{"id":196114,"date":"2026-07-17T17:25:20","date_gmt":"2026-07-17T09:25:20","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=196114"},"modified":"2026-07-17T17:25:20","modified_gmt":"2026-07-17T09:25:20","slug":"386-liter-eco-enzyme-pelajar-pulihkan-parit-pontianak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/386-liter-eco-enzyme-pelajar-pulihkan-parit-pontianak\/","title":{"rendered":"386 Liter Eco Enzyme Pelajar Pulihkan Parit Pontianak"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><em>Sebanyak 386 liter eco enzyme produksi siswa dan guru SMP Negeri 1 Pontianak dimanfaatkan untuk memperbaiki kualitas air parit sekaligus menanamkan kepedulian lingkungan sejak dini.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>PONTIANAK <\/strong>&#8211; Produksi 386 liter eco enzyme oleh siswa dan guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Pontianak kini tidak hanya menjadi bagian dari pembelajaran lingkungan, tetapi juga mendukung upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak memperbaiki kualitas air parit.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Cairan hasil pengolahan sampah organik tersebut ditaburkan secara simbolis di Parit Jalan HOS Cokroaminoto dalam rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Jumat (17\/07\/2026). Kegiatan itu dilaksanakan setelah pengujian pada lokasi penaburan sebelumnya menunjukkan peningkatan kualitas air hingga 30\u201350 persen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hasil uji laboratorium Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pontianak terhadap air Parit Sungai Bangkong di kawasan Jalan Alianyang menunjukkan sejumlah perubahan positif. Kadar oksigen terlarut atau dissolved oxygen (DO) meningkat dari 0,42 miligram per liter menjadi 0,54 miligram per liter.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Nilai kebutuhan oksigen biokimia atau biochemical oxygen demand (BOD) dan kebutuhan oksigen kimiawi atau chemical oxygen demand (COD) juga tercatat menurun sekitar 10\u201340 persen. Perubahan tersebut menjadi indikasi awal berkurangnya beban pencemaran di dalam parit.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan, hasil pengujian tersebut memperlihatkan dampak positif penaburan eco enzyme yang dilakukan dua hingga tiga pekan sebelumnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Setelah dilakukan pengujian laboratorium, terdapat peningkatan kualitas air. Kadar oksigen yang sebelumnya rendah mengalami peningkatan, begitu juga indikator lainnya. Secara keseluruhan ada peningkatan kualitas sekitar 30 hingga 50 persen,&#8221; ujar Edi, sebagaimana dilansir Prokopim, Jumat, (17\/07\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Edi, hasil tersebut menjadi kabar baik bagi upaya pemulihan kualitas air pada jaringan parit di Pontianak. Namun, perbaikan lingkungan tidak cukup hanya dilakukan melalui penaburan eco enzyme, melainkan juga membutuhkan perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pelibatan siswa dalam kegiatan tersebut diarahkan untuk menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini. Edukasi lingkungan menyasar pelajar mulai dari jenjang Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), SMP, Sekolah Menengah Atas (SMA), hingga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kita terus mengajak para pelajar, mulai dari tingkat TK, SD, SMP hingga SMA\/SMK untuk bersama-sama menjaga lingkungan, baik di sekolah, lingkungan tempat tinggal maupun lingkungan di sekitar mereka,&#8221; katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Edi juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuang sampah ke parit dan mulai mengurangi timbunan sampah melalui pengelolaan dari sumbernya. Upaya tersebut perlu diikuti dengan penghijauan untuk mendukung pembangunan kota yang berwawasan lingkungan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kami mengajak masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan dan mengurangi timbunan sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir. Pengelolaan sampah dari rumah tangga menjadi salah satu langkah penting dalam menjaga kualitas lingkungan di Kota Pontianak,&#8221; sebutnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kepala Dinas (Kadis) Lingkungan Hidup Kota Pontianak Syarif Usmulyono menyatakan, hasil laboratorium juga memperlihatkan penurunan kadar nitrat. Kondisi itu menunjukkan adanya respons biologis positif dalam ekosistem perairan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cHasil laboratorium juga menunjukkan kadar nitrat turun hingga mendekati 50 persen. Ini