{"id":203920,"date":"2026-08-29T20:47:49","date_gmt":"2026-08-29T12:47:49","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=203920"},"modified":"2026-08-29T20:47:49","modified_gmt":"2026-08-29T12:47:49","slug":"sekolah-informal-rohingya-digerebek-anak-anak-belajar-dalam-ketakutan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/sekolah-informal-rohingya-digerebek-anak-anak-belajar-dalam-ketakutan\/","title":{"rendered":"Sekolah Informal Rohingya Digerebek, Anak-anak Belajar dalam Ketakutan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><em>Penertiban dan meningkatnya sentimen negatif terhadap komunitas Rohingya membuat sejumlah sekolah informal terpaksa membatasi kegiatan hingga menghentikan pembelajaran.<\/em><\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\"><strong>KUALA LUMPUR &#8211;<\/strong> Akses pendidikan anak-anak pengungsi Rohingya di Malaysia semakin terancam setelah sejumlah sekolah informal yang dikelola komunitas mereka menghadapi penggerebekan, pembatasan kegiatan, hingga penutupan. Kondisi itu membuat anak-anak Rohingya harus belajar dalam situasi penuh ketidakpastian dan ketakutan.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Sekolah informal menjadi pilihan bagi anak-anak Rohingya karena mereka tidak diperbolehkan mengikuti pendidikan di sekolah negeri Malaysia. Pusat-pusat pendidikan tersebut umumnya dikelola komunitas atau organisasi dan tidak memiliki izin resmi.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Di wilayah utara Malaysia, sekolah yang didirikan Irhan, seorang pengungsi Rohingya, bahkan digerebek pada bulan lalu. Delapan polisi berseragam masuk ke sekolah, memotret para siswa, dan memerintahkan sebagian dari mereka untuk pulang. Irhan sendiri merupakan nama samaran untuk melindungi identitasnya.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">&#8220;Pergi ke sekolah sekarang sudah menjadi sesuatu yang berbahaya,&#8221; kata Irhan, sebagaimana diberitakan Detikcom, Sabtu (29\/08\/2026).<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Menurut Irhan, penertiban tersebut turut meningkatkan kekhawatiran keluarga para siswa. Anak-anak yang datang ke sekolah disebut hanya ingin memperoleh pendidikan, tetapi kini aktivitas belajar mereka berlangsung di tengah rasa takut.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">&#8220;Anak-anak ini hanya datang untuk belajar. Sekarang keluarga mereka ketakutan,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Situasi serupa terjadi di sebuah sekolah di Selangor. Kegiatan belajar di sekolah tersebut sempat dihentikan selama sebulan sebelum kembali dibuka pada akhir Juli dengan aturan yang lebih ketat.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Para siswa tidak diperbolehkan mengenakan seragam ketika datang belajar. Setelah pelajaran selesai, mereka diwajibkan langsung pulang dan dilarang berlama-lama atau berkumpul di sekitar sekolah.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">&#8220;Kami berusaha tidak terlalu mencolok demi melindungi para siswa agar tidak menjadi sasaran serangan,&#8221; cetus Farooq, seorang guru Rohingya.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Tekanan terhadap komunitas Rohingya juga muncul dalam bentuk pengusiran dari sejumlah wilayah yang telah mereka tempati selama bertahun-tahun. Di dekat Penang, sekitar 120 pengungsi Rohingya yang terusir dari sebuah desa nelayan kemudian mencari perlindungan di luar kantor badan pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Kuala Lumpur. Mereka selanjutnya ditahan sementara oleh pihak berwenang dan lebih dari separuhnya merupakan anak-anak.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Kondisi tersebut terjadi ketika sentimen negatif terhadap Rohingya di Malaysia kembali menguat. Media sosial menjadi salah satu pemicu, termasuk setelah beredarnya berbagai tuduhan terhadap komunitas Rohingya yang kemudian berkembang menjadi seruan untuk mengusir mereka dari Malaysia.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Padahal, Badan Pengungsi PBB memperkirakan lebih dari 126.000 warga Rohingya telah menetap di Malaysia. Jumlah tersebut menjadikan Malaysia sebagai negara dengan populasi pengungsi Rohingya terbesar kedua setelah Bangladesh.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Malaysia tidak secara resmi mengakui pencari suaka sehingga pengungsi tidak memiliki hak atas tempat tinggal, pekerjaan, maupun pendidikan. Kondisi itu membuat pusat pendidikan yang dikelola komunitas menjadi salah satu alternatif bagi anak-anak Rohingya untuk tetap belajar.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Tekanan tersebut juga menempatkan masa depan pendidikan anak-anak Rohingya dalam ketidakpastian. Irhan mengatakan dirinya kesulitan mencari pihak yang dapat membantu agar tempat belajar yang dikelolanya memperoleh status resmi.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">&#8220;Saya tidak tahu harus mencari bantuan ke mana atau siapa yang bisa membantu kami mendaftarkan tempat ini sebagai sekolah,&#8221; katanya.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">Ia berharap masyarakat Malaysia melihat persoalan tersebut dari kebutuhan anak-anak untuk memperoleh pendidikan, bukan semata-mata dari status mereka sebagai pengungsi.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\">&#8220;Saya berharap masyarakat Malaysia bisa memahami bahwa anak-anak ini hanya ingin mendapatkan kesempatan untuk belajar.&#8221; []\n<p>Redaksi1<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penertiban dan meningkatnya sentimen negatif terhadap komunitas Rohingya membuat sejumlah sekolah informal terpaksa membatasi kegiatan hingga menghentikan pembelajaran. KUALA LUMPUR &#8211; Akses pendidikan anak-anak pengungsi Rohingya di Malaysia semakin terancam setelah sejumlah sekolah informal yang dikelola komunitas mereka menghadapi penggerebekan, pembatasan kegiatan, hingga penutupan. Kondisi itu membuat anak-anak Rohingya harus belajar dalam situasi penuh ketidakpastian &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":92,"featured_media":203921,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[19,2254],"tags":[55198,36669,55208,18950,55205,55204,8474,245,54327,55202,55207,55199,21722,3525,3526,55201,55200,55203,55206],"class_list":["post-203920","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-hotnews","category-berita-internasional","tag-anak-rohingya","tag-anwar-ibrahim","tag-bbc-indonesia","tag-detikcom","tag-farooq","tag-irhan","tag-kuala-lumpur","tag-malaysia","tag-najib-razak","tag-penang","tag-pendidikan-anak-pengungsi","tag-pendidikan-rohingya","tag-pengungsi-malaysia","tag-pengungsi-rohingya","tag-rohingya","tag-sekolah-informal","tag-sekolah-rohingya","tag-selangor","tag-sentimen-anti-rohingya"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/203920","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/92"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=203920"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/203920\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":203922,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/203920\/revisions\/203922"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/203921"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=203920"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=203920"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=203920"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}