{"id":200739,"date":"2026-08-13T16:22:30","date_gmt":"2026-08-13T08:22:30","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=200739"},"modified":"2026-08-13T16:27:03","modified_gmt":"2026-08-13T08:27:03","slug":"tiga-lokasi-di-hsu-ambles-dalam-sembilan-hari-warga-diminta-waspada","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/tiga-lokasi-di-hsu-ambles-dalam-sembilan-hari-warga-diminta-waspada\/","title":{"rendered":"Tiga Lokasi di HSU Ambles dalam Sembilan Hari, Warga Diminta Waspada"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><em>Tiga kejadian tanah ambles di HSU dalam rentang sembilan hari mendorong pemerintah memperkuat kewaspadaan serta menata permukiman dan infrastruktur di kawasan bantaran sungai.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>HULU SUNGAI UTARA &#8211;<\/strong> Tiga kejadian tanah ambles dalam rentang sembilan hari di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) menyoroti kerentanan permukiman dan infrastruktur di kawasan bantaran sungai. Pemerintah daerah meminta warga meningkatkan kewaspadaan sekaligus mendorong penataan bangunan dan akses jalan agar tidak terlalu dekat dengan tepi sungai.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kejadian terbaru berlangsung di Desa Sungai Sandung, Kecamatan Sungai Pandan, pada 11 Agustus 2026. Penurunan tanah di bantaran sungai berdampak terhadap bangunan rumah warga dan menambah daftar peristiwa serupa yang terjadi di HSU sejak awal Agustus.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebelumnya, tanah ambles dilaporkan terjadi di Desa Panangkalaan pada 2 Agustus 2026. Fenomena serupa kembali muncul pada 7 Agustus di Desa Patarikan yang berbatasan dengan Desa Lok Bangkai, Kecamatan Banjang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di Desa Patarikan, penurunan tanah terjadi di sekitar oprit jembatan gantung hingga menyebabkan akses menuju jembatan menjadi sedikit miring. Rangkaian kejadian tersebut menjadi perhatian karena sebagian wilayah HSU merupakan kawasan rawa dan banyak permukiman berdiri di sekitar aliran sungai.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) HSU Amos Silitonga mengatakan fenomena tanah ambruk di tepi sungai bukan kejadian baru dan cenderung berulang ketika terjadi perubahan kondisi musim.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cFenomena tanah ambruk, khususnya di tepi sungai, memang hampir menjadi fenomena tahunan, baik saat musim kemarau maupun ketika memasuki musim hujan,\u201d kata Amos sebagaimana diberitakan Radar Banjarmasin, Rabu, (12\/08\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Amos, karakteristik dan kondisi tanah menjadi faktor yang perlu diperhatikan, terutama saat musim kemarau. Berkurangnya kepadatan dan daya cengkeram tanah dapat meningkatkan risiko terjadinya penurunan permukaan di kawasan bantaran sungai.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cTanah yang mengalami kekurangan kepadatan atau daya cengkeram saat kemarau bisa menyebabkan tanah menjadi ambruk,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">PUPR HSU menilai upaya pengurangan risiko tidak cukup hanya dilakukan setelah tanah ambles terjadi. Penataan kawasan bantaran sungai perlu menjadi bagian dari langkah pencegahan, terutama dengan menghindari pembangunan baru pada kawasan daerah aliran sungai (DAS).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untuk permukiman yang telah lama berdiri, akses jalan warga dinilai dapat dialihkan agar posisinya tidak terlalu dekat dengan bantaran. Pilihan konstruksi juga perlu disesuaikan dengan karakteristik tanah setempat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cUntuk akses jalan juga dapat dibuat dengan konstruksi panggung atau beton agar fenomena ini dapat dihindari,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain penataan infrastruktur, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) HSU meminta masyarakat yang bermukim di sekitar sungai mengenali tanda awal pergerakan tanah. Indikasinya antara lain muncul retakan, penurunan permukaan tanah, hingga bangunan yang mulai mengalami kemiringan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kepala BPBD HSU Syamrani menekankan pentingnya kewaspadaan warga, khususnya mereka yang tinggal di kawasan dengan risiko pergerakan tanah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cWarga yang tinggal di kawasan permukiman tepi sungai agar lebih waspada terhadap kemungkinan terjadinya tanah ambles,\u201d imbaunya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tiga kejadian dalam waktu berdekatan menjadi peringatan bagi pemerintah dan masyarakat untuk menjadikan kondisi geologi serta karakter lingkungan sungai sebagai pertimbangan utama dalam pembangunan. Penataan permukiman, penguatan konstruksi, dan pemantauan tanda-tanda pergerakan tanah diperlukan untuk mengurangi risiko kerusakan bangunan maupun ancaman terhadap keselamatan warga. []\n<p style=\"text-align: justify;\">Redaksi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tiga kejadian tanah ambles di HSU dalam rentang sembilan hari mendorong pemerintah memperkuat kewaspadaan serta menata permukiman dan infrastruktur di kawasan bantaran sungai. HULU SUNGAI UTARA &#8211; Tiga kejadian tanah ambles dalam rentang sembilan hari di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) menyoroti kerentanan permukiman dan infrastruktur di kawasan bantaran sungai. Pemerintah daerah meminta warga meningkatkan &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":200749,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[19,2301,2276],"tags":[50088,12204,6990,50092,18090,50089,50090,45395,50085,50086,2909,9813,21820,28846,50091,50087,50084,28847,50082,50083],"class_list":["post-200739","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-hotnews","category-kabupaten-hulu-sungai-utara-provinsi-kalimantan-selatan","category-kalimantan-selatan-kalsel","tag-amos-silitonga","tag-amuntai","tag-bantaran-sungai","tag-bencana-tanah-ambles","tag-bpbd-hsu","tag-daerah-aliran-sungai","tag-das","tag-desa-lok-bangkai","tag-desa-panangkalaan","tag-desa-patarikan","tag-hsu","tag-hulu-sungai-utara","tag-kecamatan-banjang","tag-kecamatan-sungai-pandan","tag-permukiman-bantaran-sungai","tag-pupr-hsu","tag-sungai-sandung","tag-syamrani","tag-tanah-ambles-hsu","tag-tanah-bergerak"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/200739","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=200739"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/200739\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":200757,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/200739\/revisions\/200757"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/200749"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=200739"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=200739"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=200739"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}