{"id":203956,"date":"2026-08-30T20:45:54","date_gmt":"2026-08-30T12:45:54","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=203956"},"modified":"2026-08-30T20:45:54","modified_gmt":"2026-08-30T12:45:54","slug":"1-190-telur-penyu-asal-kepri-disita-di-sambas-dan-dimusnahkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/1-190-telur-penyu-asal-kepri-disita-di-sambas-dan-dimusnahkan\/","title":{"rendered":"1.190 Telur Penyu Asal Kepri Disita di Sambas dan Dimusnahkan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><em>Sebanyak 1.190 telur penyu ilegal hasil sitaan di Pelabuhan Penumpang Sintete dimusnahkan setelah pemeriksaan laboratorium memastikan seluruhnya rusak dan tidak dapat berkembang.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>PONTIANAK <\/strong>&#8211; Upaya menekan perdagangan satwa laut dilindungi kembali dilakukan setelah Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak memusnahkan 1.190 butir telur penyu ilegal hasil sitaan dari Pelabuhan Penumpang Sintete, Kabupaten Sambas (Sambas), Kalimantan Barat (Kalbar), Sabtu (29\/08\/2026). Seluruh telur tersebut dinyatakan tidak dapat berkembang berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pemusnahan dilakukan secara terbuka di Kantor Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak dengan cara menghancurkan telur sebelum menguburnya. Ketua Tim Kerja Pengelolaan Konservasi Spesies dan Genetik Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak Deden Sholihin mengatakan, kondisi telur tidak memungkinkan untuk diselamatkan melalui proses penetasan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cTelur penyu tersebut tidak dapat ditetaskan dan tidak dapat dibuahi. Untuk telur yang infertil, kami melakukan pemusnahan dengan cara menghancurkan kemudian menguburnya,\u201d kata Deden.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kasus tersebut, sebagaimana diberitakan Faktakalbar, Sabtu, (29\/08\/2026), bermula ketika petugas Badan Karantina Kalimantan Barat menemukan ribuan telur penyu tanpa izin di atas sebuah kapal yang berlabuh di Pelabuhan Penumpang Sintete. Pemilik barang diduga meninggalkan muatannya ketika pemeriksaan berlangsung di kawasan pelabuhan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Berdasarkan hasil penelusuran, telur-telur tersebut berasal dari Kepulauan Riau (Kepri). Hasil pengujian laboratorium kemudian menunjukkan seluruh telur telah rusak sehingga tidak dapat berkembang ataupun ditetaskan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Deden menegaskan seluruh spesies penyu merupakan satwa yang dilindungi sehingga perburuan dan perdagangan penyu maupun bagian atau turunannya dilarang. Penanganan barang bukti tersebut melibatkan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), Badan Karantina Kalimantan Barat, serta Dinas Perikanan Provinsi Kalbar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKarena itu, apabila ditemukan adanya pelanggaran dan ditangani oleh aparat penegak hukum, dapat dikenakan sanksi pidana,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pemusnahan barang bukti tersebut menjadi bagian dari tindak lanjut penegakan aturan perlindungan sumber daya kelautan yang dalam penanganan kasus ini mengacu pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Pengelolaan Kelautan. Langkah lintas lembaga itu diharapkan dapat mempersempit ruang perdagangan dan penyelundupan penyu serta turunannya, terutama melalui jalur pelabuhan dan kawasan pesisir Kalbar. []\n<p style=\"text-align: justify;\">Redaksi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebanyak 1.190 telur penyu ilegal hasil sitaan di Pelabuhan Penumpang Sintete dimusnahkan setelah pemeriksaan laboratorium memastikan seluruhnya rusak dan tidak dapat berkembang. PONTIANAK &#8211; Upaya menekan perdagangan satwa laut dilindungi kembali dilakukan setelah Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak memusnahkan 1.190 butir telur penyu ilegal hasil sitaan dari Pelabuhan Penumpang Sintete, Kabupaten Sambas (Sambas), Kalimantan Barat (Kalbar), &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":203958,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[19,2273,36],"tags":[55277,55281,43724,55279,55282,183,45733,9807,34223,55278,55284,28458,55275,55276,28464,329,55280,2632,55283,11802],"class_list":["post-203956","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-hotnews","category-kalimantan-barat-kalbar","category-kota-pontianak-provinsi-kalimantan-barat-kalbar","tag-1-190-telur-penyu","tag-badan-karantina-kalimantan-barat","tag-balai-pengelolaan-kelautan-pontianak","tag-deden-sholihin","tag-dinas-perikanan-kalbar","tag-kalbar","tag-kepri","tag-kepulauan-riau","tag-konservasi-penyu","tag-pelabuhan-sintete","tag-pemusnahan-telur-penyu","tag-penyelundupan-telur-penyu","tag-penyu-dilindungi","tag-perdagangan-penyu","tag-perdagangan-satwa-dilindungi","tag-pontianak","tag-psdkp","tag-sambas","tag-satwa-laut-dilindungi","tag-telur-penyu"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/203956","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=203956"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/203956\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":203960,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/203956\/revisions\/203960"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/203958"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=203956"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=203956"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=203956"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}