{"id":180810,"date":"2026-04-25T17:46:55","date_gmt":"2026-04-25T09:46:55","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=180810"},"modified":"2026-04-25T17:46:55","modified_gmt":"2026-04-25T09:46:55","slug":"sungai-tercemar-ditandai-ikan-sapu-sapu-ini-penjelasannya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/sungai-tercemar-ditandai-ikan-sapu-sapu-ini-penjelasannya\/","title":{"rendered":"Sungai Tercemar Ditandai Ikan Sapu-sapu, Ini Penjelasannya"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"0\" data-end=\"257\"><em>Dominasi ikan sapu-sapu di sungai dinilai sebagai indikator biologis menurunnya kualitas air dan terganggunya ekosistem<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"0\" data-end=\"257\"><strong data-start=\"0\" data-end=\"11\">BANDUNG<\/strong> &#8211; Meningkatnya dominasi ikan sapu-sapu di sejumlah sungai menjadi peringatan serius atas menurunnya kualitas air, menurut Gubernur Jawa Barat (Jabar), Dedi Mulyadi, yang menilai fenomena tersebut sebagai indikator biologis pencemaran lingkungan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"259\" data-end=\"459\">Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa keberadaan ikan sapu-sapu yang semakin mendominasi perairan tidak bisa dianggap sebagai fenomena alam biasa, melainkan sinyal terganggunya keseimbangan ekosistem sungai.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"461\" data-end=\"692\">&#8220;Jadi kalau sungai mengalami penurunan kualitas, maka yang hidup hanya sapu-sapu. Di mana pun ada air yang tercemar, di situ pasti ikan sapu-sapu akan merajai,&#8221; kata Dedi di Bandung, sebagaimana dilansir Antara, Sabtu (25\/04\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"694\" data-end=\"906\">Menurutnya, ikan sapu-sapu merupakan spesies yang mampu bertahan dalam kondisi air dengan kualitas rendah, berbeda dengan ikan endemik yang cenderung membutuhkan lingkungan yang lebih bersih untuk bertahan hidup.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"908\" data-end=\"1086\">Dominasi spesies tersebut, lanjutnya, menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam ekosistem perairan, yang berpotensi mengancam keberlangsungan keanekaragaman hayati di sungai.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1088\" data-end=\"1274\">Fenomena ini juga menjadi indikator bahwa tingkat pencemaran air telah mencapai kondisi yang memprihatinkan, sehingga diperlukan langkah penanganan yang lebih serius dari berbagai pihak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1276\" data-end=\"1441\">Dedi menekankan pentingnya kesadaran bersama dalam menjaga kebersihan sungai, sekaligus mendorong upaya pemulihan kualitas air agar ekosistem dapat kembali seimbang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1443\" data-end=\"1636\">Ke depan, kondisi ini diharapkan menjadi perhatian utama dalam kebijakan pengelolaan lingkungan, sehingga keberadaan ikan endemik dapat kembali terjaga dan kualitas air sungai dapat membaik. []\n<p data-start=\"1443\" data-end=\"1636\">Redaksi1<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dominasi ikan sapu-sapu di sungai dinilai sebagai indikator biologis menurunnya kualitas air dan terganggunya ekosistem BANDUNG &#8211; Meningkatnya dominasi ikan sapu-sapu di sejumlah sungai menjadi peringatan serius atas menurunnya kualitas air, menurut Gubernur Jawa Barat (Jabar), Dedi Mulyadi, yang menilai fenomena tersebut sebagai indikator biologis pencemaran lingkungan. Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa keberadaan ikan sapu-sapu yang &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":92,"featured_media":180811,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[9295,35],"tags":[7899,9639,23048,23049,23046,7742,8649,23047,6570,18833],"class_list":["post-180810","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-jakarta","category-berita-nasional","tag-bandung","tag-dedi-mulyadi","tag-ekosistem","tag-ikan-endemik","tag-ikan-sapu-sapu","tag-jabar","tag-jawa-barat","tag-kualitas-sungai","tag-lingkungan","tag-pencemaran-air"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/180810","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/92"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=180810"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/180810\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":180834,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/180810\/revisions\/180834"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/180811"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=180810"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=180810"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=180810"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}