{"id":189234,"date":"2026-06-05T21:09:50","date_gmt":"2026-06-05T13:09:50","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=189234"},"modified":"2026-06-06T01:14:26","modified_gmt":"2026-06-05T17:14:26","slug":"dari-tradisi-panen-rindang-benua-bangun-wisata-budaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/dari-tradisi-panen-rindang-benua-bangun-wisata-budaya\/","title":{"rendered":"Dari Tradisi Panen, Rindang Benua Bangun Wisata Budaya"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><em>Festival Bengen Lepek Majau di Rindang Benua dinilai berpotensi menjadi agenda wisata budaya unggulan Kutim sekaligus memperkuat pelestarian tradisi Dayak Kenyah.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>KUTAI TIMUR <\/strong>&#8211; Festival Budaya Dayak Kenyah Bengen Lepek Majau di Dusun Rindang Benua, Desa Pinang Raya, Kecamatan Sangatta Selatan, didorong menjadi agenda wisata budaya unggulan Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Selain menjadi ungkapan syukur atas hasil panen, festival ini dinilai memiliki potensi besar untuk memperkuat pariwisata, pelestarian adat, dan pembangunan kawasan budaya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Festival yang digelar Jumat (05\/06\/2026) itu menampilkan ritual adat, tarian tradisional, musik khas Dayak, hingga busana adat. Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Bupati (Wabup) Kutim Mahyunadi, sebagaimana dilansir Sumber Berita, Jumat (05\/06\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mahyunadi mengapresiasi pelestarian budaya yang dilakukan masyarakat Dusun Rindang Benua. Menurutnya, Bengen Lepek Majau tidak hanya menjadi sarana menjaga tradisi leluhur, tetapi juga memperkuat persatuan dalam keberagaman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSaya melihat masyarakat Dayak di sini sangat terbuka dan inklusif. Berbagai suku dapat berbaur dan bersama-sama melestarikan budaya Dayak. Ini menjadi simbol bahwa keberagaman dapat disatukan dalam sebuah kebersamaan yang indah,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mahyunadi menilai makna yang terkandung dalam tarian dan simbol budaya yang ditampilkan mencerminkan semangat persatuan masyarakat. Perbedaan suku dan latar belakang dinilai dapat menyatu menjadi kekuatan dalam membangun daerah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia juga mendorong agar Festival Bengen Lepek Majau masuk dalam kalender event tahunan daerah sebagai salah satu agenda budaya unggulan Kutim.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cLokasinya dekat dengan pusat kota sehingga berpotensi menjadi destinasi wisata budaya yang menarik. Jika fasilitas pendukung terus ditingkatkan, kegiatan ini akan semakin meriah dan mampu menarik lebih banyak pengunjung,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam kesempatan tersebut, Mahyunadi juga menyampaikan perkembangan rencana pemekaran Desa Pinang Raya. Ia mengatakan, usulan pembentukan desa baru yang diajukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutim telah mendapat persetujuan pemerintah pusat dan kini menunggu penerbitan kode desa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Sangatta Selatan Rusmiati mengatakan, kegiatan budaya seperti Bengen Lepek Majau perlu terus mendapat dukungan karena menjadi sarana pelestarian budaya sekaligus mampu mendorong sektor pariwisata daerah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKami berharap ke depan kelompok sadar wisata dapat kembali aktif sehingga pengelolaan destinasi wisata budaya di wilayah ini semakin baik,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kepala Adat Dayak Kenyah Rindang Benua Jating Lahang menjelaskan, Bengen Lepek Majau merupakan tradisi turun-temurun sebagai bentuk rasa syukur masyarakat setelah menyelesaikan masa panen. Pertanian masih menjadi tulang punggung perekonomian warga setempat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena itu, Jating menyebut dukungan pemerintah terhadap infrastruktur dan sarana pendukung sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Rindang Benua.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam kegiatan tersebut, masyarakat menyampaikan sejumlah usulan pembangunan, antara lain penyediaan air bersih, peningkatan jalan lingkungan, pembangunan jembatan permanen, bantuan bagi kelompok tani, pembukaan akses jalan usaha tani, penyelesaian pembangunan rumah ibadah, pengembangan fasilitas pendidikan, serta pembangunan Balai Adat dan Balai Budaya Rindang Benua.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cBalai adat dan balai budaya sangat penting bagi kami sebagai pusat pelestarian budaya, kegiatan sosial, serta pengembangan kesenian masyarakat Dayak di Rindang Benua,\u201d kata Jating.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Festival Bengen Lepek Majau tahun ini menjadi bukti bahwa budaya tidak hanya diwariskan, tetapi juga dapat menjadi ruang kebersamaan lintas suku, penguatan identitas lokal, dan pintu masuk pengembangan wisata budaya di Kutim. []\n<p>Redaksi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Festival Bengen Lepek Majau di Rindang Benua dinilai berpotensi menjadi agenda wisata budaya unggulan Kutim sekaligus memperkuat pelestarian tradisi Dayak Kenyah. KUTAI TIMUR &#8211; Festival Budaya Dayak Kenyah Bengen Lepek Majau di Dusun Rindang Benua, Desa Pinang Raya, Kecamatan Sangatta Selatan, didorong menjadi agenda wisata budaya unggulan Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Selain menjadi ungkapan syukur &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":189242,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[26,480],"tags":[33553,17221,14674,33555,33557,33558,33560,846,1699,762,33561,33552,33559,33554,33556],"class_list":["post-189234","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kalimantan-timur-kaltim","category-kabupaten-kutai-timur","tag-bengen-lepek-majau","tag-budaya-dayak","tag-dayak-kenyah","tag-desa-pinang-raya","tag-festival-budaya-dayak-kenyah","tag-jating-lahang","tag-kalender-event-kutim","tag-kutai-timur","tag-kutim","tag-mahyunadi","tag-pemekaran-desa-pinang-raya","tag-rindang-benua","tag-rusmiati","tag-sangatta-selatan","tag-wisata-budaya-kutim"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/189234","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=189234"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/189234\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":189244,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/189234\/revisions\/189244"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/189242"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=189234"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=189234"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=189234"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}