{"id":201253,"date":"2026-08-15T13:58:45","date_gmt":"2026-08-15T05:58:45","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=201253"},"modified":"2026-08-15T13:59:34","modified_gmt":"2026-08-15T05:59:34","slug":"di-balik-ancaman-trump-ada-teori-madman-nixon","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/di-balik-ancaman-trump-ada-teori-madman-nixon\/","title":{"rendered":"Di Balik Ancaman Trump, Ada Teori &#8216;Madman&#8217; Nixon"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"279\" data-end=\"630\"><em>Strategi komunikasi Donald Trump terhadap Iran dinilai memiliki kemiripan dengan Madman Theory Richard Nixon, yakni menciptakan ketidakpastian dan ancaman ekstrem untuk meningkatkan tekanan terhadap lawan.<\/em><\/p>\n<p class=\"PDq2pG_selectionAnchorContainer\" style=\"text-align: justify;\" data-start=\"279\" data-end=\"630\"><strong data-start=\"279\" data-end=\"301\">WASHINGTON, D.C. &#8211;<\/strong> Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dinilai menggunakan pola komunikasi yang sengaja menampilkan ancaman ekstrem untuk menekan Iran dalam konflik kedua negara. Strategi tersebut dikaitkan dengan <em data-start=\"504\" data-end=\"519\">Madman Theory<\/em> atau Teori Orang Gila yang pernah digunakan Presiden Richard Nixon dalam menghadapi Vietnam pada awal 1970-an.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"632\" data-end=\"1009\">Pola itu terlihat dari sejumlah pernyataan Trump yang bernada keras, termasuk ancaman terhadap Iran apabila Teheran menolak berunding serta tekanan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz. Analisis mengenai strategi tersebut menjadi sorotan di tengah kebuntuan konflik AS-Iran yang telah berlangsung hampir enam pekan, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Sabtu, (15\/08\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1011\" data-end=\"1290\">Salah satu pernyataan Trump muncul pada 7 April ketika ia memperingatkan bahwa &#8220;seluruh peradaban Iran akan musnah malam ini&#8221; jika Teheran menolak berpartisipasi dalam perundingan damai. Trump saat itu juga mengancam menghancurkan infrastruktur sipil dan pembangkit listrik Iran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1292\" data-end=\"1507\">Ancaman tersebut akhirnya tidak direalisasikan setelah pembicaraan tatap muka antara kedua pihak dijadwalkan berlangsung di Pakistan. Pola serupa kembali terlihat ketika Trump menekan Iran agar membuka Selat Hormuz.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1509\" data-end=\"1697\">&#8220;Tidak akan ada yang seperti itu!!! Buka selat sialan itu, kalian bajingan gila, atau kalian akan hidup di neraka &#8211; lihat saja! Segala puji bagi Allah. Presiden DONALD J TRUMP,&#8221; tulisanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1699\" data-end=\"1957\">Istilah <em data-start=\"1707\" data-end=\"1722\">Madman Theory<\/em> merujuk pada strategi yang bertujuan membuat lawan meyakini bahwa pemimpin yang dihadapi tidak dapat diprediksi dan bersedia mengambil tindakan ekstrem. Gagasan tersebut pertama kali diperkenalkan Nixon saat menghadapi Perang Vietnam.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"1959\" data-end=\"2220\">Nixon pernah menjelaskan konsep itu kepada calon kepala staf Gedung Putih, Bob Haldeman, pada 1968 sebelum terpilih sebagai presiden. Nixon menggambarkan keinginannya agar Vietnam Utara percaya dirinya dapat melakukan tindakan apa pun untuk menghentikan perang.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2222\" data-end=\"2399\">&#8220;Saya menyebutnya &#8216;teori orang gila&#8217; Bob,&#8221; katanya kepada Haldeman, seperti yang diceritakan oleh Anthony Summers dalam The Arrogance of Power, yang diterbitkan pada tahun 2000.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2401\" data-end=\"2837\">&#8220;Saya ingin Vietnam Utara percaya bahwa saya telah mencapai titik di mana saya mungkin melakukan apa saja untuk menghentikan perang. Kita akan menyelipkan pesan kepada mereka bahwa &#8216;demi Tuhan, Anda tahu Nixon terobsesi dengan komunis. Kita tidak bisa menahannya ketika dia marah, dan dia memegang kendali atas tombol nuklir&#8217;, dan Ho Chi Minh sendiri akan berada di Paris dalam dua minggu memohon perdamaian,&#8221; dikutip dari The Guardian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"2839\" data-end=\"3141\">Dalam konteks konflik saat ini, pola tersebut dinilai kembali terlihat melalui sikap Trump terhadap Iran. Analisis yang dikutip dalam pemberitaan menyebut Trump berusaha menciptakan tekanan psikologis sekaligus ruang untuk mengklaim kemenangan tanpa harus mengambil langkah militer yang lebih berisiko.