{"id":195858,"date":"2026-07-15T18:50:13","date_gmt":"2026-07-15T10:50:13","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=195858"},"modified":"2026-07-15T18:50:13","modified_gmt":"2026-07-15T10:50:13","slug":"pontianak-waspadai-krisis-air-bersih-saat-puncak-kemarau","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/pontianak-waspadai-krisis-air-bersih-saat-puncak-kemarau\/","title":{"rendered":"Pontianak Waspadai Krisis Air Bersih saat Puncak Kemarau"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><em>Pemkot Pontianak menyiapkan sumber air baku cadangan dari Penepat untuk mengantisipasi intrusi air laut yang berpotensi mengganggu kualitas air Sungai Kapuas selama kemarau panjang.<\/em><br \/>\n<strong><br \/>\nPONTIANAK<\/strong> &#8211; Ancaman masuknya air laut ke Sungai Kapuas berpotensi mengganggu pasokan air bersih di Kota Pontianak apabila musim kemarau berlangsung lebih dari tiga pekan tanpa hujan. Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak menyiapkan sumber air baku cadangan dari Penepat sekaligus meminta masyarakat mulai menghemat penggunaan air.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan, debit Sungai Kapuas akan menurun ketika curah hujan rendah dalam waktu lama. Kondisi itu memungkinkan air laut masuk saat pasang dan meningkatkan kadar garam di sungai yang menjadi sumber utama air baku Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumda Air Minum) Tirta Khatulistiwa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ancaman tersebut perlu diantisipasi karena Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan Juli hingga September 2026 menjadi puncak musim kemarau dengan curah hujan rendah. Fenomena El Ni\u00f1o juga berpotensi memperpanjang periode kemarau dibandingkan beberapa tahun terakhir.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cBeberapa hari terakhir curah hujan sudah sangat rendah. Kami mengimbau masyarakat menghemat penggunaan air bersih. Bagi yang memiliki bak penampungan air, sebaiknya dimanfaatkan sebagai cadangan untuk menghadapi musim kemarau,\u201d ujarnya, Rabu (15\/07\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pernyataan tersebut disampaikan sebagaimana diwartakan Prokopim, Rabu, (15\/07\/2026). Edi meminta masyarakat menggunakan air secara bijak dan memanfaatkan bak penampungan sebagai cadangan apabila memungkinkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Edi, peningkatan kadar garam hingga melampaui ambang batas dapat memengaruhi kualitas air yang didistribusikan kepada masyarakat. Pemkot Pontianak bersama Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa akan mengoperasikan intake Penepat apabila intrusi air laut mulai mengganggu sumber air baku di Sungai Kapuas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cAir dari Penepat akan dicampurkan dengan air Sungai Kapuas agar kadar garamnya tidak terlalu tinggi. Langkah ini memang disiapkan khusus apabila terjadi kemarau panjang,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Intake Penepat dibangun di atas lahan milik Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa seluas sekitar sembilan hektare. Fasilitas tersebut berfungsi menyediakan cadangan air tawar ketika kadar garam di Sungai Kapuas meningkat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, pengoperasian sumber air baku cadangan itu membutuhkan biaya besar. Air dari Penepat harus dipompa menggunakan lima pompa sejauh sekitar 21 kilometer menuju Instalasi Pengolahan Air (IPA) Imam Bonjol. Kapasitas air yang dialirkan melalui fasilitas tersebut hanya sekitar 500 liter per detik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cProduksi air bersih kita mencapai sekitar 1.250 liter per detik untuk melayani sekitar 90,6 persen masyarakat Kota Pontianak. Karena itu, kami terus meminta perhatian pemerintah pusat agar kebutuhan air baku Kota Pontianak dapat dipenuhi,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Edi menjelaskan, penyediaan air baku menjadi kewenangan pemerintah pusat melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan I. Dukungan pemerintah pusat dinilai penting karena kapasitas sumber air cadangan belum mampu menggantikan seluruh kebutuhan produksi air bersih di Pontianak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain ancaman terhadap pasokan air, musim kemarau juga berpotensi meningkatkan suhu udara serta memicu kebakaran hutan dan lahan yang menimbulkan kabut asap. Pemkot Pontianak telah membentuk tim dan menyiapkan langkah pencegahan di kawasan rawan, terutama Pontianak Utara, Pontianak Selatan, dan Pontianak Tenggara.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Edi turut mengingatkan warga, khususnya kelompok rentan, agar membatasi kegiatan di luar ruangan saat suhu meningkat atau kualitas udara memburuk.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cMasyarakat yang memiliki riwayat ISPA maupun asma harus lebih berhati-hati. Kurangi aktivitas di luar ruangan dan gunakan masker apabila kualitas udara memburuk,\u201d pesannya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi salah satu gangguan kesehatan yang perlu diwaspadai apabila kebakaran hutan dan lahan menyebabkan kabut asap. Masyarakat juga diminta segera memeriksakan diri apabila mengalami gangguan pernapasan selama musim kemarau.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cMudah-mudahan musim kemarau tahun ini tidak berlangsung terlalu lama sehingga pelayanan air bersih tetap berjalan optimal dan masyarakat dapat menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa kendala berarti,\u201d pungkasnya. []\n<p style=\"text-align: justify;\">Redaksi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pemkot Pontianak menyiapkan sumber air baku cadangan dari Penepat untuk mengantisipasi intrusi air laut yang berpotensi mengganggu kualitas air Sungai Kapuas selama kemarau panjang. PONTIANAK &#8211; Ancaman masuknya air laut ke Sungai Kapuas berpotensi mengganggu pasokan air bersih di Kota Pontianak apabila musim kemarau berlangsung lebih dari tiga pekan tanpa hujan. Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":195861,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[17,2273,36],"tags":[42525,828,5938,22732,42528,42526,42530,20126,42524,765,42529,5521,4400,42527,6061],"class_list":["post-195858","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-headlines","category-kalimantan-barat-kalbar","category-kota-pontianak-provinsi-kalimantan-barat-kalbar","tag-air-bersih-pontianak","tag-bmkg","tag-edi-rusdi-kamtono","tag-el-nino-2026","tag-intake-penepat","tag-intrusi-air-laut","tag-kabut-asap-pontianak","tag-kebakaran-hutan-dan-lahan","tag-kemarau-pontianak","tag-krisis-air-bersih","tag-musim-kemarau-kalimantan-barat","tag-pdam-pontianak","tag-pemkot-pontianak","tag-perumda-air-minum-tirta-khatulistiwa","tag-sungai-kapuas"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/195858","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=195858"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/195858\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":195863,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/195858\/revisions\/195863"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/195861"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=195858"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=195858"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=195858"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}