{"id":189569,"date":"2026-06-08T17:33:33","date_gmt":"2026-06-08T09:33:33","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=189569"},"modified":"2026-06-08T17:42:35","modified_gmt":"2026-06-08T09:42:35","slug":"misteri-api-rumah-fia-mulai-terkuak-ugm-deteksi-struktur-retakan-tanah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/misteri-api-rumah-fia-mulai-terkuak-ugm-deteksi-struktur-retakan-tanah\/","title":{"rendered":"Misteri Api Rumah Fia Mulai Terkuak, UGM Deteksi Struktur Retakan Tanah"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><em>Hasil pemindaian georadar UGM menemukan struktur retakan di bawah rumah Fia di Sleman yang diduga menjadi jalur keluarnya gas pemicu fenomena api berulang.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>YOGYAKARTA<\/strong> &#8211; Dugaan sumber fenomena api misterius yang berulang kali muncul di rumah Mutfiana alias Fia di Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mulai mengarah pada keberadaan retakan bawah permukaan tanah yang diduga menjadi jalur keluarnya senyawa pemicu kebakaran. Temuan tersebut diperoleh tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui pemindaian menggunakan perangkat georadar di lokasi kejadian, Senin (08\/06\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penelitian ini menjadi bagian dari upaya mengungkap penyebab teror api yang telah terjadi hingga 113 kali dalam 17 hari terakhir di rumah milik Fia. Tim peneliti dari Laboratorium (Lab) Geofisika Eksplorasi Departemen Teknik Geologi UGM mendeteksi sejumlah struktur retakan pada lapisan tanah di bawah bangunan yang memiliki pola tertentu dan berpotensi berkaitan dengan titik-titik kemunculan api.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Peneliti UGM, Saptono Budi Samodra, menjelaskan bahwa hasil pemindaian menunjukkan adanya struktur retakan pada tanah asli yang berada di bawah lapisan urukan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Jadi yang kalau di atas ini urugan itu terlihat tadi di alat, kemudian di bawah itu masih ada tanah aslinya kan. Tanah asli itu kelihatan ada yang menunjukkan ada pola atau struktur retakan di beberapa tempat,&#8221; kata Saptono.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Retakan tersebut teridentifikasi melalui perangkat georadar yang bekerja menggunakan pulsa gelombang elektromagnetik berfrekuensi 60 megahertz (MHz) untuk memetakan struktur bawah permukaan tanah. Dari hasil pembacaan awal, retakan terlihat dalam berbagai ukuran, mulai dari garis rambut hingga struktur yang memutus beberapa lapisan tanah. Sebagian retakan tampak tegak lurus, sementara lainnya miring, namun seluruhnya masih memerlukan analisis lebih lanjut untuk memastikan keterkaitannya dengan kemunculan api.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Saptono, kedalaman retakan yang terdeteksi bervariasi. Namun, kemampuan georadar terbatas hanya sampai kedalaman sekitar 20 meter di bawah permukaan tanah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Mungkin di bawah masih masih berlanjut, cuma keterbatasan kemampuan alat yang tidak bisa mendeteksi sampai lebih dalam,&#8221; terangnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia menegaskan bahwa hasil yang diperoleh saat ini masih berupa pembacaan awal. Tim peneliti masih harus melakukan pengolahan data lanjutan, termasuk penggunaan metode geolistrik dan pengeboran tangan untuk mengetahui karakteristik lapisan tanah serta memastikan hubungan antara retakan dengan senyawa yang diduga memicu kebakaran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kalau georadar lebih detail (daripada hasil pembacaan geolistrik), cuma dia memang keterbatasannya enggak bisa dalam,&#8221; ungkapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saptono mengatakan penelitian yang dilakukan timnya berfokus pada aspek geologi guna mencari kemungkinan penyebab lain di luar aktivitas pemotongan ayam yang sebelumnya diduga berkaitan dengan kemunculan gas pemicu api.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;(Meneliti) aspek geologi kira-kira ada enggak ya yang penyebab lain yang bukan dari terkait dengan pemotongan ayam,&#8221; ucap Saptono.