{"id":176815,"date":"2026-04-10T14:27:07","date_gmt":"2026-04-10T06:27:07","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=176815"},"modified":"2026-04-10T14:27:07","modified_gmt":"2026-04-10T06:27:07","slug":"viral-hiu-paus-dibantai-pemerintah-turunkan-tim-investigasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/viral-hiu-paus-dibantai-pemerintah-turunkan-tim-investigasi\/","title":{"rendered":"Viral Hiu Paus Dibantai, Pemerintah Turunkan Tim Investigasi"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><em>Viralnya foto hiu paus yang dipotong warga di Sambas memicu sorotan terhadap lemahnya kesadaran konservasi dan perlindungan satwa laut dilindungi<\/em><br \/>\n<strong><br \/>\nSAMBAS<\/strong>&#8211; Viral beredarnya foto hiu paus yang dipotong-potong oleh warga di pesisir Kecamatan Jawai, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat (Kalbar), kembali menyoroti lemahnya kesadaran konservasi terhadap satwa laut dilindungi. Otoritas setempat langsung bergerak menurunkan tim untuk menyelidiki kejadian tersebut sekaligus mengumpulkan fakta di lapangan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Foto-foto yang beredar luas di media sosial itu memperlihatkan seekor hiu paus berukuran besar ditarik ke darat, diikat, hingga dipotong menjadi beberapa bagian oleh sejumlah warga. Unggahan tersebut pertama kali muncul dari akun Facebook bernama Hazarul Evan, yang menampilkan sedikitnya tujuh foto dari berbagai sudut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lokasi pasti kejadian belum dipastikan, namun berdasarkan penelusuran, pemilik akun terdeteksi berada di Pantai Kahona yang berada di wilayah Jawai. Peristiwa ini disebut sebagai kejadian keempat yang melibatkan hiu paus di kawasan pesisir Kalbar sejak 2017.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kepala Seksi Perlindungan dan Pelestarian (Kasi PP) Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Pontianak, Jumadi membenarkan adanya informasi tersebut. Ia mengatakan pihaknya telah mengirimkan tim ke lokasi untuk mengumpulkan bahan keterangan. \u201cKami juga baru dapat informasi. Saat ini kami telah mengirimkan tim untuk mengumpulkan bahan keterangan ke lokasi,\u201d ujarnya, sebagaimana diberitakan Pontianak Post, Kamis (10\/04\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Jumadi, hingga kini belum dapat dipastikan penyebab kematian hiu paus tersebut, apakah akibat terdampar, terjerat jaring nelayan, atau karena faktor lain termasuk dugaan perburuan. \u201cKami masih kumpulkan data dan informasinya,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia menegaskan bahwa hiu paus merupakan satwa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) Nomor 18 Tahun 2013 tentang Perlindungan Hiu Paus. Selain itu, spesies ini juga masuk dalam daftar Appendix II Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), yang berarti perdagangannya diawasi secara ketat untuk mencegah kepunahan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hiu paus, yang juga dikenal sebagai geger lintang atau hiu tutul, merupakan spesies ikan terbesar di dunia dengan karakteristik bintik-bintik di punggungnya menyerupai rasi bintang. Secara global, spesies ini dikategorikan rentan (vulnerable) oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) akibat tekanan penangkapan dan rendahnya tingkat reproduksi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Data yang dihimpun menunjukkan, kasus serupa telah beberapa kali terjadi di Kalbar, antara lain pada 2017 di Selakau dan Pemangkat, serta 2019 dengan pola kejadian yang hampir serupa, yakni hiu paus terdampar lalu dipotong dan dimanfaatkan warga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pemerintah melalui BPSPL Pontianak berencana meningkatkan edukasi dan penyadartahuan kepada masyarakat pesisir agar memahami pentingnya perlindungan satwa laut langka tersebut. Upaya ini diharapkan dapat mencegah kejadian serupa di masa mendatang serta menjaga keberlanjutan ekosistem laut di wilayah Kalbar. []\n<p>Redaksi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Viralnya foto hiu paus yang dipotong warga di Sambas memicu sorotan terhadap lemahnya kesadaran konservasi dan perlindungan satwa laut dilindungi SAMBAS&#8211; Viral beredarnya foto hiu paus yang dipotong-potong oleh warga di pesisir Kecamatan Jawai, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat (Kalbar), kembali menyoroti lemahnya kesadaran konservasi terhadap satwa laut dilindungi. Otoritas setempat langsung bergerak menurunkan tim untuk &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":176817,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[2273,2274],"tags":[19592,19594,19591,19590,19595,19596,4861,19593,2632,17171],"class_list":["post-176815","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kalimantan-barat-kalbar","category-kabupaten-sambas-provinsi-kalimantan-barat-kalbar","tag-bpspl-pontianak","tag-cites","tag-geger-lintang","tag-hiu-paus","tag-iucn","tag-jawai","tag-kalimantan-barat","tag-konservasi-laut","tag-sambas","tag-satwa-dilindungi"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/176815","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=176815"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/176815\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":176819,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/176815\/revisions\/176819"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/176817"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=176815"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=176815"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=176815"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}