{"id":192394,"date":"2026-06-25T20:46:25","date_gmt":"2026-06-25T12:46:25","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=192394"},"modified":"2026-06-26T04:01:12","modified_gmt":"2026-06-25T20:01:12","slug":"dua-abk-indonesia-hilang-usai-kapal-tabrakan-di-busan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/dua-abk-indonesia-hilang-usai-kapal-tabrakan-di-busan\/","title":{"rendered":"Dua ABK Indonesia Hilang Usai Kapal Tabrakan di Busan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><em>Kemlu Indonesia dan KBRI Seoul memantau operasi pencarian dua ABK WNI yang hilang setelah kapal penangkap ikan bertabrakan dengan kapal pengangkut LPG di Busan.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>BUSAN<\/strong> &#8211; Upaya pencarian terhadap dua anak buah kapal asal Indonesia masih berlangsung setelah kapal penangkap ikan yang mereka tumpangi tenggelam usai bertabrakan dengan kapal pengangkut gas minyak cair di perairan Gijang, Busan, Korea Selatan, Kamis (25\/06\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Indonesia menyatakan insiden tersebut terjadi sekitar pukul 10.10 waktu setempat dan melibatkan kapal penangkap ikan berbobot 79 ton dengan kapal pengangkut liquefied petroleum gas (LPG) berbobot 992 ton, sebagaimana diberitakan Cnn Indonesia, Kamis (25\/06\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Direktur Pelindungan Warga Negara Indonesia (WNI) Kemlu Heni Hamidah mengatakan, saat kejadian terdapat delapan anak buah kapal (ABK) di atas kapal penangkap ikan. Mereka terdiri atas enam WNI dan dua warga negara (WN) Korea Selatan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Pada saat kejadian, terdapat 8 ABK di atas kapal penangkap ikan, terdiri dari 6 WNI dan 2 WN Korea Selatan,&#8221; kata Heni dalam pernyataan resmi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Heni, enam ABK berhasil diselamatkan. Dari jumlah itu, empat di antaranya merupakan WNI, sedangkan dua ABK WNI lainnya masih dalam proses pencarian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Dari jumlah tersebut, 6 ABK, 4 diantaranya WNI berhasil diselamatkan, sementara 2 ABK WNI lainnya masih dalam proses pencarian,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kemlu berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Seoul untuk memantau penanganan insiden tersebut. KBRI Seoul juga terus berkomunikasi dengan otoritas setempat guna memperoleh perkembangan terbaru operasi pencarian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Heni menyebut otoritas Korea Selatan mengerahkan berbagai unsur pencarian dan penyelamatan, termasuk kapal patroli Penjaga Pantai Korea Selatan atau Korea Coast Guard (KCG), kapal Angkatan Laut, helikopter, kapal pemerintah lainnya, serta kapal nelayan di sekitar lokasi kejadian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain memantau proses pencarian, KBRI Seoul telah menjalin komunikasi dengan keluarga para ABK untuk menyampaikan perkembangan informasi dan memberikan pendampingan yang diperlukan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kemlu dan KBRI Seoul memastikan pemantauan akan terus dilakukan melalui koordinasi dengan otoritas Korea Selatan sampai proses pencarian dua ABK WNI yang hilang mendapatkan perkembangan lebih lanjut. []\n<p style=\"text-align: justify;\">Redaksi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kemlu Indonesia dan KBRI Seoul memantau operasi pencarian dua ABK WNI yang hilang setelah kapal penangkap ikan bertabrakan dengan kapal pengangkut LPG di Busan. BUSAN &#8211; Upaya pencarian terhadap dua anak buah kapal asal Indonesia masih berlangsung setelah kapal penangkap ikan yang mereka tumpangi tenggelam usai bertabrakan dengan kapal pengangkut gas minyak cair di perairan &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":192400,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[19,2254],"tags":[38320,38322,38323,29739,38326,38327,38324,38325,13830,30094,8570,38321],"class_list":["post-192394","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-hotnews","category-berita-internasional","tag-abk-indonesia","tag-busan","tag-gijang","tag-heni-hamidah","tag-kapal-penangkap-ikan","tag-kapal-pengangkut-lpg","tag-kbri-seoul","tag-kcg","tag-kecelakaan-kapal","tag-kemlu-indonesia","tag-korea-selatan","tag-wni-hilang"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/192394","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=192394"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/192394\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":192410,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/192394\/revisions\/192410"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/192400"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=192394"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=192394"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=192394"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}