{"id":201579,"date":"2026-08-17T22:40:22","date_gmt":"2026-08-17T14:40:22","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=201579"},"modified":"2026-08-17T22:40:22","modified_gmt":"2026-08-17T14:40:22","slug":"aturan-senjata-thailand-makin-ketat-toko-senjata-di-bangkok-jual-roti","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/aturan-senjata-thailand-makin-ketat-toko-senjata-di-bangkok-jual-roti\/","title":{"rendered":"Aturan Senjata Thailand Makin Ketat, Toko Senjata di Bangkok Jual Roti"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><em>Pengetatan izin dan larangan impor senjata di Thailand membuat bisnis pedagang legal semakin tertekan, hingga sebuah toko senjata di Bangkok beralih menjual roti untuk membayar gaji pegawai.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>BANGKOK <\/strong>&#8211; Pengetatan regulasi senjata api di Thailand mulai menekan bisnis pedagang legal di Bangkok. Salah satu toko yang terdampak, Suchart and Friends Gun, bahkan beralih menjual roti sourdough untuk mempertahankan operasional dan membayar gaji pegawai setelah bisnis senjatanya semakin lesu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pemilik Suchart and Friends Gun, Warintorn Boonyachai, mulai menjual roti sekitar lima bulan lalu. Etalase yang sebelumnya dipenuhi pistol dan senapan kini berganti dengan produk roti, meski ia masih berharap perdagangan senjata kembali membaik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Saya masih punya harapan karena, seperti yang saya katakan, menjual senjata lebih tidak melelahkan daripada menjual roti,&#8221; kata Warintorn, yang juga memiliki sekolah membuat roti, sebagaimana diberitakan Cnn indonesia, Senin, (17\/08\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tekanan terhadap industri senjata legal semakin besar setelah serangkaian penembakan kembali mengguncang Thailand. Pada awal Agustus 2026, seorang remaja berusia 14 tahun menembak sejumlah orang di rumah dan sekolahnya di luar Bangkok. Sedikitnya tujuh orang tewas sebelum pelaku mengakhiri hidupnya dengan menembak diri sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Insiden tersebut kembali mendorong Pemerintah Thailand memperketat akses terhadap senjata api. Perdana Menteri (PM) Thailand Anutin Charnvirakul mengusulkan penghentian sementara penerbitan izin pembelian dan kepemilikan senjata baru.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kepolisian juga diperintahkan menghentikan perpanjangan izin pembelian senjata. Kebijakan tersebut berpotensi semakin mempersempit ruang usaha pedagang senjata legal sekaligus membatasi masyarakat yang hendak membeli senjata melalui jalur resmi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun, kebijakan itu memunculkan keberatan dari pelaku industri. Presiden Firearms Traders Association of Thailand Thititorn Bupparamanee menilai penghentian izin belum tentu menyasar akar persoalan kekerasan bersenjata.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Mereka tidak menyelesaikan masalah di tempat yang tepat. Jika mereka melakukannya, angka kejahatan akan lebih rendah,&#8221; kata Thititorn.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Thititorn, pembatasan terhadap pembelian senjata secara legal berpotensi mendorong sebagian calon pembeli beralih ke pasar gelap. Persoalan tersebut menjadi sorotan karena Thailand memiliki tingkat kepemilikan senjata api sipil yang relatif tinggi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berdasarkan perkiraan Small Arms Survey pada 2017, sekitar 10,3 juta senjata api berada di tangan warga sipil Thailand atau sekitar 15 senjata untuk setiap 100 penduduk. Angka tersebut menempatkan Thailand sebagai negara dengan tingkat kepemilikan senjata sipil tertinggi kedua di Asia setelah Pakistan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari jumlah itu, sedikitnya 6 juta senjata tercatat secara resmi, sedangkan sekitar 4 juta lainnya diperkirakan tidak terdaftar. Thititorn memperkirakan nilai industri senjata Thailand mencapai sekitar 2 miliar baht atau sekitar 60,4 juta dolar Amerika Serikat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dampak pembatasan juga terlihat di sejumlah toko senjata lain di distrik perdagangan senjata Bangkok. Salah satu toko yang telah beroperasi hampir tujuh dekade disebut hanya menyisakan dua senjata untuk dijual, meski masih mempekerjakan enam orang. Kedua senjata tersebut juga belum dapat dijual.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pedagang tidak dapat menambah stok melalui impor karena Pemerintah Thailand telah memberlakukan larangan impor senjata api sejak 2023. Larangan itu diterapkan setelah penembakan di sebuah pusat perbelanjaan di Bangkok pada tahun yang sama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Serangkaian kasus penembakan sebelumnya, termasuk di sekolah dan pusat penitipan anak, turut memperkuat desakan agar pengawasan senjata diperketat. Namun, sebagian masyarakat menilai persoalan tidak semata-mata terletak pada hak kepemilikan, melainkan pada pengawasan terhadap penggunaan dan keberadaan senjata di ruang publik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ibu dari seorang siswa berusia 14 tahun yang berhasil menyelamatkan diri dalam penembakan di sekolah pada 7 Agustus 2026 tetap mendukung hak masyarakat memiliki senjata, tetapi meminta pengawasan diperkuat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Jelas harus ada pemeriksaan terhadap senjata di mana-mana karena pisau juga sama menakutkannya,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perdebatan regulasi senjata di Thailand kini mempertemukan dua kepentingan: upaya pemerintah menekan kekerasan bersenjata dan kekhawatiran pedagang bahwa pembatasan pasar legal justru tidak menyelesaikan peredaran senjata ilegal. Bagi Warintorn, perubahan itu sudah terasa nyata\u2014senjata yang dahulu menjadi barang dagangan utama kini tergantikan oleh roti sourdough demi menjaga usahanya tetap berjalan. []\n<p style=\"text-align: justify;\">Redaksi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengetatan izin dan larangan impor senjata di Thailand membuat bisnis pedagang legal semakin tertekan, hingga sebuah toko senjata di Bangkok beralih menjual roti untuk membayar gaji pegawai. BANGKOK &#8211; Pengetatan regulasi senjata api di Thailand mulai menekan bisnis pedagang legal di Bangkok. Salah satu toko yang terdampak, Suchart and Friends Gun, bahkan beralih menjual roti &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":201580,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[19,2254],"tags":[36672,9689,51539,51540,51538,28763,51535,51537,51544,51536,51534,51543,51542,51532,8529,51541,51531,51533],"class_list":["post-201579","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-hotnews","category-berita-internasional","tag-anutin-charnvirakul","tag-bangkok","tag-bisnis-senjata-thailand","tag-firearms-traders-association-of-thailand","tag-izin-senjata-api","tag-kekerasan-bersenjata","tag-kepemilikan-senjata-thailand","tag-larangan-impor-senjata","tag-pasar-gelap-senjata","tag-penembakan-thailand","tag-regulasi-senjata-thailand","tag-roti-sourdough","tag-small-arms-survey","tag-suchart-and-friends-gun","tag-thailand","tag-thititorn-bupparamanee","tag-toko-senjata-bangkok","tag-warintorn-boonyachai"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/201579","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=201579"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/201579\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":201582,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/201579\/revisions\/201582"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/201580"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=201579"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=201579"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=201579"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}