{"id":183281,"date":"2026-05-06T00:06:35","date_gmt":"2026-05-05T16:06:35","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=183281"},"modified":"2026-05-06T00:07:02","modified_gmt":"2026-05-05T16:07:02","slug":"mulai-juni-2026-dhe-sda-wajib-masuk-bank-bumn","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/mulai-juni-2026-dhe-sda-wajib-masuk-bank-bumn\/","title":{"rendered":"Mulai Juni 2026, DHE SDA Wajib Masuk Bank BUMN"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2264\" data-end=\"2404\"><em>Pemerintah mewajibkan devisa hasil ekspor sumber daya alam disimpan di perbankan nasional untuk memperkuat likuiditas dan stabilitas rupiah.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"0\" data-end=\"249\"><strong data-start=\"0\" data-end=\"11\">JAKARTA<\/strong> &#8211; Pemerintah memperketat pengelolaan devisa hasil ekspor sumber daya alam dengan mewajibkan penempatan dana tersebut di perbankan nasional mulai 1 Juni 2026, sebagai upaya memperkuat likuiditas domestik dan stabilitas nilai tukar rupiah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"251\" data-end=\"550\">Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 8 Tahun 2025 tentang perubahan atas PP Nomor 36 Tahun 2023, yang mengatur bahwa Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) wajib ditempatkan pada Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dengan batas konversi ke rupiah maksimal 50 persen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"552\" data-end=\"953\">Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan aturan tersebut telah difinalisasi dan siap diberlakukan sesuai jadwal. \u201cRevisi perubahan terhadap PP 36 sudah difinalisasikan dan akan diberlakukan per 1 Juni 2026. Jadi, perubahan bahwa DHE SDA wajib masuk ke Himbara dan konversi ke rupiah maksimal 50 persen,\u201d ujarnya sebagaimana dilansir Antara, Selasa, (05\/05\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"955\" data-end=\"1254\">Dalam kebijakan tersebut, pemerintah tetap memberikan perlakuan berbeda bagi sektor ekstraktif, khususnya minyak dan gas (<em data-start=\"1077\" data-end=\"1090\">oil and gas<\/em>). Untuk sektor ini, penempatan devisa masih mengikuti ketentuan sebelumnya, yakni minimal 30 persen harus disimpan di rekening bank dalam negeri selama tiga bulan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1256\" data-end=\"1548\">Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan ketersediaan devisa di dalam negeri, sekaligus memperkuat sistem keuangan nasional di tengah dinamika ekonomi global. Pemerintah juga menilai kebijakan ini akan mendorong optimalisasi pemanfaatan hasil ekspor bagi kepentingan pembangunan nasional. []\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1550\" data-end=\"1580\">Redaksi1<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pemerintah mewajibkan devisa hasil ekspor sumber daya alam disimpan di perbankan nasional untuk memperkuat likuiditas dan stabilitas rupiah. JAKARTA &#8211; Pemerintah memperketat pengelolaan devisa hasil ekspor sumber daya alam dengan mewajibkan penempatan dana tersebut di perbankan nasional mulai 1 Juni 2026, sebagai upaya memperkuat likuiditas domestik dan stabilitas nilai tukar rupiah. Kebijakan ini tertuang dalam &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":92,"featured_media":183282,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[1],"tags":[9729,25146,25145,25142,21230,25147,25143,17809,25144,7423],"class_list":["post-183281","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-serba-serbi","tag-airlangga-hartarto","tag-bank-bumn","tag-devisa-ekspor","tag-dhe-sda","tag-ekonomi-indonesia","tag-ekspor-sda","tag-himbara","tag-kebijakan-pemerintah","tag-pp-8-2025","tag-rupiah"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/183281","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/92"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=183281"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/183281\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":183283,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/183281\/revisions\/183283"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/183282"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=183281"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=183281"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=183281"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}