{"id":203977,"date":"2026-08-30T21:09:44","date_gmt":"2026-08-30T13:09:44","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=203977"},"modified":"2026-08-30T21:25:53","modified_gmt":"2026-08-30T13:25:53","slug":"karhutla-kotim-ancam-ekosistem-puluhan-satwa-liar-ditemukan-mati","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/karhutla-kotim-ancam-ekosistem-puluhan-satwa-liar-ditemukan-mati\/","title":{"rendered":"Karhutla Kotim Ancam Ekosistem, Puluhan Satwa Liar Ditemukan Mati"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><em>Sedikitnya 26 satwa liar ditemukan mati di kawasan terdampak karhutla Kotim, sementara BKSDA mengingatkan bahwa hilangnya habitat, sumber makanan, dan tempat berlindung turut memperluas kerugian ekologis.<\/em><b><\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><strong>KOTAWARINGIN TIMUR<\/strong> &#8211; Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng), meluas menjadi ancaman terhadap ekosistem setelah sedikitnya 26 satwa liar ditemukan mati dalam penelusuran selama sekitar dua pekan. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) menilai kerugian ekologis tidak hanya terlihat dari satwa yang tewas, tetapi juga dari hilangnya habitat, sumber makanan, dan tempat berlindung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Temuan 26 satwa tersebut dihimpun pencinta reptil di Sampit, Hary Siswanto, dari sejumlah kawasan terdampak karhutla. Satwa yang ditemukan mati terdiri atas 20 ekor sanca reticulatus, satu ekor king cobra, tiga ekor dipong, satu ekor biawak, dan satu ekor ular air.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Total yang kami temukan selama dua pekan ini ada 20 jenis sanca reticulatus, satu ekor king cobra, tiga ekor dipong, satu ekor biawak, dan satu ekor ular air. Semuanya sudah dalam kondisi mati,&#8221; kata Hary.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">BKSDA juga menerima sejumlah laporan mengenai kematian satwa akibat kebakaran. Komandan Resort BKSDA Sampit Muriansyah, sebagaimana dilansir Kalamanthana, Sabtu, (29\/08\/2026), mengatakan petugas telah melakukan pengecekan di beberapa kawasan yang terbakar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSetelah dilakukan pengecekan di beberapa lokasi yang terbakar, memang ditemukan sejumlah satwa dalam kondisi mati,\u201d kata Muriansyah kepada wartawan di Sampit, Sabtu 29 Agustus 2026.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Satwa yang ditemukan didominasi reptil, antara lain sanca batik atau sanca kembang (Malayopython reticulatus), sanca depung (Python breitensteini), kobra, hingga king cobra. Satwa-satwa tersebut sebelumnya hidup di semak, pepohonan, serta kawasan sekitar lahan gambut yang dilalui api.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cUlar menjadi salah satu satwa yang cukup sering ditemukan setelah kebakaran. Ada sanca batik, sanca depung, kobra dan king cobra,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jumlah satwa yang mati akibat karhutla belum dapat dipastikan secara menyeluruh. Kondisi kawasan pascakebakaran menyulitkan pendataan karena bangkai satwa dapat berada di antara vegetasi yang hangus maupun di lokasi yang sulit dijangkau petugas.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Karhutla juga menempatkan satwa dengan kemampuan mobilitas terbatas pada risiko lebih besar. Anak burung yang masih berada di sarang, misalnya, memiliki kemampuan terbatas untuk meninggalkan kawasan ketika api bergerak melintasi vegetasi. Sementara satwa yang berhasil menyelamatkan diri tetap menghadapi berkurangnya ruang hidup setelah pepohonan dan semak terbakar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut BKSDA, kondisi tersebut membuat dampak karhutla terhadap satwa tidak dapat dihitung hanya berdasarkan jumlah bangkai yang ditemukan di lapangan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Korban bukan hanya yang ditemukan mati. Satwa yang kehilangan habitat juga menjadi korban karhutla. Tempat mereka mencari makan dan berlindung bisa hilang akibat kebakaran,&#8221; katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hary mengaku temuan puluhan satwa mati menjadi salah satu dampak paling memprihatinkan dari rangkaian karhutla di Kotim. Ia berharap jumlah satwa liar yang menjadi korban tidak terus bertambah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Saya merasa sedih dengan maraknya kebakaran hutan dan lahan ini. Satwa liar juga menjadi korban. Harapannya, satwa liar yang menjadi korban tidak terus bertambah,&#8221; ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia menilai keberadaan satwa liar memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan sehingga kematian satwa dan rusaknya habitat akibat karhutla dapat menjadi persoalan ekologis yang perlu mendapat perhatian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">&#8220;Bagaimanapun, satwa liar ini merupakan penyeimbang ekosistem,&#8221; katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Temuan tersebut menunjukkan dampak karhutla di Kotim tidak berhenti pada asap dan lahan yang menghitam. Ketika vegetasi terbakar, satwa dapat kehilangan ruang hidup, tempat berlindung, dan sumber makanan, sedangkan satwa yang tidak mampu menghindari kobaran api berisiko mati. Pemulihan kawasan terdampak karena itu menjadi penting agar tekanan terhadap kehidupan liar dan keseimbangan ekosistem tidak semakin meluas. []\n<p style=\"text-align: justify;\">Redaksi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sedikitnya 26 satwa liar ditemukan mati di kawasan terdampak karhutla Kotim, sementara BKSDA mengingatkan bahwa hilangnya habitat, sumber makanan, dan tempat berlindung turut memperluas kerugian ekologis. KOTAWARINGIN TIMUR &#8211; Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng), meluas menjadi ancaman terhadap ekosistem setelah sedikitnya 26 satwa liar ditemukan mati &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":70,"featured_media":203982,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[17,2259,2266],"tags":[55305,54933,54766,54935,55300,6051,4418,46593,15661,20126,26961,48619,39717,15981,8824,4158,27763,16775,8859,55302,55304,55303,5595,55301],"class_list":["post-203977","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-headlines","category-kalimantan-tengah","category-kabupaten-kotawaringin-timur-provinsi-kalimantan-tengah","tag-biawak","tag-bksda-sampit","tag-dampak-karhutla","tag-habitat-satwa","tag-hary-siswanto","tag-kalimantan-tengah","tag-kalteng","tag-karhutla-kotawaringin-timur","tag-karhutla-kotim","tag-kebakaran-hutan-dan-lahan","tag-kebakaran-lahan-gambut","tag-kerusakan-ekosistem","tag-king-cobra","tag-konservasi-satwa","tag-kotawaringin-timur","tag-kotim","tag-muriansyah","tag-reptil","tag-sampit","tag-sanca-batik","tag-sanca-depung","tag-sanca-kembang","tag-satwa-liar","tag-satwa-mati-akibat-karhutla"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/203977","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/70"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=203977"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/203977\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":203994,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/203977\/revisions\/203994"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/203982"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=203977"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=203977"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=203977"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}