{"id":193269,"date":"2026-07-01T15:04:46","date_gmt":"2026-07-01T07:04:46","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=193269"},"modified":"2026-07-01T15:05:49","modified_gmt":"2026-07-01T07:05:49","slug":"sspx-bersikeras-tahbiskan-uskup-tanpa-restu-paus-ini-alasannya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/sspx-bersikeras-tahbiskan-uskup-tanpa-restu-paus-ini-alasannya\/","title":{"rendered":"SSPX Bersikeras Tahbiskan Uskup Tanpa Restu Paus, Ini Alasannya"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><em>Penolakan terhadap reformasi Konsili Vatikan II menjadi alasan SSPX tetap menahbiskan empat uskup tanpa persetujuan Paus Leo XIV meski mendapat peringatan dari Vatikan.<\/em><b><\/b><\/p>\n<p><strong>WASHINGTON, DC<\/strong> \u2013 Penolakan terhadap reformasi Gereja Katolik yang lahir dari Konsili Vatikan II menjadi alasan utama <em>Society of Saint Pius X<\/em> (<em>SSPX<\/em>) tetap menahbiskan empat uskup baru tanpa persetujuan Paus Leo XIV. Keputusan tersebut memicu kembali ketegangan antara kelompok Katolik tradisionalis itu dengan Vatikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">SSPX berencana menggelar pentahbisan empat uskup yang terdiri atas dua warga Prancis, satu warga Amerika Serikat, dan satu warga Swiss dalam misa berbahasa Latin di Econe, Swiss. Upacara yang diperkirakan berlangsung sekitar empat jam itu akan dihadiri sekitar 15.000 umat. Lokasi tersebut merupakan tempat yang sama ketika pendiri SSPX, Marcel Lefebvre, menahbiskan empat uskup tanpa persetujuan Vatikan pada 1988.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut SSPX, langkah tersebut diambil karena mereka menilai Gereja Katolik sedang berada dalam &#8220;keadaan darurat&#8221; akibat masuknya pemikiran liberal dan modernis. Kelompok yang dikenal sebagai <em>Lefebvrist<\/em> itu juga menolak sejumlah ajaran Konsili Vatikan II, seperti kebebasan beragama, <em>ekumenisme<\/em>, serta pembaruan tata peribadatan Katolik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam beberapa hari terakhir, SSPX menerbitkan dokumen setebal 28 halaman berjudul <em>Profesi Iman Katolik<\/em> yang diklaim bertujuan &#8220;mencerahkan jiwa-jiwa dalam menghadapi berbagai kesalahan modern.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Paus Leo XIV sebelumnya telah mengirim surat kepada SSPX agar membatalkan rencana pentahbisan tersebut. Dalam suratnya, Paus menilai tindakan itu sebagai &#8220;tindakan skismatik&#8221;.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Saya memohon dan meminta dengan sepenuh hati kepada Anda: tolong batalkan niat ini dan kembalilah!&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Mengoyak jubah Kristus yang tak terpisahkan adalah dosa yang sangat berat.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, Pemimpin Tertinggi <em>Society of Saint Pius X<\/em> (<em>SSPX<\/em>), Pastor Davide Pagliarani, memastikan kelompoknya tetap melanjutkan pentahbisan. Pernyataan itu disampaikan sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Rabu (01\/07\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;bukan kelompok skismatik maupun musuh Gereja&#8221;.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">SSPX didirikan di Swiss pada 1970 oleh Marcel Lefebvre sebagai kelompok Katolik ultra-tradisionalis yang menolak berbagai reformasi Gereja. Meski dibubarkan secara resmi oleh Uskup Fribourg pada 1975, kelompok tersebut tetap berkembang hingga memiliki sekitar 700 imam dan sekitar 600.000 pengikut di berbagai negara.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu calon uskup yang akan ditahbiskan adalah Pastor Michael Goldade yang memimpin seminari SSPX di Dillwyn, Virginia, Amerika Serikat. Selain memiliki seminari di negara tersebut, SSPX juga berkantor pusat di Missouri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pastor Michel Rion, dosen teologi di salah satu seminari SSPX, menegaskan bahwa keputusan kelompoknya bukan bentuk perlawanan terhadap Gereja.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Ini bukan tindakan pemberontakan, melainkan tindakan yang lahir dari kecintaan kepada Gereja.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Rion juga menilai Gereja Katolik saat ini telah terlalu jauh menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Gereja terus berupaya menyesuaikan diri untuk menyampaikan pesannya demi menuntun jiwa-jiwa menuju surga. Namun, Gereja telah terlalu banyak menyesuaikan diri dengan dunia.&#8221; []\n<p style=\"text-align: justify;\">Redaksi08<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penolakan terhadap reformasi Konsili Vatikan II menjadi alasan SSPX tetap menahbiskan empat uskup tanpa persetujuan Paus Leo XIV meski mendapat peringatan dari Vatikan. WASHINGTON, DC \u2013 Penolakan terhadap reformasi Gereja Katolik yang lahir dari Konsili Vatikan II menjadi alasan utama Society of Saint Pius X (SSPX) tetap menahbiskan empat uskup baru tanpa persetujuan Paus Leo &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":85,"featured_media":193270,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[7,2254],"tags":[39221,39224,39227,39223,39225,39203,39222,9506,39226,39220,39198,18227],"class_list":["post-193269","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-breaking-news","category-berita-internasional","tag-davide-pagliarani","tag-econe-swiss","tag-katolik-tradisionalis","tag-konsili-vatikan-ii","tag-lefebvrist","tag-marcel-lefebvre","tag-michel-rion","tag-paus-leo-xiv","tag-pentahbisan-uskup","tag-society-of-saint-pius-x","tag-sspx","tag-vatikan"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/193269","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/85"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=193269"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/193269\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":193272,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/193269\/revisions\/193272"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/193270"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=193269"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=193269"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=193269"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}