{"id":180382,"date":"2026-04-24T09:25:20","date_gmt":"2026-04-24T01:25:20","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=180382"},"modified":"2026-04-24T09:25:45","modified_gmt":"2026-04-24T01:25:45","slug":"ancaman-15-tahun-tiga-terdakwa-molotov-hanya-dituntut-9-bulan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/ancaman-15-tahun-tiga-terdakwa-molotov-hanya-dituntut-9-bulan\/","title":{"rendered":"Ancaman 15 Tahun, Tiga Terdakwa Molotov Hanya Dituntut 9 Bulan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><em>Jaksa menuntut tiga terdakwa kasus perakitan bom molotov dengan hukuman sembilan bulan penjara, sementara kuasa hukum menilai tuntutan tersebut ringan dan tidak rinci.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>SAMARINDA <\/strong>&#8211; Sidang perkara dugaan perakitan bom molotov dengan tiga terdakwa di <span class=\"hover:entity-accent entity-underline inline cursor-pointer align-baseline\"><span class=\"whitespace-normal\">Pengadilan Negeri Samarinda<\/span><\/span> memasuki agenda pembacaan tuntutan pada Kamis (23\/04\/2026). Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut masing-masing terdakwa dengan pidana penjara selama sembilan bulan berdasarkan fakta hukum yang terungkap di persidangan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perkara ini melibatkan Suriya Ehrikals Langoday dalam perkara Nomor 1039\/Pid.Sus\/2025\/PN Smr, serta Niko Hendro Simanjuntak dan Andi Johan Erik Manurung dalam perkara Nomor 1038\/Pid.Sus\/2025\/PN Smr. Sidang berlangsung dengan agenda pembacaan tuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Muhammad Alfiqri di hadapan majelis hakim.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam persidangan, JPU menyampaikan tuntutan pidana terhadap ketiga terdakwa dengan mempertimbangkan peran masing-masing dalam perkara. \u201cDengan pidana penjara masing-masing selama 9 bulan penjara,\u201d ujarnya.<\/p>\n<figure id=\"attachment_180438\" aria-describedby=\"caption-attachment-180438\" style=\"width: 700px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-180438\" src=\"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/6291569679654391848.jpg\" alt=\"\" width=\"700\" height=\"525\" srcset=\"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/6291569679654391848.jpg 1280w, https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/6291569679654391848-300x225.jpg 300w, https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/6291569679654391848-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/6291569679654391848-768x576.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 700px) 100vw, 700px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-180438\" class=\"wp-caption-text\">Kuasa hukum terdakwa, Rahmad Fauzi<\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kuasa hukum terdakwa, Rahmad Fauzi, membenarkan bahwa JPU telah membacakan tuntutan pidana penjara selama sembilan bulan terhadap para terdakwa. \u201cTadi dari penuntut umum telah mengajukan tuntutan, itu ditahan selama 9 bulan,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rahmad menilai tuntutan tersebut tergolong ringan jika dibandingkan dengan ancaman pidana maksimal dalam pasal yang dikenakan, meskipun terdapat sejumlah catatan terhadap substansi tuntutan. \u201cTerkait tuntutannya sebenarnya itu bisa dibilang ringan,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia juga mengkritisi isi tuntutan yang dinilai tidak menguraikan secara rinci perbuatan masing-masing terdakwa. Menurutnya, JPU hanya menyebutkan unsur-unsur umum tanpa menjelaskan secara spesifik tindakan yang dilakukan para terdakwa dalam perkara tersebut. \u201cDi dalam tuntutan penuntut umum tidak menjelaskan apa yang mereka perbuat,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lebih lanjut, Rahmad menyebut bahwa uraian dalam tuntutan cenderung menyerupai surat dakwaan yang sebelumnya telah dibacakan dalam persidangan. \u201cLebih banyak kayak copy paste dakwaan ya,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam aspek hukum, Rahmad menjelaskan bahwa JPU menggunakan ketentuan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) baru, khususnya Pasal 306 juncto Pasal 20 huruf C. \u201cIni harusnya memakai KUHP baru, dan tadi terbukti memang penuntut umum memakai KUHP baru yaitu pasal 306 juncto pasal 20 huruf C,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia menambahkan, pihaknya akan menyiapkan pembelaan atau pledoi pada sidang berikutnya dengan menyoroti ketidakjelasan uraian perbuatan dalam tuntutan JPU.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rahmad juga menilai tuntutan sembilan bulan penjara telah diperkirakan sebelumnya karena tidak adanya korban dalam perkara tersebut serta kondisi barang bukti yang dinilai belum sempurna. \u201cKalau mengenai tuntutan ini sebenarnya sudah kita prediksi rendah,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berdasarkan ketentuan pasal yang dikenakan, ancaman pidana maksimal dalam perkara ini dapat mencapai 15 tahun penjara. Namun, rendahnya tuntutan dinilai dipengaruhi oleh fakta bahwa perbuatan para terdakwa belum menimbulkan dampak luas. \u201cKarena belum ada korban dan ini masih kita lihat barang itu belum sempurna,\u201d pungkasnya. []\n<p style=\"text-align: justify;\">Penulis: Yus Rizal Zulfikar | Penyunting: Nursiah<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jaksa menuntut tiga terdakwa kasus perakitan bom molotov dengan hukuman sembilan bulan penjara, sementara kuasa hukum menilai tuntutan tersebut ringan dan tidak rinci. SAMARINDA &#8211; Sidang perkara dugaan perakitan bom molotov dengan tiga terdakwa di Pengadilan Negeri Samarinda memasuki agenda pembacaan tuntutan pada Kamis (23\/04\/2026). Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut masing-masing terdakwa dengan pidana penjara &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":66,"featured_media":180383,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[26,37],"tags":[17743,16649,18886,14439,22682,5848,609,22681,20722,22680],"class_list":["post-180382","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kalimantan-timur-kaltim","category-kota-samarinda","tag-hukum-pidana-indonesia","tag-kasus-bom-molotov","tag-kuhp-baru","tag-pengadilan-negeri-samarinda","tag-perkara-pidana-samarinda","tag-pledoi","tag-samarinda","tag-sidang-pidana-samarinda","tag-terdakwa-bom-molotov","tag-tuntutan-jaksa"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/180382","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/66"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=180382"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/180382\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":180442,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/180382\/revisions\/180442"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/180383"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=180382"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=180382"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=180382"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}