{"id":1934,"date":"2014-06-06T20:41:37","date_gmt":"2014-06-06T12:41:37","guid":{"rendered":"http:\/\/beritaborneo.co.id\/?p=1934"},"modified":"2022-10-16T20:25:27","modified_gmt":"2022-10-16T12:25:27","slug":"trans-samarinda-digulirkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/trans-samarinda-digulirkan\/","title":{"rendered":"Trans-Samarinda Digulirkan"},"content":{"rendered":"<div style=\"text-align: justify\">sudah sering macet tapi hingga kini tak punya transportasi massal. Padahal, peredaran kendaraan pribadi warga kota ini terus bertambah sedangkan kapasitas jalan tak tumbuh seimbang. Ini disadari Pemkot Samarinda yang mulai menggulirkan rencana pengadaan Trans-Samarinda.<\/div>\n<p><!--more--><\/p>\n<div style=\"text-align: justify\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">\u201cKami sudah ada pemikiran transportasi angkutan massal yang melintas semacam Trans-Samarinda,\u201d ungkap Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Samarinda Abdullah kepada wartawan di Rumah Jabatan Wali Kota Samarinda, kemarin (5\/6).<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">Dia menegaskan jika keinginan tersebut telah terbesit. Namun demikian, yang perlu diselesaikan saat ini adalah keberadaan angkutan kota (angkot) untuk mendapat peremajaan. Tapi, Abdullah memastikan angkot tak bakal lagi dapat penambahan unit. Dishub mendorong pengadaan angkutan massal untuk mengurai kemacetan. \u201cAngkutan massal ini sedang dipikirkan ke depan untuk mengimbangi pertumbuhan kendaraan pribadi,\u201d tuturnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">Dikatakan, cukup disayangkan pengusaha kurang berpikir meningkatkan pelayanan angkot. Jika layanan transportasi publik tak mampu memberikan kesejukan, kenyamanan, dan keamanan, angkot jadi tak representatif dan bikin pengguna lari. Padahal angkutan umum di Samarinda sedang berkembang seiring pertumbuhan angkutan umum jenis argo. \u201cIni sedang tumbuh namun kami tak terlalu cepat berikan persetujuan trayek karena kondisi kapasitas jalan yang belum seimbang dengan kendaraan,\u201d terang Abdullah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">Sedangkan wacana pengadaan Bus Rapid Transit (BRT) di Samarinda oleh Kementerian Perhubungan turut bergulir. Namun demikian, Dishub menilai rencana ini perlu persiapan khusus. Kebutuhan operasional mesti diperhitungkan karena pusat hanya menanggung pengadaan. Praktis biaya operasional bakal ditanggung Pemkot sepenuhnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">Kendati demikian, Samarinda saat ini tengah menunggu realisasi master plan transportasi kota. Penganggaran agenda ini teralokasi tahun ini dengan anggaran di atas Rp 1 miliar. \u201cYang pasti penyusunan master plan diserahkan kepada semacam konsultan transportasi. Kami serahkan kepada pihak ketiga yang otomatis dilelang,\u201d jelas dia.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">Abdullah mengatakan, poin-poin yang bakal terinci dalam master plan tersebut di antaranya berupa rekayasa lalu lintas, lokasi kantong-kantong parkir, penetapan kawasan terminal, jalan yang dapat dilintasi alat berat, kendaraan maksimal roda enam, dan lainnya. \u201cDan, transportasi masal otomatis ada di dalam master plan,\u201d ujarnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify\">Dikatakan, begitu master plan rampung tahun ini, eksekusi program dilakukan bertahap sesuai skala prioritas. Secara teknis, masa berlaku master plan biasanya hingga lima tahun. \u201cSetelah itu master plan kembali menjalani review,\u201d imbuhnya. [] RedFj\/KP<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>sudah sering macet tapi hingga kini tak punya transportasi massal. Padahal, peredaran kendaraan pribadi warga kota ini terus bertambah sedangkan kapasitas jalan tak tumbuh seimbang. Ini disadari Pemkot Samarinda yang mulai menggulirkan rencana pengadaan Trans-Samarinda.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1935,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":false,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[26,37],"tags":[],"class_list":["post-1934","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-kalimantan-timur-kaltim","category-kota-samarinda"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1934","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1934"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1934\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":22904,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1934\/revisions\/22904"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1934"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1934"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1934"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}