{"id":194804,"date":"2026-07-09T18:38:38","date_gmt":"2026-07-09T10:38:38","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=194804"},"modified":"2026-07-09T23:11:31","modified_gmt":"2026-07-09T15:11:31","slug":"karhutla-gambut-tumbang-nusa-sulit-padam-315-hektare-lahan-hangus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/karhutla-gambut-tumbang-nusa-sulit-padam-315-hektare-lahan-hangus\/","title":{"rendered":"Karhutla Gambut Tumbang Nusa Sulit Padam, 31,5 Hektare Lahan Hangus"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><em>Karhutla di Desa Tumbang Nusa belum sepenuhnya padam karena bara di bawah permukaan gambut masih berpotensi menyala kembali saat cuaca panas dan angin kencang.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>PULANG PISAU<\/strong> &#8211; Karakteristik lahan gambut menjadi tantangan utama tim gabungan dalam memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah (Kalteng). Meski sudah lebih dari sepekan ditangani, api di lokasi tersebut belum sepenuhnya padam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karhutla yang mulai terjadi sejak 2 Juli 2026 itu telah menghanguskan sekitar 31,5 hektare lahan gambut. Luas tersebut menjadikan Tumbang Nusa sebagai lokasi karhutla paling terdampak di Pulang Pisau sepanjang tahun ini, sebagaimana diberitakan Detik, Kamis, (09\/07\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pulang Pisau Herman Wibowo mengatakan, api kembali muncul di sejumlah titik pada Rabu (08\/07\/2026). Kondisi itu membuat petugas harus kembali turun ke lapangan untuk melanjutkan pemadaman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Rabu kemarin api kembali menyala dan tim gabungan kembali melakukan pemadaman di lokasi. Kamis pagi ini kita masih melanjutkan pemadaman,&#8221; ujar Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pulang Pisau, Herman Wibowo, Kamis (09\/07\/2026) pagi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ratusan personel dikerahkan dalam operasi tersebut. Mereka berasal dari BPBD Provinsi Kalteng, BPBD Pulang Pisau, Bidang Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhutla) Dinas Kehutanan Kalteng, Manggala Agni, Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (UPT KPHP) Kahayan Hilir, Konsorsium Pendukung Sistem Hutan Kerakyatan (KPSHK), Pemerintah Kecamatan Jabiren Raya, serta Pemerintah Desa Tumbang Nusa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Herman menjelaskan, sebagian besar kobaran api memang telah berhasil dipadamkan. Namun, bara yang tersimpan di bawah permukaan gambut masih berpotensi kembali menyala, terutama saat cuaca panas dan angin bertiup kencang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kawasan lain tetap harus dipantau agar tidak muncul titik asap maupun api yang bisa memperluas kebakaran,&#8221; kata Herman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berdasarkan data BPBD, sepanjang 1 Januari hingga 6 Juli 2026 terdapat 50 titik panas di Pulang Pisau. Total luas lahan yang terbakar mencapai 46,82 hektare. Dari jumlah itu, sekitar 31,5 hektare berada di Tumbang Nusa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Upaya pemadaman di lapangan juga terkendala vegetasi semak belukar yang rapat, suhu udara tinggi, sumber air terbatas, serta medan yang sulit dijangkau. Kondisi tersebut membuat pemadaman karhutla gambut tidak dapat dilakukan secara cepat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Semoga segera turun hujan di wilayah Tumbang Nusa sehingga dapat membantu proses pemadaman karhutla,&#8221; harap Herman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain memusatkan penanganan di Tumbang Nusa, BPBD Pulang Pisau meningkatkan kewaspadaan di delapan kecamatan lain yang masuk kategori rawan karhutla. Masyarakat, termasuk kelompok Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD), diajak memperkuat pencegahan agar titik panas tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas. []\n<p style=\"text-align: justify;\">Redaksi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Karhutla di Desa Tumbang Nusa belum sepenuhnya padam karena bara di bawah permukaan gambut masih berpotensi menyala kembali saat cuaca panas dan angin kencang. PULANG PISAU &#8211; Karakteristik lahan gambut menjadi tantangan utama tim gabungan dalam memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah (Kalteng). &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":194806,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[19,2259,2300],"tags":[37008,40910,40908,40909,6051,4418,40906,40907,1530,16594,40911,1671,26000,35033],"class_list":["post-194804","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-hotnews","category-kalimantan-tengah","category-kabupaten-pulang-pisau-provinsi-kalimantan-tengah","tag-bpbd-pulang-pisau","tag-dalkarhutla","tag-herman-wibowo","tag-jabiren-raya","tag-kalimantan-tengah","tag-kalteng","tag-karhutla-pulang-pisau","tag-karhutla-tumbang-nusa","tag-kebakaran-lahan","tag-lahan-gambut","tag-lphd","tag-manggala-agni","tag-pemadaman-karhutla","tag-titik-panas"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/194804","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=194804"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/194804\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":194820,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/194804\/revisions\/194820"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/194806"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=194804"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=194804"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=194804"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}