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3143\" data-end=\"3445\">&#8220;Presiden (Trump) telah membawa aksi penghormatannya ke tingkat yang baru dengan mengancam untuk menghapus Iran sebagai sebuah peradaban, hanya untuk mundur dari ambang kehancuran ketika rezim Teheran setuju, dengan harga tertentu, untuk membuka kembali Selat Hormuz yang sangat penting secara ekonomi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3447\" data-end=\"3659\">Robert Tait, yang menganalisis teori ini pada Trump, menyatakan jika dilihat bahwa klaim kemenangan yang sering diumbar Trump adalah kemenangan semu. Itu mengingatkan pada Nixon dan Vietnam Utara pada tahun 1972.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3661\" data-end=\"3976\">Tekanan tersebut juga menghadapi tantangan karena Iran belum menunjukkan tanda-tanda menyerah meski serangan telah berlangsung hampir enam pekan. Situasi itu membuat Trump dinilai membutuhkan langkah yang dapat membangun narasi keberhasilan sekaligus menghindari kesan bahwa AS gagal mencapai kemenangan menentukan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"3978\" data-end=\"4278\">&#8220;Karena dia belum mampu meraih kemenangan telak dari konflik ini sejauh ini, dia mungkin sedang mencari semacam langkah besar agar bisa mundur dan menyatakan kemenangan tanpa para kritikusnya mampu membantah narasi kemenangannya,&#8221; kata Ali Vaez, direktur program Iran dari International Crisis Group.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4280\" data-end=\"4535\">Strategi tekanan melalui Selat Hormuz juga dapat menjadi alternatif bagi Trump untuk menghindari pilihan yang lebih berisiko, yakni pengerahan pasukan darat. Trump sebelumnya menyebut Iran telah berjanji untuk &#8220;menggali dan menyingkirkan&#8221; material nuklir.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4537\" data-end=\"4909\">Dengan demikian, ancaman keras yang dilontarkan Trump tidak hanya dipandang sebagai retorika perang, tetapi juga dapat menjadi instrumen negosiasi untuk memaksa Teheran mengambil langkah yang menguntungkan Washington. Perkembangan strategi tersebut akan sangat bergantung pada respons Iran dan sejauh mana tekanan ekonomi serta militer AS mampu mengubah posisi Teheran. []\n<p style=\"text-align: justify;\" data-start=\"4911\" data-end=\"4953\">Redaksi08<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Strategi komunikasi Donald Trump terhadap Iran dinilai memiliki kemiripan dengan Madman Theory Richard Nixon, yakni menciptakan ketidakpastian dan ancaman ekstrem untuk meningkatkan tekanan terhadap lawan. WASHINGTON, D.C. &#8211; Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dinilai menggunakan pola komunikasi yang sengaja menampilkan ancaman ekstrem untuk menekan Iran dalam konflik kedua negara. Strategi tersebut dikaitkan dengan Madman &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":85,"featured_media":201254,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[19,2254],"tags":[16267,15315,51011,17781,51010,15308,51013,12245,51012,5723],"class_list":["post-201253","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-hotnews","category-berita-internasional","tag-geopolitik","tag-konflik-as-iran","tag-madman-theory","tag-perang-iran","tag-richard-nixon","tag-selat-hormuz","tag-strategi-trump","tag-teheran","tag-teori-orang-gila","tag-timur-tengah"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/201253","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/85"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=201253"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/201253\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":201255,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/201253\/revisions\/201255"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/201254"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=201253"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=201253"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=201253"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}