{"id":171238,"date":"2026-03-11T11:15:31","date_gmt":"2026-03-11T03:15:31","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=171238"},"modified":"2026-03-11T11:15:31","modified_gmt":"2026-03-11T03:15:31","slug":"bikin-heboh-paket-mbg-berisi-lele-mentah-viral","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/bikin-heboh-paket-mbg-berisi-lele-mentah-viral\/","title":{"rendered":"Bikin Heboh! Paket MBG Berisi Lele Mentah Viral"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"55\" data-end=\"342\"><strong>JAWA TIMUR<\/strong> \u2013 Sebuah video yang memperlihatkan paket makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) berisi ikan lele yang disebut masih mentah viral di media sosial. Video tersebut memicu perbincangan publik setelah menu makanan itu disebut ditolak oleh pihak SMA Negeri 2 Pamekasan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"344\" data-end=\"692\">Dalam rekaman yang beredar luas di berbagai platform digital, terlihat sebuah kotak makanan berisi ikan lele yang tampak belum dimasak. Di dalam kotak tersebut juga terlihat dua potong tahu serta dua potong tempe. Kondisi menu itu disebut menimbulkan bau amis sehingga menimbulkan kekhawatiran akan cepat membusuk jika tetap dibagikan kepada siswa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"694\" data-end=\"892\">Paket makanan tersebut diketahui merupakan bagian dari distribusi program MBG yang disalurkan pada Senin (09\/03\/2026). Menu tersebut disiapkan sebagai konsumsi bagi siswa untuk beberapa hari ke depan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"894\" data-end=\"1065\">Pihak sekolah kemudian memilih tidak menerima paket makanan tersebut karena mempertimbangkan kondisi makanan yang dinilai tidak layak untuk langsung dikonsumsi oleh siswa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1067\" data-end=\"1220\">Menanggapi viralnya video tersebut, pihak <span class=\"hover:entity-accent entity-underline inline cursor-pointer align-baseline\"><span class=\"whitespace-normal\">Badan Gizi Nasional<\/span><\/span> akhirnya memberikan penjelasan terkait menu MBG yang dipersoalkan publik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1222\" data-end=\"1420\">Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, <span class=\"hover:entity-accent entity-underline inline cursor-pointer align-baseline\"><span class=\"whitespace-normal\">Nanik Sudaryati Deyang<\/span><\/span>, menegaskan bahwa video yang beredar di media sosial tidak menampilkan keseluruhan paket menu yang sebenarnya telah disiapkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1422\" data-end=\"1727\">\u201cLaporan yang kami terima menunjukkan bahwa menu yang disiapkan sebenarnya lengkap. Namun dalam video yang beredar hanya terlihat sebagian isi paket karena pihak sekolah memilih tidak menurunkan seluruh makanan dari kendaraan distribusi,\u201d kata Nanik dalam keterangannya di Jakarta pada Selasa (10\/03\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1729\" data-end=\"1930\">Ia menjelaskan bahwa paket MBG yang disiapkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pamekasan sebenarnya terdiri dari berbagai komponen makanan yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi siswa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1932\" data-end=\"2063\">Menu tersebut antara lain mencakup lele marinasi, tahu dan tempe ungkep, roti pizza, telur rebus, susu full cream, serta buah naga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2065\" data-end=\"2196\">Menurut Nanik, setiap menu yang disalurkan dalam program MBG telah disusun berdasarkan standar gizi dan keamanan pangan yang ketat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2198\" data-end=\"2455\">\u201cKami memastikan bahwa aspek keamanan pangan serta kualitas gizi selalu menjadi prioritas utama dalam program MBG. Seluruh proses mulai dari penyiapan hingga distribusi makanan terus kami evaluasi agar sesuai dengan standar yang telah ditetapkan,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2457\" data-end=\"2643\">Sementara itu, ahli gizi dari SPPG Pamekasan Pademawu Buddagan, <span class=\"hover:entity-accent entity-underline inline cursor-pointer align-baseline\"><span class=\"whitespace-normal\">Fikri Kuttawakil<\/span><\/span>, menjelaskan bahwa penggunaan lele marinasi dalam menu MBG memiliki tujuan tertentu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2645\" data-end=\"2802\">Menurutnya, metode marinasi dilakukan agar kandungan gizi ikan tetap terjaga sekaligus meningkatkan kandungan protein dalam menu yang diberikan kepada siswa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2804\" data-end=\"3027\">\u201cLele marinasi dipilih karena dapat menjaga nilai gizi ikan serta meningkatkan asupan protein bagi penerima manfaat. Selain itu, proses marinasi juga membuat bahan makanan tersebut dapat bertahan hingga satu hari,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3029\" data-end=\"3254\">Program MBG di wilayah Pamekasan sendiri diketahui melayani sekitar 3.329 penerima manfaat. Mereka terdiri dari siswa SMA, SMK, MA, SMP, MTs, PAUD, TK, SLB, tenaga pendidik, serta kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3256\" data-end=\"3439\">Meski menu tersebut sempat memicu polemik di media sosial, pihak terkait memastikan evaluasi tetap dilakukan agar distribusi makanan dalam program MBG berjalan lebih baik ke depannya. []\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3256\" data-end=\"3439\">Redaksi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAWA TIMUR \u2013 Sebuah video yang memperlihatkan paket makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) berisi ikan lele yang disebut masih mentah viral di media sosial. Video tersebut memicu perbincangan publik setelah menu makanan itu disebut ditolak oleh pihak SMA Negeri 2 Pamekasan. Dalam rekaman yang beredar luas di berbagai platform digital, terlihat sebuah kotak &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":69,"featured_media":171239,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[19,9290,35],"tags":[],"class_list":["post-171238","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-hotnews","category-jawa-timur","category-berita-nasional"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/171238","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/69"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=171238"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/171238\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":171240,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/171238\/revisions\/171240"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/171239"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=171238"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=171238"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=171238"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}