cArea itu merupakan lahan pertanian warga. Ada kemungkinan sapi mengonsumsi rumput yang terpapar bahan kimia atau racun tanaman. Kami masih menunggu hasil pendalaman lebih lanjut,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1135\" data-end=\"1329\">Akibat peristiwa tersebut, Sapriani ditaksir mengalami kerugian sekitar Rp120 juta. Sejumlah saksi telah dimintai keterangan guna mengungkap kronologi dan memastikan tidak ada unsur kesengajaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1331\" data-end=\"1542\">Polisi juga menelusuri status kepemilikan lahan tempat ditemukannya bangkai sapi. Langkah ini dilakukan untuk memastikan apakah ada kelalaian atau potensi pelanggaran yang menyebabkan hewan ternak tersebut mati.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1544\" data-end=\"1665\">Kapolsek mengingatkan para peternak agar tidak melepasliarkan hewan tanpa pengawasan, terutama di lahan milik orang lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1667\" data-end=\"1851\">\u201cPemilik ternak sebaiknya memastikan hewan dalam pengawasan atau dikandangkan. Jika ingin melepas di lahan pihak lain, komunikasikan lebih dulu agar tidak terjadi persoalan,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1853\" data-end=\"2142\">Insiden serupa sebelumnya pernah terjadi di beberapa titik di Tanah Laut, seperti Desa Telaga dan Tebing Siring. Namun kasus-kasus terdahulu diselesaikan secara musyawarah. Kali ini, polisi memastikan penyelidikan tetap berjalan hingga penyebab kematian enam sapi tersebut terungkap jelas. []\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1853\" data-end=\"2142\">Redaksi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>TANAH LAUT \u2013 Warga Danau Waringin, Desa Pemuda, Kecamatan Pelaihari, dibuat geger dengan penemuan enam ekor sapi Bali yang mati mendadak di area kebun sayur, Senin (02\/03\/2026) sekitar pukul 11.30 Wita. Bangkai ternak itu tergeletak berdekatan, memicu dugaan adanya unsur racun di lokasi tersebut. Pemilik sapi, Sapriani, pertama kali menemukan hewan ternaknya dalam kondisi tak &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":169657,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[19,2276,2277],"tags":[],"class_list":["post-169656","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-hotnews","category-kalimantan-selatan-kalsel","category-kabupaten-tanah-laut-provinsi-kalimantan-selatan"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/169656","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=169656"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/169656\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":169659,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/169656\/revisions\/169659"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/169657"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=169656"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=169656"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=169656"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}