{"id":198005,"date":"2026-07-28T14:10:46","date_gmt":"2026-07-28T06:10:46","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=198005"},"modified":"2026-07-28T14:10:46","modified_gmt":"2026-07-28T06:10:46","slug":"perubahan-data-korban-perang-iran-tuai-kritik-di-as","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/perubahan-data-korban-perang-iran-tuai-kritik-di-as\/","title":{"rendered":"Perubahan Data Korban Perang Iran Tuai Kritik di AS"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"127\" data-end=\"550\"><em>Pembaruan data Pentagon mengungkap 624 personel militer Amerika Serikat terluka selama konflik dengan Iran sekaligus memicu kritik terkait perubahan klasifikasi korban.<\/em><\/p>\n<p class=\"PDq2pG_selectionAnchorContainer\" style=\"text-align: justify;\" data-start=\"127\" data-end=\"550\"><strong data-start=\"127\" data-end=\"146\">WASHINGTON D.C<\/strong>\u00a0&#8211; Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengungkap sebanyak 624 personel militernya mengalami luka-luka selama konflik dengan Iran yang berlangsung sejak akhir Februari 2026. Data terbaru itu dipublikasikan setelah Kementerian Pertahanan (<em data-start=\"380\" data-end=\"390\">Pentagon<\/em>) memperbarui pencatatan korban melalui <em data-start=\"430\" data-end=\"464\">Defense Casualty Analysis System<\/em> (DCAS) dengan menambahkan kategori baru <em data-start=\"505\" data-end=\"525\">Overseas Operation<\/em> (<em data-start=\"527\" data-end=\"548\">Operasi Luar Negeri<\/em>).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"552\" data-end=\"802\">Dalam pembaruan data tersebut, tercatat 207 personel terluka dalam kategori <em data-start=\"628\" data-end=\"649\">Operasi Luar Negeri<\/em>, sedangkan 417 korban lainnya masuk dalam kategori Operasi <em data-start=\"709\" data-end=\"720\">Epic Fury<\/em>, sebagaimana dilansir CNN Indonesia, Selasa (28\/07\/2026), yang mengutip New Arab.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"804\" data-end=\"1218\">Pada fase awal konflik, operasi militer AS terhadap Iran diberi nama Operasi <em data-start=\"881\" data-end=\"892\">Epic Fury<\/em>. Kedua negara sempat menyepakati gencatan senjata pada April 2026 yang kemudian diperpanjang tanpa batas waktu. Selanjutnya, Amerika Serikat dan Iran menandatangani <em data-start=\"1058\" data-end=\"1087\">Memorandum of Understanding<\/em> (MoU) atau nota kesepahaman pada Juni 2026 yang memuat penghentian pertempuran dan komitmen untuk tidak melancarkan serangan baru.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1220\" data-end=\"1477\">Meski demikian, pada pertengahan Juli 2026, AS kembali melancarkan operasi militer terhadap Iran yang berlangsung hampir dua pekan. Penambahan kategori baru dalam sistem pencatatan korban memunculkan anggapan seolah terdapat dua operasi perang yang berbeda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1479\" data-end=\"1823\">Perubahan data tersebut dilakukan setelah <em data-start=\"1521\" data-end=\"1531\">Pentagon<\/em> merevisi jumlah korban sebelumnya yang mencatat 18 personel tewas dan 482 lainnya terluka. Sebanyak 18 korban tewas awalnya tercantum dalam Operasi <em data-start=\"1680\" data-end=\"1691\">Epic Fury<\/em>. Namun, pada 24 Juli 2026, empat korban tewas dipindahkan ke kategori <em data-start=\"1762\" data-end=\"1783\">Operasi Luar Negeri<\/em> sehingga memicu sorotan sejumlah media.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1825\" data-end=\"2004\">Juru Bicara Kementerian Pertahanan (<em data-start=\"1861\" data-end=\"1871\">Pentagon<\/em>) Sean Parnell menjelaskan pihaknya telah memberikan klarifikasi kepada <em data-start=\"1943\" data-end=\"1959\">New York Times<\/em> terkait gangguan sementara pada sistem DCAS.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2006\" data-end=\"2226\">&#8220;Kementerian berusaha menjelaskan anomali tersebut ke New York Times sebelum publikasi, tetapi karena kurangnya pengetahuan mereka di bidang ini, mereka justru menulis berita yang tak penting dan akan segera diperbaiki.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2228\" data-end=\"2318\">&#8220;Kami tetap berkomitmen untuk memastikan keakuratan maksimal dari semua pelaporan korban.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2320\" data-end=\"2633\">Perubahan pencatatan korban tersebut juga menuai kritik dari kalangan politik. Anggota Kongres Amerika Serikat dari Partai Republik Thomas Massie menilai pemerintah seolah memisahkan konflik menjadi dua operasi berbeda agar tidak melanggar ketentuan mengenai batas waktu operasi militer tanpa persetujuan Kongres.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2635\" data-end=\"2730\">&#8220;Pentagon berpura-pura telah terjadi dua perang Iran yang dipisahkan gencatan senjata singkat.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2732\" data-end=\"2881\">&#8220;Kenyataannya: Dengan melanjutkan operasi lebih dari 90 hari tanpa otorisasi Kongres, @SecWar MELANGGAR HUKUM dan harus dimintai pertanggungjawaban.&#8221;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2883\" data-end=\"3168\">Massie merujuk Undang-Undang Kemampuan Perang Tahun 1973 yang mengharuskan presiden memperoleh persetujuan Kongres apabila operasi militer berlangsung lebih dari 60 hari. Hingga kini, pemerintah AS masih mempertahankan klasifikasi terbaru atas data korban dalam konflik dengan Iran. []\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3170\" data-end=\"3191\">Redaksi08<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pembaruan data Pentagon mengungkap 624 personel militer Amerika Serikat terluka selama konflik dengan Iran sekaligus memicu kritik terkait perubahan klasifikasi korban. WASHINGTON D.C\u00a0&#8211; Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengungkap sebanyak 624 personel militernya mengalami luka-luka selama konflik dengan Iran yang berlangsung sejak akhir Februari 2026. Data terbaru itu dipublikasikan setelah Kementerian Pertahanan (Pentagon) memperbarui pencatatan korban &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":85,"featured_media":198006,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[19,2254],"tags":[9642,45691,45692,7612,15078,43943,29648,15321,27523,45693,45694,40815],"class_list":["post-198005","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-hotnews","category-berita-internasional","tag-amerika-serikat","tag-dcas","tag-defense-casualty-analysis-system","tag-iran","tag-konflik-timur-tengah","tag-korban-perang","tag-operasi-epic-fury","tag-pentagon","tag-perang-as-iran","tag-sean-parnell","tag-thomas-massie","tag-washington-d-c"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/198005","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/85"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=198005"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/198005\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":198007,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/198005\/revisions\/198007"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/198006"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=198005"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=198005"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=198005"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}