{"id":205087,"date":"2026-09-07T08:49:21","date_gmt":"2026-09-07T00:49:21","guid":{"rendered":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/?p=205087"},"modified":"2026-09-07T08:50:09","modified_gmt":"2026-09-07T00:50:09","slug":"india-masuk-era-baru-keluarga-tak-lagi-ingin-banyak-anak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/india-masuk-era-baru-keluarga-tak-lagi-ingin-banyak-anak\/","title":{"rendered":"India Masuk Era Baru, Keluarga Tak Lagi Ingin Banyak Anak"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><em>Penurunan angka kematian bayi, meningkatnya akses pendidikan dan alat kontrasepsi, serta mahalnya biaya membesarkan anak menjadi faktor yang mendorong turunnya angka kelahiran di India.<\/em><\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\"><strong>NEW DELHI &#8211;<\/strong> Penurunan angka kematian bayi menjadi salah satu faktor yang ikut mengubah pola keluarga di India. Bersamaan dengan meningkatnya akses pendidikan dan alat kontrasepsi serta mahalnya biaya membesarkan anak, kondisi tersebut mendorong angka kelahiran di negara dengan populasi terbesar di dunia itu terus menurun.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">India pada 2026 diperkirakan memiliki populasi sekitar 1,47 hingga 1,48 miliar jiwa. Namun, data Sample Registration System (SRS) menunjukkan tingkat kelahiran di negara tersebut mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir, yang dalam jangka panjang dapat mengubah komposisi penduduk menjadi semakin banyak dihuni kelompok lanjut usia.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">Ekonom pembangunan yang bergerak di bidang kebijakan sosial di India, Dipa Sinha, mengatakan penurunan angka kesuburan berkaitan dengan semakin besarnya akses perempuan terhadap pendidikan, alat kontrasepsi, dan pengambilan keputusan dalam rumah tangga.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;Angka kesuburan total sering kali menurun ketika lebih banyak perempuan dalam masyarakat memiliki akses ke pendidikan, alat kontrasepsi, dan lebih banyak peran dalam pengambilan keputusan di rumah tangga,&#8221; kata Dipa Sinha kepada Al Jazeera, sebagaimana diberitakan Cnn Indonesia, Senin, (07\/09\/2026).<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">Menurut Sinha, kondisi ekonomi juga memengaruhi keputusan keluarga untuk memiliki anak. Kenaikan biaya hidup membuat kebutuhan untuk membesarkan anak menjadi semakin mahal sehingga turut menekan angka kesuburan.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">&#8220;Angka tersebut juga menurun ketika perekonomian menjadi mahal sehingga membesarkan anak juga menjadi mahal.&#8221;<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">Selain faktor pendidikan dan ekonomi, Sinha menyebut turunnya angka kematian bayi turut memengaruhi keinginan keluarga untuk memiliki lebih banyak anak. Ketika peluang anak untuk bertahan hidup meningkat, dorongan untuk memiliki banyak anak sebagai bentuk antisipasi terhadap risiko kematian bayi juga dapat berkurang.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">Perubahan tersebut tercermin dari data SRS yang menunjukkan angka kematian bayi di India turun dari 30 kematian per 1.000 kelahiran hidup pada 2019 menjadi 24 kematian per 1.000 kelahiran hidup pada 2024.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">Perubahan demografi India berbanding terbalik dengan kekhawatiran pemerintah beberapa dekade lalu. Pada 1970-an, pemerintah dan pembuat kebijakan berupaya mengendalikan pertumbuhan penduduk karena menilai jumlah penduduk yang besar menjadi beban bagi sumber daya negara.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">Sejumlah kebijakan saat itu bahkan menuai kontroversi, termasuk program sterilisasi paksa yang dilakukan pada dekade tersebut. Pada 2019, Perdana Menteri India Narendra Modi masih memperingatkan mengenai potensi &#8220;ledakan populasi&#8221;.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">Namun, memasuki 2022, data Survei Kesehatan Keluarga Nasional menunjukkan tanda semakin jelas bahwa Angka Kesuburan Total (TFR) India menurun di berbagai kelompok masyarakat.<\/p>\n<p class=\"isSelectedEnd\" style=\"text-align: justify;\">Fenomena serupa juga terjadi di sejumlah negara Asia lainnya, termasuk China, Korea Selatan, dan Jepang. Tren tersebut menunjukkan perubahan struktur penduduk di kawasan Asia, ketika pertumbuhan populasi mulai menghadapi tekanan dari rendahnya angka kelahiran dan meningkatnya proporsi penduduk lanjut usia. []\n<p style=\"text-align: justify;\">Redaksi08<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penurunan angka kematian bayi, meningkatnya akses pendidikan dan alat kontrasepsi, serta mahalnya biaya membesarkan anak menjadi faktor yang mendorong turunnya angka kelahiran di India. NEW DELHI &#8211; Penurunan angka kematian bayi menjadi salah satu faktor yang ikut mengubah pola keluarga di India. Bersamaan dengan meningkatnya akses pendidikan dan alat kontrasepsi serta mahalnya biaya membesarkan anak, &hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":85,"featured_media":205088,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[19,2254],"tags":[57113,57103,46999,57107,57108,57114,57116,57106,57112,1655,19783,9786,21856,57115,57105,57104,57110,57111,57109],"class_list":["post-205087","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","","category-hotnews","category-berita-internasional","tag-alat-kontrasepsi","tag-angka-kelahiran-india","tag-angka-kematian-bayi","tag-angka-kesuburan","tag-angka-kesuburan-total","tag-biaya-membesarkan-anak","tag-demografi-asia","tag-demografi-india","tag-dipa-sinha","tag-india","tag-narendra-modi","tag-new-delhi","tag-pendidikan-perempuan","tag-penduduk-lanjut-usia","tag-penurunan-kelahiran","tag-populasi-india","tag-sample-registration-system","tag-srs","tag-tfr"],"aioseo_notices":[],"jetpack_publicize_connections":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/205087","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/users\/85"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=205087"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/205087\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":205090,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/205087\/revisions\/205090"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media\/205088"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=205087"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=205087"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/beritaborneo.com\/main\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=205087"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}