menjadi indikator bahwa kandungan nutrien penyebab pencemaran mulai berkurang sehingga potensi pertumbuhan alga secara berlebihan juga semakin kecil,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">DLH Pontianak akan melanjutkan pemantauan dan pengujian secara berkala untuk memastikan perubahan kualitas air berlangsung konsisten. Hasil pemantauan tersebut nantinya dapat digunakan sebagai salah satu dasar dalam penyusunan kebijakan pengelolaan lingkungan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sementara itu, Kepala Sekolah (Kepsek) SMP Negeri 1 Pontianak Kiswanti menjelaskan, kegiatan penaburan eco enzyme merupakan bagian dari tema MPLS bertajuk \u201cMPLS Ramah, Hijau, dan Berkarakter\u201d. Program itu dirancang untuk mengenalkan kepedulian lingkungan kepada peserta didik baru melalui kegiatan nyata.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kami tidak hanya menghadirkan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, inklusif, saling menghargai, dan saling memuliakan, tetapi juga mengajarkan anak-anak untuk peduli terhadap lingkungan. Salah satunya melalui penaburan ekoenzim,&#8221; terangnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Eco enzyme yang digunakan dalam kegiatan tersebut diproduksi melalui proses pembelajaran kokurikuler sejak Februari 2026. Seluruh siswa dan dewan guru dilibatkan dalam pengolahan sisa bahan organik hingga menghasilkan cairan yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan lingkungan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari proses tersebut, para siswa menghasilkan 286 liter eco enzyme, sedangkan guru memproduksi 100 liter. Kegiatan itu sekaligus menjadi bagian dari komitmen SMP Negeri 1 Pontianak sebagai Sekolah Adiwiyata Nasional yang tengah menuju Sekolah Adiwiyata Mandiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Siswi kelas VIII C, Christine Agusta Putri Irawan, menilai eco enzyme memiliki beragam manfaat, termasuk membantu memperbaiki kondisi selokan yang tercemar. Siswi lainnya, Isabel Dhani Pudiarjo, tertarik mencoba membuat cairan serupa di rumah dengan memanfaatkan sisa kulit buah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKami senang terlibat dalam aksi ini sebagai bentuk kepedulian lingkungan,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kolaborasi Pemkot Pontianak, sekolah, dan masyarakat diharapkan dapat memperluas pemanfaatan sampah organik sekaligus membangun budaya peduli lingkungan. Pemantauan berkelanjutan tetap diperlukan untuk memastikan penggunaan eco enzyme memberikan dampak terukur terhadap kualitas air parit di Pontianak. []\n<p style=\"text-align: justify;\">Redaksi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebanyak 386 liter eco enzyme produksi siswa dan guru SMP Negeri 1 Pontianak dimanfaatkan untuk memperbaiki kualitas air parit sekaligus menanamkan kepedulian lingkungan sejak dini. PONTIANAK &#8211; Produksi 386 liter eco enzyme oleh siswa dan guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Pontianak kini tidak hanya menjadi bagian dari pembelajaran lingkungan, tetapi juga mendukung upaya &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":196116,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[17,2273,36],"tags":[42934,15339,35932,12812,5938,42932,42930,38528,33233,42933,42931,4400,18833,27012,42935,329,8942,6312,42929,38529],"class_list":["post-196114","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-headlines","category-kalimantan-barat-kalbar","category-kota-pontianak-provinsi-kalimantan-barat-kalbar","tag-bod","tag-cod","tag-dlh-pontianak","tag-eco-enzyme","tag-edi-rusdi-kamtono","tag-jalan-hos-cokroaminoto","tag-kiswanti","tag-kualitas-air-parit","tag-mpls-2026","tag-oksigen-terlarut","tag-parit-sungai-bangkong","tag-pemkot-pontianak","tag-pencemaran-air","tag-pendidikan-lingkungan","tag-penurunan-nitrat","tag-pontianak","tag-sampah-organik","tag-sekolah-adiwiyata","tag-smp-negeri-1-pontianak","tag-syarif-usmulyono"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/196114","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=196114"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/196114\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":196120,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/196114\/revisions\/196120"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/196116"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=196114"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=196114"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=196114"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}