{"id":198587,"date":"2026-08-01T13:41:43","date_gmt":"2026-08-01T05:41:43","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=198587"},"modified":"2026-08-01T13:41:43","modified_gmt":"2026-08-01T05:41:43","slug":"tpa-sambutan-akhiri-open-dumping-beralih-ke-sanitary-landfill","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/tpa-sambutan-akhiri-open-dumping-beralih-ke-sanitary-landfill\/","title":{"rendered":"TPA Sambutan Akhiri Open Dumping, Beralih ke Sanitary Landfill"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><em>Pemkot Samarinda mengalihkan operasional TPA Sambutan ke zona dua dengan metode sanitary landfill untuk menghentikan praktik open dumping dan mengurangi dampak pencemaran lingkungan.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>SAMARINDA <\/strong>&#8211; Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda resmi menghentikan sistem pembuangan sampah terbuka atau open dumping di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sambutan mulai Jumat (31\/07\/2026). Operasional pembuangan sampah kini dipindahkan ke zona dua yang menerapkan metode sanitary landfill, satu hari sebelum tenggat nasional penghentian open dumping pada 1 Agustus 2026.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Peralihan sistem pengelolaan sampah tersebut menjadi bagian dari upaya Pemkot Samarinda memenuhi kebijakan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan menjalankan amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Regulasi itu mewajibkan pemerintah daerah mengelola sampah secara berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><img decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-198664\" src=\"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/6296032666071013357.jpg\" alt=\"\" width=\"700\" height=\"394\" srcset=\"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/6296032666071013357.jpg 800w, https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/6296032666071013357-300x169.jpg 300w, https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-content\/uploads\/2026\/07\/6296032666071013357-768x432.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 700px) 100vw, 700px\" \/>Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Samarinda Neneng Chamelia Shanti mengatakan zona satu TPA Sambutan yang sebelumnya menggunakan sistem open dumping telah ditutup. Seluruh kegiatan pemrosesan sampah dialihkan ke zona dua yang dirancang menggunakan metode sanitary landfill.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Saat ini sudah kita buka operasional zona dua, jadi zona satu sudah kita tutup, sesuai dengan aturan kementrian,&#8221; ujar Neneng dalam jumpa pers di Anjungan Karang Mumus, Balai Kota Samarinda, Jalan Kesuma Bangsa, Jumat (31\/07\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Neneng, pengoperasian zona dua menunjukkan komitmen Pemkot Samarinda dalam mendukung reformasi pengelolaan sampah yang ditetapkan pemerintah pusat. Sistem baru tersebut mulai diterapkan sebelum batas waktu penghentian open dumping secara nasional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Sebelum tenggat waktu yang ditentukan oleh kementerian, kita sudah menerapkan metode tersebut,&#8221; kata Neneng.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Metode sanitary landfill merupakan sistem pemrosesan sampah dengan cara menimbun sampah secara berlapis menggunakan tanah. Penerapan metode tersebut bertujuan mengurangi pencemaran lingkungan, menekan bau tidak sedap, serta meminimalkan potensi penyebaran penyakit akibat sampah yang dibiarkan terbuka.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam pelaksanaannya, sampah ditumpuk dengan ketebalan tertentu, kemudian ditutup menggunakan lapisan tanah sebelum ditimbun kembali dengan sampah pada lapisan berikutnya. Pola penimbunan itu dilakukan secara bertahap hingga membentuk lapisan-lapisan yang tersusun menyerupai kue lapis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Zona dua TPA Sambutan juga telah dilengkapi sistem pengelolaan air lindi, yakni cairan yang terbentuk dari proses pembusukan dan rembesan air pada timbunan sampah. Air lindi dialirkan melalui jaringan perpipaan menuju Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) agar tidak mencemari tanah maupun badan air di sekitar TPA.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain itu, zona tersebut memiliki jaringan pipa untuk menyalurkan gas metana yang terbentuk dari proses penguraian sampah organik. Pengelolaan gas metana diperlukan untuk mengurangi risiko pencemaran udara, kebakaran, dan ledakan akibat penumpukan gas di area pemrosesan sampah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Gambarannya seperti kue lapis. Ada sistem perpipaan air lindi dan pipa gas metan untuk menghindari kebakaran, jadi sekitar 30 sentimeter tumpukan sampah kemudian ditutup sekitar 15 sentimeter lapisan tanah, ini sesuai dengan standart,&#8221; tutup Neneng.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penerapan sanitary landfill di TPA Sambutan diharapkan dapat memperbaiki kualitas pengelolaan sampah di Samarinda sekaligus mengurangi dampak pencemaran terhadap lingkungan dan masyarakat di sekitar kawasan TPA. []\n<p style=\"text-align: justify;\">Penulis: Guntur Riyadi | Penyunting: Nursiah<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pemkot Samarinda mengalihkan operasional TPA Sambutan ke zona dua dengan metode sanitary landfill untuk menghentikan praktik open dumping dan mengurangi dampak pencemaran lingkungan. SAMARINDA &#8211; Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda resmi menghentikan sistem pembuangan sampah terbuka atau open dumping di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sambutan mulai Jumat (31\/07\/2026). Operasional pembuangan sampah kini dipindahkan ke zona dua &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":198663,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[17,26,37],"tags":[46712,40466,2321,27384,14127,17976,19612,1819,9369,15395,609,46710,46709,17975,46708,46711],"class_list":["post-198587","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-headlines","category-kalimantan-timur-kaltim","category-kota-samarinda","tag-air-lindi","tag-gas-metana","tag-ipal","tag-kementerian-lingkungan-hidup","tag-lingkungan-hidup","tag-neneng-chamelia-shanti","tag-open-dumping","tag-pemkot-samarinda","tag-pencemaran-lingkungan","tag-pengelolaan-sampah","tag-samarinda","tag-sampah-samarinda","tag-sanitary-landfill","tag-sekda-samarinda","tag-tpa-sambutan","tag-zona-dua-tpa-sambutan"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/198587","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=198587"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/198587\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":198665,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/198587\/revisions\/198665"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/198663"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=198587"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=198587"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=198587"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}