{"id":198263,"date":"2026-07-29T22:58:59","date_gmt":"2026-07-29T14:58:59","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=198263"},"modified":"2026-07-30T03:35:07","modified_gmt":"2026-07-29T19:35:07","slug":"masjid-al-mujahidin-muncul-utuh-saat-air-waduk-karian-surut","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/masjid-al-mujahidin-muncul-utuh-saat-air-waduk-karian-surut\/","title":{"rendered":"Masjid Al Mujahidin Muncul Utuh Saat Air Waduk Karian Surut"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><em>Masjid Al Mujahidin kembali terlihat dalam kondisi utuh saat air Waduk Karian menyusut karena bangunannya tidak dibongkar ketika kawasan permukiman lama mulai digenangi.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>BANTEN <\/b>&#8211; Masjid Al Mujahidin tetap berdiri di tengah kawasan genangan Waduk Karian, Kabupaten Lebak (Lebak), Banten, setelah amanat keturunan pendirinya dan kebijakan tidak membongkar bangunan terdampak membuat tempat ibadah tersebut dipertahankan ketika permukiman lama ditenggelamkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Masjid berkubah biru dan memiliki menara itu kembali terlihat seiring menyusutnya permukaan air waduk akibat musim kemarau. Bangunannya masih tampak utuh dibandingkan sejumlah rumah di sekitarnya yang telah kehilangan atap dan menyisakan dinding.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Maman, warga yang dahulu tinggal di samping masjid di Kampung Somang, mengatakan Masjid Al Mujahidin merupakan bangunan bersejarah yang disebut telah berdiri sejak masa kolonial Belanda.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Yang mendirikan Abuya, katanya dibangun sejak zaman Belanda. Tapi baru direnovasi sekitar 15 tahun lalu,&#8221; kata Maman, sebagaimana diberitakan Cnn Indonesia, Rabu, (29\/07\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Maman, keturunan pendiri masjid telah berpesan agar bangunan tersebut tidak dibongkar dalam kondisi apa pun. Sebagai pengganti bagi warga yang direlokasi, sebuah masjid baru kemudian dibangun dengan memindahkan sejumlah bagian utama dari bangunan lama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Dibuatkan masjid baru, jadi yang dipindah itu cuma lima tiang utama di bagian dalam,&#8221; ujar Maman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kemunculan kembali masjid dan sisa permukiman terjadi setelah permukaan air Waduk Karian menurun akibat kemarau. Deretan tembok rumah yang sebelumnya terendam kini terlihat di ujung genangan Desa Sukarame dan Desa Sukajaya, Kecamatan Sajira.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cidanau Ciujung Cidurian (C3) Dedi Yudha Lesmana menjelaskan, kawasan tersebut sebelumnya merupakan permukiman padat yang berada sekitar 16 kilometer dari poros bendungan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Lokasi berada di ujung genangan Desa Sukarame dan Desa Sukajaya, Kecamatan Sajira. Ini sudah masuk area hulu yang jaraknya 16 kilometer dari as Bendungan, dan awalnya memang merupakan daerah permukiman padat,&#8221; ujar Dedi, Senin (27\/07\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dedi mengatakan, bangunan rumah dan fasilitas lain di kawasan genangan memang tidak dihancurkan ketika proses pengisian waduk dimulai. Tim konstruksi hanya membersihkan pepohonan dan tanaman yang berada di area tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Kondisi seluruh area genangan, meski sudah dibebaskan, tidak dilakukan demolish untuk bangunan yang terdampak. Adapun yang dilakukan proses clearing oleh tim konstruksi hanya tanamannya saja,&#8221; terangnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kondisi itu menyebabkan masjid, dinding rumah, dan sejumlah struktur bangunan lama kembali terlihat ketika permukaan air menurun. BBWS C3 mencatat volume air waduk menyusut sekitar 5 persen, sedangkan elevasinya turun sekitar 80 sentimeter dari muka air normal.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Pada muka air banjir (MAB) waduk, sebagian rumah memang akan tenggelam karena beda tingginya dengan muka air normal sekitar 3,35 meter. Saat ini elevasinya turun sekitar 80 cm dari muka air normal,&#8221; pungkasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kemunculan Masjid Al Mujahidin dan sisa Kampung Somang tidak hanya memperlihatkan dampak kemarau terhadap Waduk Karian, tetapi juga menghadirkan kembali jejak kehidupan masyarakat yang pernah bermukim di kawasan tersebut sebelum pembangunan bendungan. []\n<p style=\"text-align: justify;\">Redaksi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Masjid Al Mujahidin kembali terlihat dalam kondisi utuh saat air Waduk Karian menyusut karena bangunannya tidak dibongkar ketika kawasan permukiman lama mulai digenangi. BANTEN &#8211; Masjid Al Mujahidin tetap berdiri di tengah kawasan genangan Waduk Karian, Kabupaten Lebak (Lebak), Banten, setelah amanat keturunan pendirinya dan kebijakan tidak membongkar bangunan terdampak membuat tempat ibadah tersebut dipertahankan &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":198269,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[7994,17,35],"tags":[46160,6685,46159,46150,46158,46156,46155,46153,46151,46152,46154,46161,46157,46148,46162,46163,46149],"class_list":["post-198263","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-banten","category-headlines","category-berita-nasional","tag-air-waduk-surut","tag-banten","tag-bbws-c3","tag-bendungan-karian","tag-dedi-yudha-lesmana","tag-desa-sukajaya","tag-desa-sukarame","tag-kabupaten-lebak","tag-kampung-somang","tag-kampung-tenggelam-lebak","tag-kecamatan-sajira","tag-kemarau-2026","tag-maman","tag-masjid-al-mujahidin","tag-masjid-bersejarah","tag-permukiman-tenggelam","tag-waduk-karian"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/198263","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=198263"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/198263\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":198274,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/198263\/revisions\/198274"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/198269"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=198263"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=198263"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=198263"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}