{"id":186400,"date":"2026-05-21T16:13:38","date_gmt":"2026-05-21T08:13:38","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=186400"},"modified":"2026-05-21T16:21:57","modified_gmt":"2026-05-21T08:21:57","slug":"sepak-sawut-bola-api-dayak-bikin-fbim-2026-makin-panas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/sepak-sawut-bola-api-dayak-bikin-fbim-2026-makin-panas\/","title":{"rendered":"Sepak Sawut Bola Api Dayak Bikin FBIM 2026 Makin Panas"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><em>Sepak Sawut kembali memeriahkan FBIM 2026 dengan atraksi bola api dari buah kelapa yang menjadi simbol pelestarian permainan rakyat masyarakat Dayak Kalteng.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>PALANGKA RAYA<\/strong> &#8211; Atraksi permainan bola api khas masyarakat Dayak kembali menjadi magnet dalam Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) 2026 di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng). Sepak Sawut, permainan tradisional yang menggunakan buah kelapa terbakar sebagai bola, menarik perhatian masyarakat karena memadukan keberanian, keterampilan, dan nilai pelestarian budaya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Permainan rakyat tersebut menjadi salah satu agenda budaya yang dihadirkan dalam FBIM 2026. Berbeda dari sepak bola atau futsal pada umumnya, Sepak Sawut menggunakan buah kelapa tua yang dikupas hingga menyisakan serabut, lalu direndam minyak tanah sebelum dibakar saat pertandingan berlangsung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Koordinator Lomba Sepak Sawut FBIM 2026, Edo Nugraha, menjelaskan bahwa teknik pembuatan bola api menjadi bagian penting dalam permainan tersebut, sebagaimana diberitakan Media Center, Rabu, (20\/05\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cCara bermainnya memang mirip seperti permainan sepak bola atau futsal. Perbedaannya, permainan ini menggunakan buah kelapa yang direndam semalaman menggunakan minyak tanah agar saat pertandingan dimulai bolanya tetap menyala dan apinya bertahan lebih lama,\u201d ujarnya, Rabu (20\/05\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Edo mengatakan, pemilihan buah kelapa sebagai bola bukan sekadar pembeda dari olahraga modern. Penggunaan media tersebut merupakan bagian dari tradisi masyarakat Dayak Kalteng yang diwariskan secara turun-temurun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cBola yang digunakan memang bukan bola seperti sepak bola pada umumnya, melainkan buah kelapa karena dari dahulu permainan ini memang menggunakan media tersebut,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam lomba tersebut, setiap tim diperkuat tujuh pemain. Komposisinya terdiri atas lima pemain inti dan dua pemain cadangan. Pertandingan berlangsung dua babak, masing-masing berdurasi 10 menit, dengan waktu istirahat lima menit.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meski terlihat menegangkan karena menggunakan bola api, Sepak Sawut tetap menjadi ruang ekspresi budaya masyarakat lokal. Permainan ini tidak hanya menghadirkan hiburan bagi pengunjung, tetapi juga memperkenalkan identitas budaya Dayak kepada generasi muda dan masyarakat luas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Edo, kehadiran Sepak Sawut dalam FBIM 2026 menjadi bagian dari upaya menjaga permainan rakyat agar tidak hilang di tengah perkembangan zaman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cPermainan rakyat Sepak Sawut ini merupakan warisan budaya asli masyarakat Dayak Kalimantan Tengah. Karena itu melalui FBIM kami ingin terus menjaga, melestarikan, dan memperkenalkan budaya ini kepada masyarakat luas,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Melalui penyelenggaraan FBIM 2026, Sepak Sawut diharapkan semakin dikenal sebagai warisan budaya khas Kalteng yang memiliki nilai sejarah, hiburan, dan edukasi. Permainan ini juga menjadi pengingat bahwa tradisi lokal tetap dapat hidup dan menarik minat publik jika terus diberi ruang dalam agenda kebudayaan daerah. []\n<p>Redaksi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sepak Sawut kembali memeriahkan FBIM 2026 dengan atraksi bola api dari buah kelapa yang menjadi simbol pelestarian permainan rakyat masyarakat Dayak Kalteng. PALANGKA RAYA &#8211; Atraksi permainan bola api khas masyarakat Dayak kembali menjadi magnet dalam Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) 2026 di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng). Sepak Sawut, permainan tradisional yang menggunakan &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":186411,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[2259,2264],"tags":[29465,29462,29463,17221,29464,26951,26950,29467,6051,4418,3561,29466,29461,29460,21275],"class_list":["post-186400","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kalimantan-tengah","category-kota-palangkaraya-provinsi-kalimantan-tengah","tag-atraksi-budaya-kalteng","tag-bola-api","tag-buah-kelapa-terbakar","tag-budaya-dayak","tag-edo-nugraha","tag-fbim-2026","tag-festival-budaya-isen-mulang","tag-festival-budaya-kalteng","tag-kalimantan-tengah","tag-kalteng","tag-palangka-raya","tag-permainan-rakyat","tag-permainan-tradisional-dayak","tag-sepak-sawut","tag-warisan-budaya"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/186400","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=186400"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/186400\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":186417,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/186400\/revisions\/186417"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/186411"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=186400"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=186400"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=186400"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}