{"id":186791,"date":"2026-05-23T01:16:37","date_gmt":"2026-05-22T17:16:37","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=186791"},"modified":"2026-05-23T01:16:37","modified_gmt":"2026-05-22T17:16:37","slug":"usai-keliling-ketapanrame-bi-balikpapan-bawa-29-wartawan-belajar-ketahanan-pangan-di-kampung-organik-brenjonk","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/usai-keliling-ketapanrame-bi-balikpapan-bawa-29-wartawan-belajar-ketahanan-pangan-di-kampung-organik-brenjonk\/","title":{"rendered":"Usai Keliling Ketapanrame, BI Balikpapan Bawa 29 Wartawan Belajar Ketahanan Pangan di Kampung Organik Brenjonk"},"content":{"rendered":"<p>MOJOKERTO\u2013 Rombongan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan bersama 29 wartawan tidak langsung beristirahat usai mengunjungi Desa Wisata Ketapanrame. Semangat mereka masih menyala untuk melanjutkan perjalanan ke Kampung Organik Brenjonk yang terletak di lereng Gunung Penanggungan, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jumat (22\/5\/2026).<\/p>\n<p>Kampung seluas lima hektare yang dikelola oleh Komunitas Brenjonk itu merupakan binaan BI Jawa Timur. Berbeda dari kebun biasa, kawasan ini dirancang sebagai laboratorium hidup yang menggabungkan wisata alam dengan edukasi pertanian organik berbasis masyarakat. Udara sejuk pegunungan dan hamparan lahan asri langsung menyambut para tamu.<\/p>\n<p><strong>Ekosistem dari Hulu ke Hilir<\/strong><\/p>\n<p>Pendiri Kampung Organik Brenjonk, Slamet, menjelaskan bahwa komunitasnya tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi desa secara utuh. Mulai dari pembibitan, penanaman, pengolahan hasil panen menjadi produk turunan (seperti nasi pecel, nasi goreng organik), hingga pemasaran ke pasar premium.<\/p>\n<p>&#8220;Tujuan kami sederhana: produk ibu-ibu kampung ini bisa menembus pasar premium,&#8221; ujar Slamet.<\/p>\n<p>Hasilnya, produk organik Brenjonk kini telah menghuni rak-rak Superindo di 45 toko se-Jawa Timur, serta Rans Market, Papaya, dan Lay-Lay. Bayam organik, misalnya, dijual hingga Rp25.000 per kilogram setelah dikemas premium, jauh di atas harga pasar biasa yang hanya sekitar Rp6.000 per kilogram.<\/p>\n<p><strong>Bertahan 18 Tahun, Raih Kalpataru<\/strong><\/p>\n<p>Berkat kegigihannya, Brenjonk meraih berbagai penghargaan: apresiasi Gubernur Jawa Timur pada 2014 untuk penanggulangan kemiskinan, pengakuan dari BI melalui program Dikdaya, dan puncaknya pada 2024 menerima Kalpataru, penghargaan lingkungan tertinggi di Indonesia.<\/p>\n<p>Slamet menyebutkan bahwa sistem pertanian organik yang dijalankan selama 18 tahun ini sekaligus menjadi solusi menghadapi perubahan iklim. Jerami padi tidak dibakar, melainkan dikomposkan. Sebagian yang masih hijau menjadi pakan ternak, lalu kotoran ternak diolah dengan mikroba menjadi pupuk.<\/p>\n<p>&#8220;Mikroba itu makhluk yang bekerja 24 jam tanpa kita gaji. Kalau sudah begitu, ada krisis apa pun, kami aman,&#8221; jelasnya.<\/p>\n<p>Hasilnya, tanah menjadi gembur dan subur. Saat musim hujan, air meresap sempurna; saat El Nino melanda dan desa lain kekeringan, Brenjonk masih mampu bertahan.<\/p>\n<p><strong>Peran BI Jatim dan Dampak Ekonomi<\/strong><\/p>\n<p>Sejak 2018, BI Jawa Timur menjadi pendamping setia dengan mengadakan sekolah lapang pertanian organik. Para petani dibina hingga memahami sistem, mendapat sertifikasi SNI, dan lisensi Organik Indonesia.<\/p>\n<p>&#8220;Bank Indonesia hadir bukan hanya membantu fasilitas, tetapi juga membangun kualitas SDM kami. Kami dibantu konsultan, pelatihan, hingga kerja sama dengan Universitas Brawijaya,&#8221; kata Slamet.<\/p>\n<p>Hasil pendampingan itu meningkatkan efisiensi biaya produksi. Pertanian konvensional membutuhkan biaya hingga Rp5 juta per hektare, sedangkan sistem organik hanya sekitar Rp3 juta per hektare dan cenderung semakin murah karena tanah semakin sehat.<\/p>\n<p>Selain sektor pertanian, Brenjonk berkembang menjadi destinasi wisata petik sayur dan kuliner organik. Saat ini, kawasan ini menarik sekitar 8.500 pengunjung per bulan dengan perputaran ekonomi kuliner mencapai Rp300 juta per bulan.<\/p>\n<p>Slamet berharap model pemberdayaan seperti Brenjonk dapat direplikasi di berbagai daerah, termasuk Balikpapan. &#8220;Kalau kelompok tani kecil ini kuat, maka ekonomi desa akan bertahan dalam situasi apa pun. Kami sudah membuktikannya saat pandemi maupun ketika harga dolar naik,&#8221; tutupnya.<\/p>\n<p>Penulis: Irwanto.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MOJOKERTO\u2013 Rombongan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan bersama 29 wartawan tidak langsung beristirahat usai mengunjungi Desa Wisata Ketapanrame. Semangat mereka masih menyala untuk melanjutkan perjalanan ke Kampung Organik Brenjonk yang terletak di lereng Gunung Penanggungan, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jumat (22\/5\/2026). Kampung seluas lima hektare yang dikelola oleh Komunitas Brenjonk itu merupakan binaan BI &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":35,"featured_media":186792,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[467],"tags":[],"class_list":["post-186791","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kota-balikpapan"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/186791","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/35"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=186791"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/186791\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":186793,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/186791\/revisions\/186793"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/186792"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=186791"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=186791"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=186791"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}