{"id":196714,"date":"2026-07-21T11:45:27","date_gmt":"2026-07-21T03:45:27","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=196714"},"modified":"2026-07-21T11:45:27","modified_gmt":"2026-07-21T03:45:27","slug":"karhutla-perbatasan-dua-desa-di-kubu-raya-sulit-dikendalikan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/karhutla-perbatasan-dua-desa-di-kubu-raya-sulit-dikendalikan\/","title":{"rendered":"Karhutla Perbatasan Dua Desa di Kubu Raya Sulit Dikendalikan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><em>Keterbatasan sumber air, selang hantar, dan menurunnya kinerja mesin pompa menjadi kendala utama petugas dalam memadamkan kebakaran gambut di perbatasan Desa Rasau Jaya Umum dan Desa Kuala Dua.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>KUBU RAYA<\/strong> &#8211; Keterbatasan sumber air dan selang hantar memperlambat upaya Tim Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhutla) pada Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah Kubu Raya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Rasau Jaya Umum, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat (Kalbar).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Titik kebakaran berada di kawasan gambut yang berbatasan dengan Desa Kuala Dua. Petugas harus membawa peralatan pemadam menempuh jarak relatif jauh untuk menjangkau sumber air, sementara panjang selang yang tersedia belum mampu mencapai seluruh titik api.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kendala di lapangan saat ini adalah sumber air yang cukup jauh sehingga menguras tenaga personel melangsir alat untuk menjangkaunya. Selain itu, jumlah selang hantar yang kami miliki masih terbatas sehingga belum mampu menjangkau titik api yang berada di bagian ujung,&#8221; ujar Kepala Regu (Karu) Brigade Dalkarhutla KPH Wilayah Kubu Raya Florensius Loren.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain keterbatasan sumber air dan selang, petugas menghadapi penurunan kinerja mesin pompa akibat digunakan secara terus-menerus. Tingginya jam operasional membuat peralatan harus bekerja lebih berat selama proses pemadaman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karakteristik gambut turut menyulitkan penanganan karena api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi juga merambat melalui lapisan tanah. Kondisi itu membuat titik api dapat kembali muncul meskipun bagian permukaan terlihat telah padam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Karakteristik lahan gambut menjadi tantangan utama karena api tidak hanya membakar permukaan, tetapi juga merambat hingga ke lapisan bawah tanah sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk dipadamkan. Proses pemadaman cukup sulit karena lahan didominasi gambut. Kami terus berupaya agar api tidak meluas ke wilayah lain,&#8221; kata Florensius.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Operasi pemadaman masih berlangsung hingga Minggu (19\/07\/2026), sebagaimana diwartakan Antara, Senin, (20\/07\/2026). Tim berupaya mengisolasi kebakaran agar tidak merambat ke kawasan lain di sekitar perbatasan kedua desa tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Florensius juga mengingatkan masyarakat agar tidak menggunakan api untuk membuka atau membersihkan lahan, terutama di kawasan gambut saat musim kemarau. Api yang masuk ke lapisan bawah gambut lebih sulit dijangkau dan berpotensi bertahan dalam waktu lama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Jangan membuka lahan dengan cara membakar. Kebakaran di lahan gambut sangat sulit dipadamkan karena api dapat merambat hingga ke bawah permukaan tanah. Berbeda dengan lahan mineral yang lebih mudah ditangani,&#8221; katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Florensius, kebakaran di lahan gambut umumnya baru dapat dipadamkan sepenuhnya setelah turun hujan berintensitas tinggi. Asap yang bertahan lama juga berpotensi menurunkan kualitas udara serta mengganggu kesehatan dan aktivitas masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Upaya pemadaman terus dilakukan bersama sejumlah instansi, relawan, dan unsur tim gabungan. Penanganan tersebut diharapkan segera mengendalikan api sehingga dampaknya terhadap lingkungan, kesehatan, dan aktivitas warga dapat diminimalkan. []\n<p style=\"text-align: justify;\">Redaksi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Keterbatasan sumber air, selang hantar, dan menurunnya kinerja mesin pompa menjadi kendala utama petugas dalam memadamkan kebakaran gambut di perbatasan Desa Rasau Jaya Umum dan Desa Kuala Dua. KUBU RAYA &#8211; Keterbatasan sumber air dan selang hantar memperlambat upaya Tim Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhutla) pada Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah Kubu Raya &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":196716,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[19,2273,32],"tags":[43845,43844,43843,43847,4861,18074,20126,26961,43846,17390,3189,17121,26000],"class_list":["post-196714","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-hotnews","category-kalimantan-barat-kalbar","category-kabupaten-kubu-raya-sungai-raya-provinsi-kalimantan-barat-kalbar","tag-brigade-dalkarhutla","tag-desa-kuala-dua","tag-desa-rasau-jaya-umum","tag-florensius-loren","tag-kalimantan-barat","tag-karhutla-kubu-raya","tag-kebakaran-hutan-dan-lahan","tag-kebakaran-lahan-gambut","tag-kph-wilayah-kubu-raya","tag-kualitas-udara","tag-kubu-raya","tag-musim-kemarau","tag-pemadaman-karhutla"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/196714","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=196714"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/196714\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":196718,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/196714\/revisions\/196718"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/196716"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=196714"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=196714"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=196714"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}