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebelumnya, tim dari Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM menyimpulkan sementara bahwa api kemungkinan dipicu oleh gas hidrogen (H2) dan gas fosfin (PH3) yang berasal dari fermentasi limbah organik berupa campuran kotoran, darah, air limbah, serta bulu ayam. Dugaan tersebut muncul karena keluarga Fia diketahui menjalankan usaha pemotongan ayam di rumah mereka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di sisi lain, tim peneliti Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta juga melakukan investigasi dari aspek geologi. Tim yang dipimpin Guru Besar sekaligus Dekan Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME) UPN Veteran Yogyakarta, Basuki Rahmat, menemukan indikasi batuan induk di kawasan sungai yang berjarak sekitar 300 meter dari rumah Fia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tim UPN Veteran Yogyakarta menduga keberadaan gas alami seperti gas metana (CH4) dan gas hidrogen dapat berasal dari endapan batuan lanau berwarna gelap yang kaya material organik. Untuk memperkuat dugaan tersebut, tim telah melakukan survei geomagnetik dan geolistrik guna memetakan lapisan batuan bawah permukaan serta mendeteksi kemungkinan rongga atau jalur migrasi gas menuju permukaan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara itu, Fia mengungkapkan bahwa frekuensi kemunculan api belakangan cenderung menurun dibandingkan hari-hari awal kejadian. Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan meningkatnya jumlah pengunjung yang datang ke rumahnya sehingga kadar oksigen di dalam ruangan berkurang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Menurun karena banyak pengunjung, banyak tamu karena kan seperti yang sudah dikatakan bahwa gas oksigen itu rebutan dengan manusia. Kalau manusianya banyak yang datang, berarti intensitasnya turun. Nah, itu kayake masuk gitu,&#8221; ucap Fia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Temuan retakan bawah tanah ini menambah petunjuk baru dalam upaya mengungkap penyebab fenomena api misterius yang hingga kini masih menjadi perhatian para peneliti dari berbagai disiplin ilmu, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Senin (08\/06\/2026). Hasil analisis lanjutan diharapkan dapat memberikan kepastian ilmiah mengenai sumber dan mekanisme kemunculan api yang berulang di rumah Fia. []\n<p style=\"text-align: justify;\">Redaksi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hasil pemindaian georadar UGM menemukan struktur retakan di bawah rumah Fia di Sleman yang diduga menjadi jalur keluarnya gas pemicu fenomena api berulang. YOGYAKARTA &#8211; Dugaan sumber fenomena api misterius yang berulang kali muncul di rumah Mutfiana alias Fia di Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mulai mengarah pada keberadaan retakan bawah permukaan &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":189587,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[35,9320],"tags":[33308,6686,33964,33310,33309,33967,33961,33960,33962,33954,33956,33966,33963,33951,33965,33957,33958,33955,33952,33968,1771,33953,3109,33305,33959,8664],"class_list":["post-189569","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-berita-nasional","category-yogyakarta","tag-api-misterius","tag-diy","tag-fenomena-api","tag-gas-fosfin","tag-gas-hidrogen","tag-gas-metana-ch4","tag-geolistrik","tag-geologi","tag-geomagnetik","tag-georadar","tag-h2","tag-investigasi-geologi","tag-kebakaran-misterius","tag-mutfiana-fia","tag-penelitian-ugm","tag-ph3","tag-pkpe-ugm","tag-retakan-tanah","tag-rumah-fia","tag-seyegan-sleman","tag-sleman","tag-teror-api-sleman","tag-ugm","tag-universitas-gadjah-mada","tag-upn-veteran-yogyakarta","tag-yogyakarta"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/189569","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=189569"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/189569\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":189599,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/189569\/revisions\/189599"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/189587"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=189569"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=189569"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=189569"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}