{"id":201561,"date":"2026-08-17T22:18:53","date_gmt":"2026-08-17T14:18:53","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=201561"},"modified":"2026-08-17T22:18:53","modified_gmt":"2026-08-17T14:18:53","slug":"1-624-gempa-susulan-guncang-flores-bmkg-minta-warga-waspada","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/1-624-gempa-susulan-guncang-flores-bmkg-minta-warga-waspada\/","title":{"rendered":"1.624 Gempa Susulan Guncang Flores, BMKG Minta Warga Waspada"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><em>BMKG mencatat 1.624 gempa susulan setelah gempa M7,7 di Flores, termasuk 23 kejadian bermagnitudo di atas 5 dan 59 gempa yang dirasakan masyarakat.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>JAKARTA <\/strong>&#8211; Aktivitas kegempaan di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih tinggi setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang wilayah tersebut pada Sabtu (15\/08\/2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sedikitnya 1.624 gempa susulan atau aftershock dengan magnitudo 1,3 hingga 6,2, sehingga masyarakat diminta tetap mewaspadai guncangan lanjutan dan menghindari bangunan yang rusak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari seluruh gempa susulan yang tercatat, sebanyak 23 kejadian memiliki magnitudo di atas 5, sedangkan 59 gempa dirasakan masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menjelaskan gempa utama terjadi pada Sabtu pukul 04.58 Waktu Indonesia Barat (WIB) dengan parameter pemutakhiran magnitudo 7,7. Gempa dangkal tersebut dipicu aktivitas tektonik di zona Flores Back-Arc dengan mekanisme sesar naik atau thrust fault.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;BMKG telah mengirimkan Peringatan Dini 1 pada 2 menit 16 detik setelah gempa bumi dengan status ancaman SIAGA (0.5 &#8211; 3 meter) dan Waspada (&lt;0.5 meter),&#8221; kata Wijayanto dalam keterangan tertulis, sebagaimana diberitakan Cnn Indonesia, Senin, (17\/08\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Peringatan dini tsunami berstatus Siaga diberlakukan untuk Manggarai bagian utara, Ngada bagian utara, Ende, Flores Timur, dan Jeneponto. Sementara status Waspada mencakup Flores Timur, Bima, Dompu, dan Wajo.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Peringatan dini tsunami kemudian diakhiri pada pukul 07.30 WIB atau sekitar 2 jam 31 menit setelah gempa utama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hasil pengamatan stasiun pasang surut menunjukkan tsunami terdeteksi di 16 lokasi yang tersebar di empat provinsi, yakni NTT, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Selatan (Sulsel), dan Sulawesi Tenggara (Sultra).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketinggian tsunami tertinggi tercatat di Pota, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, pada pukul 05.03 WIB dengan tinggi 1,605 meter. Sementara tsunami terendah terpantau di Bakalang, Alor, pada pukul 05.41 WIB dengan tinggi 0,14 meter.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berdasarkan pemantauan sementara dan laporan lapangan, gempa M7,7 tersebut mengakibatkan 53 orang meninggal dunia dan 137 orang mengalami luka-luka. Kerusakan dengan tingkat ringan hingga berat dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah, terutama Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, hingga Sikka dan Maumere.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">BMKG juga menerjunkan tim gabungan dari pusat dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) untuk melakukan kajian langsung di daerah terdampak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;BMKG telah menerjunkan tim gabungan dari pusat dan UPT untuk melakukan survei gempabumi merusak, meliputi survei makroseismik, pengukuran mikrotremor dan MASW untuk mengetahui karakteristik serta respons tanah terhadap guncangan, monitoring gempa susulan, dan verifikasi dampak tsunami di lapangan,&#8221; papar Wijayanto.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Survei tersebut mencakup pengukuran makroseismik, mikrotremor, serta Multichannel Analysis of Surface Waves (MASW) untuk mengidentifikasi karakteristik tanah dan responsnya terhadap guncangan. BMKG juga terus memantau gempa susulan dan memverifikasi dampak tsunami di lapangan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hasil survei akan digunakan untuk mendukung pemulihan dan rekonstruksi pascabencana, menyusun pemetaan mikrozonasi, mengevaluasi kondisi daerah terdampak, serta merumuskan rekomendasi mitigasi dan pembangunan kembali yang lebih aman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Wilayah dengan kerusakan sedang hingga berat menjadi prioritas kajian dan akan dibandingkan dengan kawasan yang relatif tidak mengalami kerusakan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain survei teknis, BMKG melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat agar memahami kondisi pascagempa dan tidak terpengaruh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Warga juga diminta menjauhi bangunan yang retak atau mengalami kerusakan karena masih berisiko terdampak gempa susulan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;BMKG akan terus memantau aktivitas gempa bumi susulan dan menyampaikan pemutakhiran informasi secara berkala kepada stakeholder dan masyarakat. Maka dari itu, masyarakat diimbau untuk memperbarui informasi resmi BMKG melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi seperti media sosial @infoBMKG, website <a href=\"http:\/\/www.bmkg.go.id\/\">www.bmkg.go.id<\/a> atau inatews.bmkg.go.id, dan Mobile Apps infobmkg atau wrs-bmkg,&#8221; tulisnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan aktivitas gempa susulan yang masih berlangsung, masyarakat di kawasan terdampak diminta tetap mengikuti informasi resmi BMKG, menjauhi bangunan yang tidak aman, dan meningkatkan kesiapsiagaan hingga aktivitas kegempaan dinyatakan berangsur stabil. []\n<p style=\"text-align: justify;\">Redaksi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BMKG mencatat 1.624 gempa susulan setelah gempa M7,7 di Flores, termasuk 23 kejadian bermagnitudo di atas 5 dan 59 gempa yang dirasakan masyarakat. JAKARTA &#8211; Aktivitas kegempaan di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih tinggi setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang wilayah tersebut pada Sabtu (15\/08\/2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sedikitnya 1.624 gempa &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":201570,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[19,9295,35],"tags":[51524,51523,828,51530,50972,29939,50997,22120,51525,34676,14381,50980,51528,10826,7909,10224,10301,8460,10302,14228,7886,7772,51526,51529,51527],"class_list":["post-201561","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-hotnews","category-jakarta","category-berita-nasional","tag-1-624-gempa-susulan","tag-7-flores","tag-bmkg","tag-flores-back-arc","tag-gempa-flores","tag-gempa-indonesia","tag-gempa-m7","tag-gempa-ntt","tag-gempa-susulan-flores","tag-manggarai-barat","tag-manggarai-timur","tag-maumere","tag-mitigasi-gempa","tag-ntb","tag-ntt","tag-nusa-tenggara-barat","tag-nusa-tenggara-timur","tag-sikka","tag-sulawesi-selatan","tag-sulawesi-tenggara","tag-sulsel","tag-sultra","tag-tsunami-flores","tag-tsunami-ntt","tag-wijayanto-bmkg"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/201561","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=201561"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/201561\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":201573,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/201561\/revisions\/201573"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/201570"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=201561"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=201561"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=201561"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}