{"id":200551,"date":"2026-08-12T17:31:48","date_gmt":"2026-08-12T09:31:48","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=200551"},"modified":"2026-08-12T17:31:48","modified_gmt":"2026-08-12T09:31:48","slug":"wakaroros-dibidik-jadi-ciri-khas-tenun-kutim","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wakaroros-dibidik-jadi-ciri-khas-tenun-kutim\/","title":{"rendered":"Wakaroros Dibidik Jadi Ciri Khas Tenun Kutim"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><em>Pemkab Kutim mendorong penenun mengembangkan motif Wakaroros sebagai identitas produk, memperluas pasar, serta membuka sumber pendapatan baru bagi masyarakat.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>KUTAI TIMUR<\/strong> &#8211; Motif Wakaroros didorong menjadi identitas pembeda produk tenun sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi penenun di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Penguatan ciri khas lokal itu menjadi salah satu pesan utama setelah 10 penenun menyelesaikan Pelatihan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) Angkatan III di Sangatta, Rabu (12\/08\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Para peserta berasal dari tiga kecamatan, yakni Kongbeng, Kaliorang, dan Sangatta Selatan. Mereka mengikuti pelatihan selama 10 hari sebagai bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutim meningkatkan keterampilan, kualitas produk, serta daya saing kerajinan tenun daerah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menilai keterampilan menenun tidak hanya berpotensi menjadi sumber pendapatan baru bagi keluarga, tetapi juga berperan dalam menjaga kekayaan budaya daerah yang diwujudkan melalui setiap kain yang dihasilkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSelain bisa menajdi sumber ekonomi baru, mereka juga menjadi bagian penting untuk melestarikan seni dan budaya yang ada di setiap kain tenun yang mereka hasilkan,\u201d ucap Ardiansyah dalam penutupan pelatihan, sebagaimana dilansir Kutaitimurkab, Rabu, (12\/08\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Ardiansyah, sumber daya, kreativitas, serta keberagaman adat dan budaya yang dimiliki Kutim perlu diolah menjadi produk bernilai ekonomi. Potensi tersebut dinilai tidak akan memberikan manfaat optimal apabila tidak diikuti kreativitas dan kegiatan produksi yang berkelanjutan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKalau kita diam, tidak ada yang kita kerjakan dan tidak ada hasil,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu potensi yang diminta untuk terus dikembangkan ialah motif Wakaroros. Motif tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi unsur dekoratif pada kain, tetapi berkembang menjadi identitas yang membuat produk tenun maupun batik dari Kutim memiliki karakter dan mudah dikenali konsumen.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cMotif Wakaroros memiliki nilai penting untuk terus dikembangkan sebagai ciri pembeda produk batik maupun tenun Kutai Timur,\u201d ujar Ardiansyah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pelatihan Angkatan III tersebut merupakan kelanjutan program pembinaan yang dimulai pada Desember 2025. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Kadis Disperindag) Kutim Nora Ramadhani mengatakan, sebanyak 30 peserta dari sejumlah kecamatan mengikuti pelatihan tahap awal. Dari jumlah tersebut kemudian diseleksi 10 orang yang dinilai memiliki potensi dan kesungguhan untuk mengembangkan keterampilan menenun.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cIni menjadi bagian dari komitmen kami (Pemkab Kutim), untuk terus mendorong agar kerajinan daerah khususnya tenun bisa terus berkembang dengan memiliki kualitas yang tidak kalah dengan tenun dari berbagai daerah di Indonesia,\u201d ucap Nora.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain meningkatkan kemampuan teknis penenun, pengembangan produk diarahkan agar setiap kecamatan dapat mengangkat motif yang mencerminkan kekhasan wilayahnya dan dipadukan dengan identitas Kutim. Strategi tersebut diharapkan memperkaya ragam wastra lokal sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kutim Siti Robiah mengatakan, pihaknya bersama Disperindag Kutim terus mendorong pengembangan motif lokal. Penenun yang telah mengikuti pelatihan juga diharapkan tidak berhenti pada peningkatan kemampuan pribadi, tetapi mampu membagikan pengetahuan kepada komunitas di wilayah masing-masing.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSaya berharap peserta Angkatan III dapat aktif berproduksi, menularkan ilmu kepada komunitas di wilayahnya, serta membentuk sentra industri tenun yang dapat berkembang menjadi bagian dari sentra budaya dan wisata,\u201d ujar Siti.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan peningkatan kualitas, penguatan motif khas, dan tumbuhnya sentra produksi, tenun diharapkan tidak hanya menjadi produk kerajinan, tetapi berkembang sebagai sumber pendapatan masyarakat sekaligus wajah budaya Kutim yang mampu menjangkau pasar lebih luas. []\n<p style=\"text-align: justify;\">Redaksi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pemkab Kutim mendorong penenun mengembangkan motif Wakaroros sebagai identitas produk, memperluas pasar, serta membuka sumber pendapatan baru bagi masyarakat. KUTAI TIMUR &#8211; Motif Wakaroros didorong menjadi identitas pembeda produk tenun sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi penenun di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Penguatan ciri khas lokal itu menjadi salah satu pesan utama setelah 10 penenun &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":200554,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[17,26,480],"tags":[49786,806,49787,37249,49782,14631,9259,49789,846,1699,49783,49781,49785,14704,49788,7859,49791,44512,49784,49790],"class_list":["post-200551","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-headlines","category-kalimantan-timur-kaltim","category-kabupaten-kutai-timur","tag-alat-tenun-bukan-mesin","tag-ardiansyah-sulaiman","tag-atbm","tag-budaya-kutim","tag-dekranasda-kutim","tag-disperindag-kutim","tag-ekonomi-kreatif","tag-kerajinan-daerah","tag-kutai-timur","tag-kutim","tag-motif-wakaroros","tag-nora-ramadhani","tag-pelatihan-tenun","tag-pemkab-kutim","tag-penenun-kutim","tag-sangatta","tag-sentra-industri-tenun","tag-siti-robiah","tag-tenun-kutim","tag-wastra-lokal"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/200551","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=200551"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/200551\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":200556,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/200551\/revisions\/200556"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/200554"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=200551"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=200551"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=200551"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}