{"id":177735,"date":"2026-04-14T17:35:20","date_gmt":"2026-04-14T09:35:20","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=177735"},"modified":"2026-04-14T17:48:32","modified_gmt":"2026-04-14T09:48:32","slug":"kera-liar-mengganas-warga-kobar-khawatir-keselamatan-anak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/kera-liar-mengganas-warga-kobar-khawatir-keselamatan-anak\/","title":{"rendered":"Kera Liar Mengganas, Warga Kobar Khawatir Keselamatan Anak"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><em>Berkurangnya sumber makanan di habitat alami diduga memicu kawanan kera masuk ke permukiman warga di Raja Seberang.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>KOTAWARINGIN BARAT<\/strong> &#8211; Gangguan satwa liar di permukiman warga semakin meningkat, setelah kawanan kera berekor panjang dilaporkan berulang kali masuk ke rumah warga di Kelurahan Raja Seberang, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah (Kalteng), dalam beberapa bulan terakhir.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kemunculan kawanan kera ini dinilai sebagai dampak berkurangnya sumber pakan di habitat alami, sehingga mendorong satwa tersebut mencari makanan ke kawasan permukiman. Aktivitas kera umumnya terjadi pada pagi dan sore hari dengan bergerombol, lalu bersembunyi di kolong rumah panggung milik warga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Akibatnya, warga mengalami kerugian materiil sekaligus kekhawatiran terhadap keselamatan keluarga, terutama anak-anak. Kera diketahui kerap masuk ke dapur dan mengambil makanan ketika situasi lengah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKalau lengah, mereka keluar lalu masuk ke dapur atau mengincar telur ayam,\u201d ujar Wawan, warga RT 08 Raja Seberang, sebagaimana dilansir Radarsampit, Selasa (14\/04\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kejadian serupa juga dialami warga lain yang kehilangan hasil ternak akibat ulah satwa tersebut. Telur ayam yang disimpan di kandang dilaporkan rusak dan dimakan oleh kawanan kera.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKera ini muncul pagi dan sore hari. Sudah diusir, bahkan ditembak, tetapi tetap kembali,\u201d kata Abidin, warga RT 03.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berbagai upaya telah dilakukan warga untuk mengusir kawanan kera, mulai dari pengusiran secara manual hingga penggunaan senapan angin. Namun, langkah tersebut belum efektif karena kera tetap kembali ke lokasi permukiman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Situasi ini menuntut penanganan lebih lanjut dari pihak terkait, mengingat potensi konflik antara manusia dan satwa liar dapat semakin meningkat apabila tidak segera diatasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Warga berharap ada solusi konkret dari pemerintah maupun instansi terkait untuk mengendalikan populasi kera serta mengembalikan keseimbangan antara habitat alami dan kawasan permukiman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Fenomena ini menjadi peringatan penting akan dampak perubahan lingkungan terhadap perilaku satwa liar, yang pada akhirnya berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. []\n<p>Redaksi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Berkurangnya sumber makanan di habitat alami diduga memicu kawanan kera masuk ke permukiman warga di Raja Seberang. KOTAWARINGIN BARAT &#8211; Gangguan satwa liar di permukiman warga semakin meningkat, setelah kawanan kera berekor panjang dilaporkan berulang kali masuk ke rumah warga di Kelurahan Raja Seberang, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah (Kalteng), dalam &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":177738,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[2259,9287],"tags":[20355,4418,20351,8710,20352,6001,6570,13673,20353,20354],"class_list":["post-177735","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kalimantan-tengah","category-pangkalan-bun","tag-gangguan-kera","tag-kalteng","tag-kera-liar","tag-kobar","tag-konflik-satwa-liar","tag-kotawaringin-barat","tag-lingkungan","tag-pangkalan-bun","tag-permukiman-warga","tag-raja-seberang"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/177735","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=177735"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/177735\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":177744,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/177735\/revisions\/177744"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/177738"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=177735"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=177735"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=177735"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}