{"id":175641,"date":"2026-04-04T22:00:32","date_gmt":"2026-04-04T14:00:32","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=175641"},"modified":"2026-04-05T02:11:32","modified_gmt":"2026-04-04T18:11:32","slug":"inovasi-digital-tari-koncong-dayak-diangkat-ke-game-edukasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/inovasi-digital-tari-koncong-dayak-diangkat-ke-game-edukasi\/","title":{"rendered":"Inovasi Digital! Tari Koncong Dayak Diangkat ke Game Edukasi"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><em>Pengembangan game edukatif Gariskoyak menjadi strategi baru pelestarian Tari Koncong Dayak Salako melalui pendekatan digital di lingkungan pendidikan.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>SINGKAWANG <\/strong>&#8211; Upaya pelestarian budaya lokal kini mulai bertransformasi mengikuti perkembangan teknologi digital, salah satunya melalui pengembangan game edukatif berbasis seni tradisional Dayak Salako yang diuji sebagai media pembelajaran di sekolah dasar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Inovasi tersebut diwujudkan dalam game edukatif bertajuk Game Edukatif Tari Bermuatan Seni Koncong Dayak (GARISKOYAK) yang dikembangkan oleh tim peneliti lintas daerah, yakni Herwulan Irine Purnama, Hamidulloh Ibda, dan Rois Saifuddin Zuhri. Proyek ini mendapat dukungan Dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui program penciptaan karya kreatif inovatif tahun 2026.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pengembangan edugame ini diawali melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) atau Diskusi Kelompok Terpumpun bertajuk \u201cPemetaan Kebutuhan Budaya, Analisis Masalah, dan Content Mapping (Pemetaan Konten) untuk Pengembangan Edugame Gariskoyak\u201d yang digelar di Singkawang, Sabtu (04\/04\/2026). Kegiatan tersebut mempertemukan akademisi, praktisi budaya, hingga pemangku kepentingan pendidikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketua Tim Peneliti, Herwulan Irine Purnama, menjelaskan bahwa pengembangan Gariskoyak tidak sekadar menghadirkan tari ke dalam format digital, tetapi juga menjaga nilai-nilai budaya yang melekat di dalamnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Adil Ka\u2019 Talino, Bacuramin Ka\u2019 Saruga, Basengat Ka\u2019 Jubata,&#8221; kata Herwulan Irine Purnama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Tujuan kami adalah menggali nilai-nilai filosofis, historis, serta elemen penting dalam Tari Koncong Dayak Salako yang harus dipertahankan dalam proses digitalisasi ke dalam game edukasi,&#8221; ujar Herwulan Irine Purnama dalam pembukaan FGD tersebut, sebagaimana dilansir Antara, Sabtu, (04\/04\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia menekankan pentingnya menetapkan batasan budaya agar unsur autentik tidak tereduksi dalam proses digitalisasi, sehingga nilai kearifan lokal tetap terjaga meskipun dikemas dalam teknologi modern.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam proses pengembangannya, tim menggunakan pendekatan Research and Development (R&amp;D) atau Penelitian dan Pengembangan dengan model Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation (ADDIE). Metode ini memungkinkan proses yang sistematis, terukur, serta melibatkan berbagai pihak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Metode yang digunakan adalah model ADDIE atau Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation yang memungkinkan proses sistematis, kolaboratif, dan terukur, melibatkan akademisi, guru, praktisi budaya, dan komunitas lokal,&#8221; kata Hamidulloh Ibda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Sebenarnya, game ini selain untuk SD kelas tinggi (4, 5, 6) bisa dipakai juga untuk jenjang SMP kelas 1 atau 7,&#8221; kata Hamidulloh Ibda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Secara teknis, pengembangan Gariskoyak difokuskan pada empat komponen utama, yakni gameplay (mekanisme permainan), narasi berbasis nilai budaya, karakter representatif identitas Dayak Salako, serta misi permainan yang mengandung unsur kearifan lokal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rois Saifuddin Zuhri menambahkan, pengembangan teknis akan terus disempurnakan, termasuk penambahan animasi interaktif untuk membantu siswa memahami materi pembelajaran secara lebih menarik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Program ini juga tidak berhenti pada tahap konsep. Tim peneliti telah menyiapkan uji coba langsung di dua sekolah dasar sebagai bagian dari tahap implementasi untuk mengukur efektivitasnya sebagai media pembelajaran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kolaborasi lintas sektor turut melibatkan tokoh adat, seniman, serta Pemerintah Kota (Pemkot) Singkawang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Singkawang. Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Disdikbud Singkawang, Kapalo Binuo Garantukng Sakawokng atau Kepala Suku Dayak Singkawang, serta maestro Tari Koncong Dayak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pengembangan Gariskoyak diharapkan menjadi model inovatif pelestarian budaya berbasis teknologi yang tidak hanya edukatif, tetapi juga kontekstual bagi generasi muda di tengah arus digitalisasi global. []\n<p>Redaksi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengembangan game edukatif Gariskoyak menjadi strategi baru pelestarian Tari Koncong Dayak Salako melalui pendekatan digital di lingkungan pendidikan. SINGKAWANG &#8211; Upaya pelestarian budaya lokal kini mulai bertransformasi mengikuti perkembangan teknologi digital, salah satunya melalui pengembangan game edukatif berbasis seni tradisional Dayak Salako yang diuji sebagai media pembelajaran di sekolah dasar. Inovasi tersebut diwujudkan dalam game &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":175642,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[2273,39],"tags":[18551,18548,17131,18549,18546,18550,1882,18552,3385,18547],"class_list":["post-175641","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kalimantan-barat-kalbar","category-kota-singkawang-provinsi-kalimantan-barat-kalbar","tag-dana-indonesiana","tag-dayak-salako","tag-disdikbud-singkawang","tag-edugame","tag-gariskoyak","tag-kementerian-kebudayaan","tag-pelestarian-budaya","tag-pendidikan-digital","tag-singkawang","tag-tari-koncong-dayak"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/175641","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=175641"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/175641\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":175646,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/175641\/revisions\/175646"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/175642"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=175641"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=175641"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=175641"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}