{"id":181822,"date":"2026-04-28T23:35:33","date_gmt":"2026-04-28T15:35:33","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=181822"},"modified":"2026-04-28T23:35:33","modified_gmt":"2026-04-28T15:35:33","slug":"kontras-soroti-peradilan-militer-di-mk-impunitas-jadi-isu-utama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/kontras-soroti-peradilan-militer-di-mk-impunitas-jadi-isu-utama\/","title":{"rendered":"KontraS Soroti Peradilan Militer di MK, Impunitas Jadi Isu Utama"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2586\" data-end=\"2722\"><em>KontraS menilai peradilan militer berpotensi mempertahankan impunitas dan mendorong reformasi melalui uji materi di Mahkamah Konstitusi.<\/em><\/p>\n<p data-start=\"0\" data-end=\"346\"><strong data-start=\"0\" data-end=\"13\">JAKARTA &#8211;<\/strong> Koalisi masyarakat sipil melalui Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) menilai sistem peradilan militer berpotensi mempertahankan impunitas bagi prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang terlibat tindak pidana umum, sehingga mendorong perubahan regulasi melalui uji materi di Mahkamah Konstitusi (MK).<\/p>\n<p data-start=\"348\" data-end=\"567\">Pandangan tersebut disampaikan Koordinator KontraS Dimas Bagus Arya saat menjadi saksi pemohon dalam perkara nomor 260\/PUU-XXIII\/2025 terkait pengujian materiil Undang-Undang (UU) Peradilan Militer di MK, Selasa (28\/4).<\/p>\n<p data-start=\"569\" data-end=\"767\">Dalam keterangannya, Dimas menekankan bahwa praktik peradilan militer selama ini dinilai belum mampu menjamin akuntabilitas secara optimal, terutama ketika anggota TNI diadili dalam sistem internal.<\/p>\n<p data-start=\"769\" data-end=\"1149\">&#8220;Sejak dibentuknya organisasi KontraS, pemantauan dan advokasi terhadap praktik peradilan militer sebagai salah satu fokus utama sebab kami melihat selama militer yang melakukan kejahatan diadili di pengadilannya sendiri atau forum <em data-start=\"1001\" data-end=\"1011\">internum<\/em>, maka impunitas akan terus berulang,&#8221; ujar Dimas di hadapan hakim konstitusi, sebagaimana diberitakan Cnn Indonesia, Selasa (28\/04\/2026).<\/p>\n<p data-start=\"1151\" data-end=\"1394\">Menurutnya, mekanisme peradilan yang tertutup berisiko menghambat transparansi dan keadilan bagi korban, sehingga diperlukan reformasi sistem hukum agar penanganan perkara pidana umum yang melibatkan prajurit dapat dialihkan ke peradilan umum.<\/p>\n<p data-start=\"1396\" data-end=\"1606\">Uji materi UU Peradilan Militer ini menjadi bagian dari upaya mendorong perubahan kebijakan hukum yang dinilai lebih menjamin prinsip kesetaraan di hadapan hukum serta memperkuat perlindungan hak asasi manusia.<\/p>\n<p data-start=\"1608\" data-end=\"1828\">KontraS berharap MK dapat mempertimbangkan aspek keadilan substantif dalam putusannya, sehingga praktik impunitas tidak lagi berulang dan sistem peradilan di Indonesia menjadi lebih transparan serta akuntabel ke depan.[]\n<p data-start=\"1608\" data-end=\"1828\">Redaksi1<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KontraS menilai peradilan militer berpotensi mempertahankan impunitas dan mendorong reformasi melalui uji materi di Mahkamah Konstitusi. JAKARTA &#8211; Koalisi masyarakat sipil melalui Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) menilai sistem peradilan militer berpotensi mempertahankan impunitas bagi prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang terlibat tindak pidana umum, sehingga mendorong perubahan regulasi melalui uji &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":92,"featured_media":181828,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[9295,35],"tags":[23911,21290,17825,22067,17823,6771,23909,23912,1792,23910],"class_list":["post-181822","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-jakarta","category-berita-nasional","tag-dimas-bagus-arya","tag-hak-asasi-manusia","tag-hukum-indonesia","tag-impunitas","tag-kontras","tag-mahkamah-konstitusi","tag-peradilan-militer","tag-reformasi-hukum","tag-tni","tag-uji-materi-uu"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/181822","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/92"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=181822"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/181822\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":181829,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/181822\/revisions\/181829"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/181828"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=181822"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=181822"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=181822"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}