{"id":178767,"date":"2026-04-18T11:17:25","date_gmt":"2026-04-18T03:17:25","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=178767"},"modified":"2026-04-18T11:19:08","modified_gmt":"2026-04-18T03:19:08","slug":"tak-buru-buru-rencana-catra-borobudur-masih-dikaji","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/tak-buru-buru-rencana-catra-borobudur-masih-dikaji\/","title":{"rendered":"Tak Buru-buru, Rencana Catra Borobudur Masih Dikaji"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2446\" data-end=\"2558\"><em>Pemerintah menunda keputusan pemasangan catra di Candi Borobudur sambil menunggu kajian dan aspirasi masyarakat.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"0\" data-end=\"208\"><strong data-start=\"0\" data-end=\"11\">JAKARTA<\/strong> &#8211; Rencana pemasangan <em data-start=\"33\" data-end=\"40\">catra<\/em> di Candi Borobudur belum akan direalisasikan dalam waktu dekat karena masih menunggu hasil kajian mendalam serta penyerapan aspirasi masyarakat, khususnya umat Buddha.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"210\" data-end=\"450\">Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan, keputusan terkait pemasangan elemen tersebut tidak dilakukan secara terburu-buru. Pemerintah memastikan seluruh proses mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari kajian ilmiah hingga respons publik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"452\" data-end=\"678\">\u201cPemasangan tersebut akan dilakukan pada waktu yang tepat, dengan mempertimbangkan aspirasi masyarakat, khususnya umat Buddha,\u201d kata Fadli dikutip dari Antara, Sabtu (18\/4\/2026), sebagaimana dilansir Antara, Sabtu (18\/4\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"680\" data-end=\"1041\">Menurut Fadli, rencana pemasangan <em data-start=\"714\" data-end=\"721\">catra<\/em> merupakan bagian dari pendekatan <em data-start=\"755\" data-end=\"772\">living heritage<\/em> yang kini didorong oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Konsep <em data-start=\"879\" data-end=\"896\">living heritage<\/em> menempatkan situs budaya sebagai warisan yang tidak hanya bersifat statis, tetapi juga hidup dan berkembang seiring interaksi dengan masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1043\" data-end=\"1294\">\u201cIni merupakan bentuk adaptasi. Tidak ada yang mengganggu karena semuanya melalui proses panjang, termasuk diskusi dan forum grup diskusi (<em data-start=\"1182\" data-end=\"1206\">focus group discussion<\/em> \/ FGD) bersama para ahli, seperti sejarawan, budayawan, hingga arkeolog,\u201d ungkap Fadli.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1296\" data-end=\"1505\">Ia menambahkan, pelibatan berbagai pemangku kepentingan dalam forum diskusi menjadi bagian penting untuk memastikan setiap keputusan tetap menghormati nilai sejarah sekaligus relevan dengan perkembangan zaman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1507\" data-end=\"1736\">Dengan masih berlangsungnya proses kajian, pemerintah membuka ruang dialog lebih luas agar kebijakan yang diambil tidak menimbulkan polemik, sekaligus menjaga kelestarian dan makna Candi Borobudur sebagai warisan budaya dunia. []\n<p data-start=\"1507\" data-end=\"1736\">Redaksi1<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pemerintah menunda keputusan pemasangan catra di Candi Borobudur sambil menunggu kajian dan aspirasi masyarakat. JAKARTA &#8211; Rencana pemasangan catra di Candi Borobudur belum akan direalisasikan dalam waktu dekat karena masih menunggu hasil kajian mendalam serta penyerapan aspirasi masyarakat, khususnya umat Buddha. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan, keputusan terkait pemasangan elemen tersebut tidak dilakukan secara terburu-buru. &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":92,"featured_media":178783,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[9295,35],"tags":[21272,21273,9668,4965,18550,21274,1882,21276,15982,21275],"class_list":["post-178767","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-jakarta","category-berita-nasional","tag-candi-borobudur","tag-catra-borobudur","tag-fadli-zon","tag-fgd","tag-kementerian-kebudayaan","tag-living-heritage","tag-pelestarian-budaya","tag-umat-buddha","tag-unesco","tag-warisan-budaya"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/178767","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/92"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=178767"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/178767\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":178784,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/178767\/revisions\/178784"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/178783"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=178767"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=178767"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=178767"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}