{"id":200974,"date":"2026-08-14T17:52:24","date_gmt":"2026-08-14T09:52:24","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=200974"},"modified":"2026-08-14T17:52:24","modified_gmt":"2026-08-14T09:52:24","slug":"karhutla-ancam-kebun-warga-kotim-desa-minta-water-bombing","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/karhutla-ancam-kebun-warga-kotim-desa-minta-water-bombing\/","title":{"rendered":"Karhutla Ancam Kebun Warga Kotim, Desa Minta Water Bombing"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><em>Keterbatasan air, alat pemadam, dan akses membuat Pemerintah Desa Bagendang Tengah memprioritaskan perlindungan kebun warga sekaligus meminta water bombing untuk menjangkau titik karhutla yang sulit dipadamkan dari darat.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>KOTAWARINGIN TIMUR <\/b>&#8211; Pemerintah Desa Bagendang Tengah, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), meminta dukungan water bombing untuk mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sulit dijangkau dari darat. Keterbatasan sumber air, peralatan, dan akses menuju titik kebakaran membuat desa kini memprioritaskan perlindungan terhadap kebun warga yang belum terbakar agar api tidak semakin meluas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kepala Desa (Kades) Bagendang Tengah, Untung Sukardi, mengatakan kemampuan pemadaman di tingkat desa terbatas karena sejumlah titik api berada jauh dari permukiman. Kondisi tersebut diperparah sulitnya mendapatkan air di sekitar lokasi kebakaran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKeterbatasan kami salah satunya air sulit. Kedua, alat pemadam juga terbatas. Ada pemadam desa, tetapi tidak bisa sampai atau mendatangi lokasi. Aksesnya juga menjadi kendala,\u201d jelasnya, Jumat (14\/08\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menghadapi kondisi itu, Pemerintah Desa Bagendang Tengah mengarahkan masyarakat untuk menjaga kebun masing-masing, terutama lahan yang belum terdampak. Langkah tersebut dilakukan untuk menekan risiko penjalaran api selama musim kemarau.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di sekitar permukiman, desa telah menyiagakan sejumlah peralatan sebagai antisipasi apabila kebakaran bergerak mendekati rumah warga. Peralatan tersebut meliputi tiga hingga empat pompa dan tandon air yang dapat diangkut menggunakan kendaraan pikap.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKami menyiapkan peralatan di desa. Ada sekitar tiga sampai empat pompa yang menggunakan pikap untuk membuat tandon. Ini untuk menjaga kemungkinan kebakaran di sekitar desa yang berdekatan dengan permukiman. Kalau menjangkau lokasi yang jauh, kami tidak mampu,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karena kemampuan pemadaman dari darat terbatas, pemerintah desa berkoordinasi dengan kepolisian, pemerintah kecamatan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta Masyarakat Peduli Api (MPA). Pemerintah desa juga meminta dukungan pemadaman dari udara untuk menjangkau titik api yang sulit diakses.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cMPA desa dan kecamatan sama-sama turun. Kami juga terus berkoordinasi dan meminta water bombing serta penanganan yang lebih serius untuk wilayah desa kami,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagaimana diberitakan Radarsampit, Jumat, (14\/08\/2026), Untung menyebut sejumlah perusahaan di sekitar wilayah tersebut juga telah melakukan pemadaman dan menjaga kawasan konsesi masing-masing. Namun, jangkauan penanganan perusahaan dinilai belum mencakup seluruh kebun masyarakat di luar kawasan konsesi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cPerusahaan memang menjaga konsesinya. Tetapi untuk wilayah desa yang lebih luas, mereka tidak sampai karena perusahaan fokus menjaga kawasan konsesinya,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Terkait penyebab karhutla, Untung menduga sebagian kejadian kemungkinan dipicu kelalaian atau human error. Menurutnya, pembakaran secara sengaja dinilai tidak masuk akal apabila tindakan tersebut justru mengancam kebun milik warga sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKalau human error, kesalahan atau keteledoran petani mungkin saja. Kalau sengaja membakar, tidak mungkin karena kebunnya sendiri yang terbakar,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pemerintah desa juga terus meningkatkan peringatan kepada masyarakat agar berhati-hati dalam beraktivitas, baik di kebun maupun di sekitar rumah selama musim kemarau. Imbauan pencegahan karhutla bahkan disampaikan dalam berbagai kegiatan masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSetiap ada kegiatan saya sampaikan. Saat pesta perkawinan saya sampaikan di panggung, setelah arisan juga saya ingatkan. Mau di kebun atau di rumah, hati-hati karena sekarang musim kemarau,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Untung berharap pemerintah daerah dan pemerintah provinsi meningkatkan dukungan penanganan karhutla di Bagendang Tengah, terutama melalui tambahan peralatan serta pemadaman dari udara. Bantuan tersebut dinilai mendesak agar titik api dapat dikendalikan sebelum menjalar ke kebun masyarakat dan kawasan lain yang masih aman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKami berharap ada tindak lanjut penanganan untuk desa kami, terutama bantuan water bombing. Kalau ada dukungan, mudah-mudahan api bisa segera dipadamkan dan kebun masyarakat yang belum terbakar bisa tetap dijaga,\u201d tutupnya. []\n<p style=\"text-align: justify;\">Redaksi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Keterbatasan air, alat pemadam, dan akses membuat Pemerintah Desa Bagendang Tengah memprioritaskan perlindungan kebun warga sekaligus meminta water bombing untuk menjangkau titik karhutla yang sulit dipadamkan dari darat. KOTAWARINGIN TIMUR &#8211; Pemerintah Desa Bagendang Tengah, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), meminta dukungan water bombing untuk mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":200980,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[19,2259,2266],"tags":[50507,1498,50508,46593,15661,20126,1530,50511,26834,32455,41261,22291,17121,26000,50512,25694,8859,50510,50509,39604],"class_list":["post-200974","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-hotnews","category-kalimantan-tengah","category-kabupaten-kotawaringin-timur-provinsi-kalimantan-tengah","tag-bagendang-tengah","tag-bpbd","tag-desa-bagendang-tengah","tag-karhutla-kotawaringin-timur","tag-karhutla-kotim","tag-kebakaran-hutan-dan-lahan","tag-kebakaran-lahan","tag-kebakaran-perkebunan","tag-kebun-warga","tag-kecamatan-mentaya-hilir-utara","tag-masyarakat-peduli-api","tag-mpa","tag-musim-kemarau","tag-pemadaman-karhutla","tag-pemadaman-udara","tag-pencegahan-karhutla","tag-sampit","tag-titik-api-kotim","tag-untung-sukardi","tag-water-bombing"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/200974","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=200974"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/200974\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":200982,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/200974\/revisions\/200982"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/200980"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=200974"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=200974"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=200974"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}