{"id":182404,"date":"2026-04-30T18:26:57","date_gmt":"2026-04-30T10:26:57","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=182404"},"modified":"2026-04-30T18:39:11","modified_gmt":"2026-04-30T10:39:11","slug":"dugaan-pembakaran-lahan-7-hektare-di-sebatik-hangus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/dugaan-pembakaran-lahan-7-hektare-di-sebatik-hangus\/","title":{"rendered":"Dugaan Pembakaran Lahan, 7 Hektare di Sebatik Hangus"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><em>Kebakaran lahan seluas 7 hektare di Pulau Sebatik diduga akibat ulah manusia, memicu desakan penegakan hukum di Nunukan.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>NUNUKAN<\/strong>\u00a0&#8211; Dugaan pembakaran lahan kembali mencuat setelah kebakaran menghanguskan sekitar 7 hektare area perkebunan di Jalan Somel, RT 08, Desa Balansiku, Pulau Sebatik, Rabu (29\/04\/2026). Peristiwa ini memicu desakan penegakan hukum karena dinilai bukan semata faktor alam, melainkan kuat dugaan akibat ulah manusia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Nunukan Wahyudi Kawariyin menegaskan pentingnya tindakan tegas terhadap pelaku pembakaran lahan guna memberikan efek jera. Ia menilai sebagian besar kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang ditangani petugas berasal dari kesengajaan atau human error.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKalau tidak ada efek jera, itu terjadi terus. Jadi memang perlu penindakan hukum bagi pelaku pembakar lahan. Kita yang di lapangan setengah mati memadamkan. Ini kemarau, sumber air sulit diperoleh,\u201d kata Wahyudi, sebagaimana dilansir Kompas, Kamis (30\/04\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kebakaran tersebut terjadi di kawasan perkebunan warga yang kemudian merembet hingga ke lahan kelapa sawit. Api dengan cepat meluas hingga mencakup sekitar 7 hektare sebelum akhirnya ditangani oleh Pos Pemadam Kebakaran (Damkar) Sektor Sebatik yang mengerahkan sejumlah armada.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Komandan Pleton Damkar Sektor Sebatik Mulyadi menjelaskan, titik api diduga berasal dari sisa kebakaran sebelumnya yang belum sepenuhnya padam. Kondisi cuaca panas dalam beberapa hari terakhir memicu bara kembali menyala dan meluas ke wilayah sekitar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u2018\u2019Titik api sebelumnya sempat terguyur hujan tapi kemungkinan belum padam sepenuhnya. Sehingga saat cuaca panas beberapa hari ini, titik api muncul kembali. Kobaran api awalnya membakar lahan warga di RT 07 dan menjalar ke kawasan RT 08,&#8221; tutur Mulyadi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia juga menduga adanya unsur kesengajaan dalam kejadian tersebut, mengingat praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar masih kerap terjadi di wilayah itu. Mulyadi menegaskan bahwa tindakan tersebut sangat berbahaya, terutama saat musim kemarau yang meningkatkan potensi kebakaran meluas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Data Disdamkarmat Nunukan mencatat, sepanjang April 2026 telah terjadi delapan kasus kebakaran lahan dengan total luasan mencapai puluhan hektare. Kondisi ini diperparah dengan prediksi musim kemarau yang lebih panjang dan kering, sehingga meningkatkan kerentanan lahan terhadap api.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mulyadi mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar karena berisiko besar memicu kebakaran yang sulit dikendalikan, terutama di wilayah dengan keterbatasan sumber air.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan meningkatnya frekuensi kejadian, pemerintah daerah berharap adanya kesadaran kolektif masyarakat serta langkah tegas dari Aparat Penegak Hukum (APH) guna menekan angka karhutla dan mencegah kerugian lebih luas di masa mendatang. []\n<p>Redaksi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kebakaran lahan seluas 7 hektare di Pulau Sebatik diduga akibat ulah manusia, memicu desakan penegakan hukum di Nunukan. NUNUKAN\u00a0&#8211; Dugaan pembakaran lahan kembali mencuat setelah kebakaran menghanguskan sekitar 7 hektare area perkebunan di Jalan Somel, RT 08, Desa Balansiku, Pulau Sebatik, Rabu (29\/04\/2026). Peristiwa ini memicu desakan penegakan hukum karena dinilai bukan semata faktor alam, &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":182406,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[27,2248],"tags":[11745,24363,189,24364,1530,17121,2500,4220,2823],"class_list":["post-182404","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kalimantan-utara-kaltara","category-kabupaten-nunukan-provinsi-kalimantan-utara","tag-aph","tag-disdamkarmat-nunukan","tag-karhutla","tag-kebakaran-7-hektare","tag-kebakaran-lahan","tag-musim-kemarau","tag-nunukan","tag-pembakaran-lahan","tag-sebatik"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/182404","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=182404"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/182404\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":182416,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/182404\/revisions\/182416"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/182406"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=182404"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=182404"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=182404"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}