{"id":185801,"date":"2026-05-18T16:18:55","date_gmt":"2026-05-18T08:18:55","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=185801"},"modified":"2026-05-18T16:29:39","modified_gmt":"2026-05-18T08:29:39","slug":"karhutla-mengintai-perkebunan-sawit-baru-di-tana-tidung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/karhutla-mengintai-perkebunan-sawit-baru-di-tana-tidung\/","title":{"rendered":"Karhutla Mengintai Perkebunan Sawit Baru di Tana Tidung"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><em>DPKP KTT mengingatkan masyarakat agar melapor kepada pemerintah desa sebelum membuka lahan sawit, terutama di kawasan gambut yang rawan memicu karhutla.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>TANA TIDUNG &#8211;<\/strong> Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kabupaten Tana Tidung (KTT), Kalimantan Utara (Kaltara), mengingatkan warga agar tidak membuka lahan perkebunan sawit dengan cara membakar karena berisiko memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di kawasan bergambut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Imbauan itu disampaikan menyusul meningkatnya minat masyarakat berinvestasi di sektor perkebunan sawit di KTT. Di tengah tren tersebut, sebagian warga masih memilih cara cepat membuka lahan dengan pembakaran, sehingga berpotensi menimbulkan titik api yang sulit dikendalikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kepala DPKP KTT, Rudi, meminta masyarakat yang hendak membuka lahan dalam skala besar terlebih dahulu melapor kepada pemerintah desa. Langkah itu dinilai penting agar pemerintah setempat dapat melakukan pemantauan dan mengambil tindakan cepat jika terjadi kebakaran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cYang jelas ini kan di masyarakat lagi euforia menanam sawit dan sekarang ini hulu hilirnya nyambung artinya jelas menjanjikan. Harapan saya untuk masyarakat yang membuka lahan melapor dulu ke Pemerintah Desa karena buka lahannya kan luas,\u201d kata Rudi, sebagaimana diwartakan sumber pemerintah daerah, Minggu (17\/05\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Rudi, kondisi geografis KTT yang memiliki banyak lahan gambut membuat api lebih mudah menyebar apabila pembakaran dilakukan tanpa pengawasan. Api di kawasan gambut juga kerap sulit dipadamkan karena bara dapat bertahan di bawah permukaan tanah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKemudian titik api akan menyebar cepat, apalagi ditambah lahannya gambut. Dengan dilaporkannya ke pemerintah desa, harapannya kalau ada kejadian itu bisa cepat dipadamkan,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rudi menyebut sebagian besar kasus karhutla dipicu kelalaian masyarakat saat meninggalkan lokasi pembakaran sebelum api benar-benar padam. Situasi menjadi lebih berbahaya ketika angin kencang datang dan membawa bara api ke area lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cBiasanya muncul masalah kalau ditinggal. Pas malam ditinggal, datang angin kencang, sehingga apinya ke mana-mana, dan itulah yang susah dikendalikan. Kalau mau ditinggal, pastikan benar-benar padam,\u201d pesan Rudi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia menjelaskan, api di lahan gambut tidak selalu terlihat di permukaan. Asap yang masih muncul menjadi tanda adanya bara aktif yang sewaktu-waktu dapat membesar kembali, terutama saat tertiup angin.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cTapi kalau luasannya besar, jangan ditinggal. Harus dilaporkan ke pemerintah desa, untuk memastikan itu. Sebenarnya kalau kita lihat, jika masih ada kumpulan asap, berarti itu masih ada api, dan bisa jadi pemicu kebakaran lahan. Karena itu kalau kena angin itu muncul lagi,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">DPKP KTT berharap masyarakat lebih disiplin dan mengutamakan keselamatan lingkungan dalam membuka lahan. Kewaspadaan sejak awal dinilai penting agar aktivitas perkebunan tidak berubah menjadi bencana karhutla yang merugikan warga dan daerah. []\n<p>Redaksi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>DPKP KTT mengingatkan masyarakat agar melapor kepada pemerintah desa sebelum membuka lahan sawit, terutama di kawasan gambut yang rawan memicu karhutla. TANA TIDUNG &#8211; Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kabupaten Tana Tidung (KTT), Kalimantan Utara (Kaltara), mengingatkan warga agar tidak membuka lahan perkebunan sawit dengan cara membakar karena berisiko memicu kebakaran hutan dan lahan &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":185807,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[27,2283],"tags":[28603,28602,28599,28598,27428,2889,2491,28601,20126,28604,3864,16594,4220,12517,5114,28600,9824,3904],"class_list":["post-185801","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kalimantan-utara-kaltara","category-kabupaten-tana-tidung-provinsi-kalimantan-utara","tag-bahaya-karhutla","tag-buka-lahan-sawit","tag-dpkp-ktt","tag-dpkp-tana-tidung","tag-kabupaten-tana-tidung","tag-kalimantan-utara","tag-kaltara","tag-karhutla-tana-tidung","tag-kebakaran-hutan-dan-lahan","tag-kebun-sawit-tana-tidung","tag-ktt","tag-lahan-gambut","tag-pembakaran-lahan","tag-pemerintah-desa","tag-perkebunan-sawit","tag-rudi","tag-tana-tidung","tag-titik-api"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/185801","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=185801"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/185801\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":185817,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/185801\/revisions\/185817"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/185807"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=185801"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=185801"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=185801"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}