{"id":202612,"date":"2026-08-23T21:54:45","date_gmt":"2026-08-23T13:54:45","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=202612"},"modified":"2026-08-23T21:54:45","modified_gmt":"2026-08-23T13:54:45","slug":"kabut-asap-pekat-udara-pekanbaru-masuk-kategori-sangat-tidak-sehat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/kabut-asap-pekat-udara-pekanbaru-masuk-kategori-sangat-tidak-sehat\/","title":{"rendered":"Kabut Asap Pekat, Udara Pekanbaru Masuk Kategori Sangat Tidak Sehat"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><em>Kualitas udara Pekanbaru memburuk hingga kategori sangat tidak sehat saat BMKG mendeteksi 306 titik panas di Riau, dengan 161 titik terkonsentrasi di Kabupaten Pelalawan.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>RIAU <\/b>&#8211; Kualitas udara Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, memburuk hingga kategori sangat tidak sehat akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Minggu (23\/08\/2026). Pada saat bersamaan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi 306 titik panas tersebar di sejumlah wilayah Riau, dengan konsentrasi tertinggi berada di Kabupaten Pelalawan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berdasarkan pemantauan BMKG Stasiun Pekanbaru, konsentrasi partikulat halus berdiameter 2,5 mikrometer (PM2.5) di Pekanbaru mencapai 170 mikrogram per meter kubik pada pukul 17.00 dan 18.00 Waktu Indonesia Barat (WIB). Kondisi tersebut membuat kualitas udara masuk kategori sangat tidak sehat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sepanjang Minggu, kualitas udara Pekanbaru lebih banyak berada pada kategori tidak sehat. Kondisi udara hanya tercatat baik pada pukul 04.00-06.00 WIB dan 11.00-13.00 WIB.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kabut asap juga menyebabkan jarak pandang di Pekanbaru turun menjadi sekitar 2,5 kilometer pada pukul 16.00 WIB. Prakirawan BMKG Stasiun Pekanbaru Yudhistira menyebut kondisi serupa terpantau di sejumlah wilayah lain di Riau.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Pembaruan jarak pandang pukul 16.00 WIB Pekanbaru 2,5 km (asap), Rengat 5 km (asap), Pelalawan 6 km, dan Tambang 9 km,&#8221; katanya di Pekanbaru, sebagaimana diberitakan Cnn Indonesia, Minggu, (23\/08\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain kualitas udara yang memburuk, BMKG mencatat sebaran titik panas di Pulau Sumatera masih tinggi. Pada Minggu sore, sebanyak 1.754 titik panas terdeteksi di berbagai provinsi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 973 titik, disusul Riau sebanyak 306 titik. Selanjutnya, titik panas terdeteksi di Jambi sebanyak 198 titik, Lampung 119 titik, Kepulauan Bangka Belitung 87 titik, Kepulauan Riau 36 titik, Sumatera Utara 16 titik, Sumatera Barat 10 titik, Aceh lima titik, dan Bengkulu empat titik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Di Riau, titik panas paling banyak terdeteksi di Kabupaten Pelalawan dengan 161 titik, disusul Kabupaten Indragiri Hilir sebanyak 101 titik. Sebaran lainnya terdapat di Kabupaten Siak sebanyak 20 titik, Rokan Hulu lima titik, Indragiri Hulu lima titik, Kuantan Singingi empat titik, Rokan Hilir empat titik, serta Kota Dumai satu titik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tingginya jumlah titik panas bersamaan dengan memburuknya kualitas udara menunjukkan karhutla masih menjadi ancaman serius bagi sejumlah wilayah di Riau. Pemantauan kondisi udara dan perkembangan titik panas diperlukan untuk mengantisipasi meluasnya dampak kabut asap terhadap aktivitas masyarakat. []\n<p style=\"text-align: justify;\">Redaksi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kualitas udara Pekanbaru memburuk hingga kategori sangat tidak sehat saat BMKG mendeteksi 306 titik panas di Riau, dengan 161 titik terkonsentrasi di Kabupaten Pelalawan. RIAU &#8211; Kualitas udara Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, memburuk hingga kategori sangat tidak sehat akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Minggu (23\/08\/2026). Pada saat bersamaan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":202619,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[19,9345,35],"tags":[828,53061,53064,53066,53068,53057,53067,53058,53069,20126,53059,53070,5421,53065,53060,5056,53063,47817,53062],"class_list":["post-202612","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-hotnews","category-kepulauan-riau","category-berita-nasional","tag-bmkg","tag-bmkg-stasiun-pekanbaru","tag-hotspot-riau","tag-indragiri-hilir","tag-jarak-pandang-pekanbaru","tag-kabut-asap-pekanbaru","tag-kabut-asap-riau","tag-karhutla-riau","tag-karhutla-sumatera","tag-kebakaran-hutan-dan-lahan","tag-kualitas-udara-pekanbaru","tag-kualitas-udara-riau","tag-pekanbaru","tag-pelalawan","tag-pm2-5-pekanbaru","tag-riau","tag-titik-panas-riau","tag-udara-sangat-tidak-sehat","tag-yudhistira"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/202612","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=202612"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/202612\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":202620,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/202612\/revisions\/202620"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/202619"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=202612"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=202612"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=202612"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}