{"id":1730,"date":"2014-06-05T03:11:19","date_gmt":"2014-06-04T19:11:19","guid":{"rendered":"http:\/\/beritaborneo.co.id\/?p=1730"},"modified":"2022-10-16T11:40:25","modified_gmt":"2022-10-16T03:40:25","slug":"yayasan-siap-dirikan-rumah-belajar-3r","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/yayasan-siap-dirikan-rumah-belajar-3r\/","title":{"rendered":"Yayasan Siap Dirikan Rumah Belajar 3R"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\">Balai pengelolaan sampah yang terletak di wilayah RT 35 Kelurahan Prapatan, Balikpapan Kota\u00a0 tampaknya akan menunjukkan eksistensinya lagi kepada seluruh masyarakat setempat.Pasalnya, Yayasan peduli, selaku pihak pengelola rencananya akan menghidupkan kembali dengan mengedepankan program-program terbarunya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Hal tersebut disampaikan oleh Direktur <em>Yayasan Peduli, Antos<\/em>Patmawija kepada wartawan, Selasa (3\/6) kemarin. \u201cKami berencana akan merenovasi kembali bangunan tersebut dan mendirikan Rumah Belajar 3R (reduce, <em>reuse<\/em>, recycle),\u201d ungkap Antos\u2014sapaan akrabnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Antos menyebutkan, sedikitnya ada lima program baru yang nantinya akan diterapkan. Antara lain, pembelajaran membuat kompos, mendaur ulang kertas dan plastic, ternak lele, dan yang terakhir adalah mendaur ulang produk sampah yang tidak termasuk dalam kategori jenis sampah yang ditetapkan bank sampah pada umumnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\u201cProduk sampah yang dimaksud adalah baju bekas. Selama ini mungkin tidak terpikir oleh masyarakat mengenai sampah baju bekas. Produk sampah ini kan umumnya tidak diterima oleh bank sampah. Maka itu, nanti kita terima lalu kita cuci dan kita pasarkan kembali dengan menempelkan label baju,\u201d paparnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Khusus untuk pengelolaan sampah baju bekas ini, kata Antos , akan menerapkan konsep <em>garage sale <\/em>\u00a0yang kerap digunakan oleh masyarakat di Jakarta dalam memasarkan barang-barang bekas. \u201cMungkin juga, kalau ada sisanya, bisa disimpan untuk bantuan korban kebakaran,\u201d lanjutnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Selain itu, pihak Yayasan peduli juga akan menyiapkan beberapa tas khusus sampah kertas yang berbahan parasut. Nantinya, lanjut Antos, tas-tas tersebut akan ditempatkan di dalam kantor-kantor dan sekolah-sekolah di Balikpapan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\u201cJadi tas itu khusus untuk sampah kertas. Di kantor-kantor dan sekolah kan banyak sampah kertas, jadi bisa dimasukkan ke dalam tas itu. Nanti setiap minggunya petugas kami akan mengambilnya. Lalu, akan kami bawa ke balai pengelolaan sampah dan didaur ulang. Kalau daur ulangnya untuk menciptakan produk yang kualitas kertasnya lebih bagus, akan kami kirim juga sampah kertas itu ke Jawa, karena kalau itu kan butuh mesin layaknya pabrik kertas,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Menariknya,\u00a0 dalam hal ini Yayasan Peduli juga akan mengajak masyarakat umum untuk mengikuti pelatihan-pelatihan mendaur ulang sampah, baik untuk pembuatan kompos hingga daur ulang kertas dan plastik. \u201cDulu memang kita <em>pure <\/em>\u00a0konsentrasinya ke sampah organik. Tapi kali ini kita berusaha untuk lebih beragam dengan menerapkan 3R itu tadi,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Lantas, bagaimana dengan pembiayaan honor untuk para petugas ? Antos menjawab, anggaran untuk pembiayaan honor diperoleh dari penjualan kompos dan produk-produk daur ulang lainnya. Petugasnya sendiri, juga akan melibatkan masyarakat\u00a0 di lingkungan setempat. \u00a0\u201cMaka itu, di sini kita berupaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap produk daur ulang,\u201d imbuhnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Lebih jauh Antos menambahkan, saat ini pihaknya memang sudah membahas bersama dengan Lurah Prapatan, H Slamet Djunaidi MSI. Bahkan, juga tengah menyiapkan beberapa proposal yang rencananya akan mulai disebar ke berbagai pihak terkait usai Lebaran. \u201cUntuk mekanismenya, mungkin nanti ke depannya bisa dijelaskan oleh pihak kelurahan,\u201d serunya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Adapun, Antos juga sempat meluruskan, mangkraknya balai pengelolaan sampah yang berdiri sejak tahun 2007 lalu tersebut disebabkan tingginya biaya operasional yang tidak mampu ditutupi oleh penjualan hasil produksi. \u201cYa ini memang disebabkan karena hitung-hitungan bisnisnya yang nggak jalan. Biaya operasional lebih tinggi daripada pendapatan yang kita dapat,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Sementara itu terpisah, Lurah Prapatan, H Slamet Djunaidi MSI berharap dengan adanya upaya mengaktifkan kembali balai pengelolaan sampah ini bisa menggerakkan masyarakat untuk meningkatkan kepeduliannya. Di samping itu, pihaknya juga berwacana akan membentuk pengelolaan sampah mandiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\u201cArtinya, tidak harus bergantung pada pemerintah dalam hal pendanaan. Tetapi, masyarakat diajarkan bagaimana pengembangannya. Contohnya, bank sampah yang pengelolaannya mandiri. Nanti, pemasarannya bisa dibantu oleh pihak kelurahan atau mungkin juga menggandeng DKPP,\u201d jelasnya.[] RedFj\/BP<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Balai pengelolaan sampah yang terletak di wilayah RT 35 Kelurahan Prapatan, Balikpapan Kota\u00a0 tampaknya akan menunjukkan eksistensinya lagi kepada seluruh masyarakat setempat.Pasalnya, Yayasan peduli, selaku pihak pengelola rencananya akan menghidupkan kembali dengan mengedepankan program-program terbarunya. Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Yayasan Peduli, AntosPatmawija kepada wartawan, Selasa (3\/6) kemarin. \u201cKami berencana akan merenovasi kembali bangunan tersebut &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1731,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[467,6,26],"tags":[],"class_list":["post-1730","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kota-balikpapan","category-berita-lain","category-kalimantan-timur-kaltim"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1730","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1730"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1730\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":22787,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1730\/revisions\/22787"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1730"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1730"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1730"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}