{"id":174603,"date":"2026-03-31T10:46:59","date_gmt":"2026-03-31T02:46:59","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=174603"},"modified":"2026-03-31T10:46:59","modified_gmt":"2026-03-31T02:46:59","slug":"dugaan-malpraktik-di-rsud-aws-tangan-bayi-menghitam-dan-melepuh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/dugaan-malpraktik-di-rsud-aws-tangan-bayi-menghitam-dan-melepuh\/","title":{"rendered":"Dugaan Malpraktik di RSUD AWS, Tangan Bayi Menghitam dan Melepuh"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4228\" data-end=\"4374\"><em>Bayi tiga bulan mengalami pembengkakan hingga luka serius diduga akibat kesalahan pemasangan infus, keluarga minta pertanggungjawaban rumah sakit.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"0\" data-end=\"278\"><strong data-start=\"0\" data-end=\"15\">SAMARINDA &#8211;<\/strong> Dugaan kelalaian medis dalam penanganan bayi berinisial S (3 bulan) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda mencuat setelah tindakan pemasangan infus diduga menyebabkan pembengkakan parah hingga menjalar ke dada, Jumat (06\/03\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"280\" data-end=\"516\">Kasus ini bermula saat ibu korban, Rafita, membawa bayinya untuk mendapatkan perawatan akibat sakit. Namun, pada hari yang sama, infus yang terpasang pada bayi tersebut terlepas dan kemudian dilakukan pemasangan ulang oleh tenaga medis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"518\" data-end=\"751\">Rafita mengungkapkan bahwa setelah pemasangan ulang infus, bayinya menunjukkan kondisi tidak biasa dengan terus menangis dan tidak tidur sepanjang malam. Ia juga tidak mengetahui adanya pembengkakan karena tangan bayi dibalut perban. \u201cSubuh ada perawat datang cuma ngasih obat, tidak memeriksa,\u201d ujarnya saat ditemui di rumahnya di Jalan A. Wahab Syahranie Gang 3B, Senin (30\/03\/2026) malam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"912\" data-end=\"1143\">Ia menjelaskan bahwa pembengkakan baru diketahui pada pagi hari ketika perawat lain melakukan pemeriksaan dan menemukan infus tidak masuk dengan benar. Kondisi pembengkakan tersebut bahkan telah menyebar hingga ke bagian dada bayi. \u201cBengkaknya sudah sampai ke dada,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1190\" data-end=\"1368\">Setelah beberapa hari menjalani perawatan, kondisi tangan bayi dilaporkan semakin memburuk, ditandai dengan perubahan warna menjadi kehitaman, melepuh, serta mengeluarkan cairan. \u201cTangan yang bekas infus itu sudah hitam, sudah melepuh dan berair,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1449\" data-end=\"1622\">Menurut Rafita, dokter bedah sempat menyarankan tindakan operasi apabila kondisi semakin memburuk. Namun, keluarga menolak karena awalnya bayi hanya dirawat akibat muntaber. \u201cKatanya kalau memang hitam mau dioperasi, tapi suami saya keberatan karena awalnya anak kami dirawat karena muntaber,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1754\" data-end=\"1889\">Ia juga mengaku khawatir terhadap risiko tindakan tersebut, termasuk kemungkinan amputasi sebagaimana pernah terjadi pada kasus serupa. \u201cKami takut kejadian seperti di Makassar itu, sampai diamputasi,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1967\" data-end=\"2145\">Rafita menjelaskan bahwa tindakan yang akhirnya dilakukan hanya berupa pembersihan luka dan pembalutan ulang tanpa operasi, meskipun sempat diarahkan ke beberapa ruang perawatan. \u201cCuma dibersihkan pakai kasa lalu diperban lagi,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2207\" data-end=\"2388\">Setelah tindakan tersebut, ia mengaku sempat diminta untuk melakukan kontrol lanjutan, namun diinformasikan bahwa kondisi luka telah mengering sehingga bayinya diperbolehkan pulang. \u201cSaya tanya kontrol lagi, mereka bilang sudah kering tidak apa-apa,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2469\" data-end=\"2637\">Ia juga menilai proses pemasangan infus dilakukan berulang kali dan diduga oleh tenaga medis yang belum berpengalaman, sehingga menyebabkan bayinya mengalami kesakitan. \u201cKayaknya seperti anak-anak baru belajar, karena dicucuk berkali-kali,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2721\" data-end=\"2867\">Rafita menyebut keluarga merasa keberatan atas kejadian tersebut, namun belum mengajukan laporan resmi karena keterbatasan pemahaman dan dukungan. \u201cKeluarga keberatan semua, tapi kami tidak tahu harus bagaimana,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2945\" data-end=\"3086\">Ia berharap pihak RSUD AWS Samarinda bertanggung jawab atas kondisi yang dialami bayinya hingga pulih sepenuhnya tanpa dampak jangka panjang. \u201cHarapannya anak saya diobati sampai tuntas dan sembuh,\u201d tutupnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3156\" data-end=\"3422\">Hingga kini, pihak RSUD AWS Samarinda belum memberikan keterangan resmi terkait kejadian tersebut. Sementara itu, Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Kalimantan Timur (Kaltim) telah mendampingi keluarga korban untuk tindak lanjut kasus ini. []\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3424\" data-end=\"3466\">Penulis: Yus Rizal Zulfikar | Penyunting: Nursiah<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bayi tiga bulan mengalami pembengkakan hingga luka serius diduga akibat kesalahan pemasangan infus, keluarga minta pertanggungjawaban rumah sakit. SAMARINDA &#8211; Dugaan kelalaian medis dalam penanganan bayi berinisial S (3 bulan) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda mencuat setelah tindakan pemasangan infus diduga menyebabkan pembengkakan parah hingga menjalar ke dada, Jumat &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":66,"featured_media":174604,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[17,26,37],"tags":[17498,17499,17504,16157,17503,17502,17500,6356,609,17501],"class_list":["post-174603","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-headlines","category-kalimantan-timur-kaltim","category-kota-samarinda","tag-abdul-wahab-sjahranie","tag-bayi-infus","tag-bayi-luka-infus","tag-dugaan-malpraktik","tag-infus-salah","tag-kasus-kesehatan-samarinda","tag-kelalaian-medis","tag-rsud-aws","tag-samarinda","tag-trc-ppa-kaltim"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/174603","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/66"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=174603"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/174603\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":174631,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/174603\/revisions\/174631"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/174604"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=174603"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=174603"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=174603"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}