{"id":200765,"date":"2026-08-13T16:36:30","date_gmt":"2026-08-13T08:36:30","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=200765"},"modified":"2026-08-13T16:36:30","modified_gmt":"2026-08-13T08:36:30","slug":"lebih-dari-2-000-tewas-who-soroti-laju-wabah-ebola-di-kongo","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/lebih-dari-2-000-tewas-who-soroti-laju-wabah-ebola-di-kongo\/","title":{"rendered":"Lebih dari 2.000 Tewas, WHO Soroti Laju Wabah Ebola di Kongo"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><em>WHO memperingatkan keterbatasan akses kesehatan, konflik, infrastruktur lemah, dan belum tersedianya vaksin berlisensi untuk virus Bundibugyo memperberat pengendalian Ebola di RD Kongo yang telah menewaskan lebih dari 2.000 orang.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>KINSHASA<\/strong> &#8211; Keterbatasan akses layanan kesehatan, lemahnya infrastruktur, konflik, hingga aksi mogok tenaga kesehatan memperberat upaya mengendalikan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo). Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization\/WHO) memperingatkan penyebaran penyakit tersebut berlangsung lebih cepat dibandingkan kemampuan penanganannya, dengan lebih dari 2.000 kematian dari sedikitnya 4.300 kasus yang telah tercatat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Direktur Jenderal (Dirjen) WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, memperingatkan laju penyebaran saat ini berpotensi membawa wabah tersebut melampaui dampak wabah Ebola Afrika Barat periode 2014-2016 apabila penanganan tidak segera diperkuat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Peringatan tersebut menjadi perhatian karena wilayah terdampak berada di kawasan terpencil dan berdekatan dengan daerah konflik. Mobilitas penduduk yang tinggi, krisis kemanusiaan, serta kondisi keamanan yang tidak stabil turut mempersulit petugas kesehatan menjangkau masyarakat. WHO menyatakan konteks tersebut menjadi tantangan besar dalam pengendalian wabah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Wabah Ebola di RD Kongo secara resmi diumumkan pada 15 Mei 2026. WHO mengidentifikasi wabah tersebut disebabkan virus Bundibugyo, salah satu jenis virus penyebab penyakit Ebola yang hingga kini belum memiliki vaksin berlisensi maupun pengobatan khusus yang disetujui. Perawatan pendukung secara dini tetap menjadi bagian penting dalam meningkatkan peluang kesembuhan pasien.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berdasarkan informasi yang diberitakan Cnn indonesia, Kamis, (13\/08\/2026), hasil pengurutan genetik menunjukkan virus diperkirakan telah beredar sejak Februari 2026 atau beberapa bulan sebelum wabah secara resmi diumumkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Penanganan wabah menghadapi tantangan tambahan berupa keterbatasan sumber daya fasilitas kesehatan, penyebaran informasi keliru, serta kesulitan menjangkau kasus infeksi dan kematian di daerah terpencil. Aksi mogok sejumlah tenaga kesehatan terkait keterlambatan pembayaran upah juga ikut mengganggu respons penanggulangan. Persoalan pembayaran tenaga kesehatan dalam respons Ebola di wilayah timur RD Kongo turut dilaporkan pada awal Agustus 2026.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Direktur Operasi Peringatan dan Respons Darurat Kesehatan WHO, Abdirahman Mahamud, memperkirakan wabah dapat mencapai puncaknya dalam enam bulan berdasarkan skenario moderat. Dalam skenario lebih buruk, wabah berpotensi berlangsung selama sembilan hingga 12 bulan apabila hambatan pengendalian tidak dapat segera diatasi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kecepatan penyebaran wabah menjadi perhatian karena lebih dari 2.000 orang telah meninggal dari lebih dari 4.300 kasus yang tercatat. Kondisi tersebut menempatkan wabah Ebola Bundibugyo 2026 sebagai wabah terbesar yang pernah tercatat untuk jenis virus tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagai perbandingan, wabah Ebola di Afrika Barat pada 2014-2016 menewaskan lebih dari 11.000 orang dari sekitar 28.000 kasus. WHO memperingatkan korban di RD Kongo berpotensi terus bertambah apabila akses tenaga kesehatan ke masyarakat terdampak tidak segera diperbaiki.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Belum tersedianya vaksin berlisensi khusus untuk virus Bundibugyo turut mempersempit pilihan pengendalian. Pengembangan kandidat vaksin masih berlangsung, termasuk pengujian kandidat yang ditujukan untuk menghadapi jenis virus tersebut.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pengendalian wabah kini sangat bergantung pada kemampuan memperluas akses layanan kesehatan, menemukan dan mengisolasi kasus secara cepat, memperkuat fasilitas kesehatan, serta memastikan tenaga medis dapat bekerja di wilayah terdampak. Tanpa perbaikan pada aspek tersebut, tingginya laju penularan berisiko memperpanjang wabah dan meningkatkan jumlah korban di RD Kongo. []\n<p style=\"text-align: justify;\">Redaksi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>WHO memperingatkan keterbatasan akses kesehatan, konflik, infrastruktur lemah, dan belum tersedianya vaksin berlisensi untuk virus Bundibugyo memperberat pengendalian Ebola di RD Kongo yang telah menewaskan lebih dari 2.000 orang. KINSHASA &#8211; Keterbatasan akses layanan kesehatan, lemahnya infrastruktur, konflik, hingga aksi mogok tenaga kesehatan memperberat upaya mengendalikan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo). Organisasi &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":200773,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[19,2254],"tags":[50141,37118,50140,24776,50146,50144,32118,32122,36044,28384,32119,50147,50145,28385,50143,28729,50142,24769],"class_list":["post-200765","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-hotnews","category-berita-internasional","tag-abdirahman-mahamud","tag-ebola-bundibugyo","tag-ebola-kongo","tag-kesehatan-global","tag-konflik-kongo","tag-korban-ebola","tag-organisasi-kesehatan-dunia","tag-penanganan-ebola","tag-rd-kongo","tag-republik-demokratik-kongo","tag-tedros-adhanom-ghebreyesus","tag-tenaga-kesehatan-kongo","tag-vaksin-ebola","tag-virus-bundibugyo","tag-wabah-afrika","tag-wabah-ebola","tag-wabah-ebola-2026","tag-who"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/200765","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=200765"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/200765\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":200774,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/200765\/revisions\/200774"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/200773"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=200765"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=200765"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=200765"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}