{"id":202367,"date":"2026-08-21T21:05:19","date_gmt":"2026-08-21T13:05:19","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=202367"},"modified":"2026-08-21T21:14:33","modified_gmt":"2026-08-21T13:14:33","slug":"karhutla-kalteng-ancam-gardu-induk-pln-dan-permukiman-warga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/karhutla-kalteng-ancam-gardu-induk-pln-dan-permukiman-warga\/","title":{"rendered":"Karhutla Kalteng Ancam Gardu Induk PLN dan Permukiman Warga"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><em>Karhutla di Lamandau dan Kobar bergerak mendekati objek vital serta permukiman, memaksa ratusan personel gabungan dan helikopter dikerahkan untuk menahan penyebaran api di lahan gambut kering.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>LAMANDAU<\/strong> &#8211; Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Desa Kujan, Kecamatan Bulik, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah (Kalteng), mengancam Gardu Induk Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan permukiman warga setelah api kembali menyala dan meluas di lahan gambut bekas persawahan sejak Kamis (20\/08\/2026) sore. Ratusan personel gabungan hingga helikopter dikerahkan untuk menahan pergerakan api agar tidak mencapai objek vital dan rumah penduduk.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Api yang sempat berhasil dipadamkan pada Kamis pagi kembali muncul dan bergerak cepat menuju kawasan Gardu Induk PLN Kujan. Kondisi itu membuat petugas memprioritaskan perlindungan terhadap infrastruktur kelistrikan sekaligus membangun penyekatan agar kobaran tidak merambat ke permukiman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lamandau Hendikel mengatakan lahan gambut yang mengering membuat api lebih mudah merambat dan sulit dikendalikan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Prioritas kami saat ini mengamankan Gardu Induk PLN dan mencegah api merambat ke permukiman warga. Kami bersama seluruh tim terus melakukan pemadaman dan penyekatan. Hingga pagi ini masih ada api dan masih terus kita pantau,&#8221; kata Hendikel sebagaimana dilansir Cnn Indonesia, Jumat (21\/08\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ratusan personel dari BPBD Lamandau, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar), Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), Tentara Nasional Indonesia (TNI), Polri, serta masyarakat diterjunkan ke lokasi untuk memperkuat operasi pemadaman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Upaya mempercepat akses menuju titik api bahkan dilakukan dengan menjebol sejumlah bagian pagar Gardu Induk PLN agar kendaraan, personel, dan selang pemadam dapat masuk lebih dekat ke kawasan kebakaran.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Sejumlah armada pemadam juga diterjunkan untuk menjangkau titik-titik api di sekitar gardu. Bahkan, beberapa bagian pagar Gardu Induk PLN terpaksa dijebol agar petugas dan selang pemadam dapat lebih cepat masuk menuju area kebakaran,&#8221; kata dia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pemadaman tidak hanya dilakukan melalui jalur darat. Sebuah helikopter dikerahkan untuk melakukan pemadaman dari udara dengan mengambil air dari Sungai Lamandau.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Upaya pemadaman tidak hanya dilakukan dari darat. Sebuah helikopter turut dikerahkan dan terlihat mengambil air dari Sungai Lamandau untuk membantu operasi pemadaman dari udara,&#8221; imbuhnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hingga sekitar pukul 19.00 Waktu Indonesia Barat (WIB), Kamis, sejumlah titik api masih terlihat membesar. Petugas kemudian membuat parit penyekat untuk memperlambat laju api sekaligus mencegah kobaran bergerak menuju gardu induk maupun rumah warga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Petugas gabungan masih bersiaga hingga dini hari tadi. Pergerakan api terus dipantau untuk memastikan kobaran tidak semakin mendekati objek vital dan rumah warga,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ancaman Karhutla terhadap permukiman juga terjadi di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar). Sejak Kamis hingga Jumat (21\/08\/2026), tim gabungan memusatkan penanganan di kawasan Karang Anyar dan Kumpai Batu Bawah setelah api dilaporkan bergerak mendekati lingkungan tempat tinggal masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kepala Bidang (Kabid) Operasi Satuan Tugas (Satgas) Karhutla Kobar 2026 Dwi Agus Suhartono mengatakan kebakaran di Karang Anyar telah berlangsung sejak malam sebelumnya sehingga petugas harus mempercepat upaya pemadaman untuk melindungi permukiman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Untuk tim saat ini terkonsentrasi ke kawasan Karang Anyar dan Kumpai Batu Bawah. Kedua wilayah tersebut menjadi perhatian karena api dilaporkan mulai mengarah ke lingkungan tempat tinggal masyarakat,&#8221; ujar Dwi, Jumat pagi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di Kumpai Batu Bawah, sejumlah titik api juga bergerak menuju permukiman. Personel kemudian dibagi untuk melakukan pemadaman sekaligus membangun pengamanan agar kobaran tidak mencapai rumah warga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain dua kawasan tersebut, Satgas Karhutla Kobar menerima laporan kemunculan titik api baru di wilayah Kubu pada Kamis siang. Titik kebakaran disebut berada ke arah kawasan pemancingan atau pemandian dan masih dalam penanganan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Pada Kamis kemarin kami mendapat kabar bahwa di daerah Kubu, arah pemancingan atau pemandian, terpantau juga ada titik api. Hingga hari ini masih kita atasi,&#8221; kata Dwi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Operasi pemadaman dan pemantauan terus dilakukan di Lamandau dan Kobar karena karakteristik lahan gambut yang kering memungkinkan api kembali menyala atau merambat ke lokasi lain. Pengamanan objek vital dan permukiman menjadi prioritas agar Karhutla tidak berkembang menjadi ancaman terhadap pasokan listrik maupun keselamatan masyarakat. []\n<p style=\"text-align: justify;\">Redaksi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Karhutla di Lamandau dan Kobar bergerak mendekati objek vital serta permukiman, memaksa ratusan personel gabungan dan helikopter dikerahkan untuk menahan penyebaran api di lahan gambut kering. LAMANDAU &#8211; Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Desa Kujan, Kecamatan Bulik, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah (Kalteng), mengancam Gardu Induk Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan permukiman warga setelah api &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":202371,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[19,2259,9360],"tags":[15524,10960,38015,52700,46836,49968,6051,22295,33896,26960,49967,20126,26961,52699,51706,8710,6001,29249,52701,26000,20353,879,52702],"class_list":["post-202367","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-hotnews","category-kalimantan-tengah","category-lamandau","tag-bpbd-lamandau","tag-desa-kujan","tag-dwi-agus-suhartono","tag-gardu-induk-pln-kujan","tag-helikopter-pemadam","tag-hendikel","tag-kalimantan-tengah","tag-karang-anyar","tag-karhutla-kalteng","tag-karhutla-kobar","tag-karhutla-lamandau","tag-kebakaran-hutan-dan-lahan","tag-kebakaran-lahan-gambut","tag-kebakaran-lahan-lamandau","tag-kecamatan-bulik","tag-kobar","tag-kotawaringin-barat","tag-kubu","tag-kumpai-batu-bawah","tag-pemadaman-karhutla","tag-permukiman-warga","tag-pln","tag-satgas-karhutla-kobar"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/202367","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=202367"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/202367\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":202381,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/202367\/revisions\/202381"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/202371"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=202367"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=202367"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=202367"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}